Sedang Membaca
Humor Gus Dur: Halusnya Pak Harto

Humor Gus Dur: Halusnya Pak Harto

Redaksi

Dalam satu kesempatan Gus Dur mengatakan bahwa mantan Presiden Soeharto itu orang yang “halus”. Maksudnya, cara Pak Harto berpolitik –caranya memperlakukan lawan-lawan politiknya– keras tapi tidak mencolok, tidak terlihat kejam.

Gus Dur menyebut contoh perlakukan Pak Harto terhadap dirinya sendiri. “Terus terang saja, pembangunan rumah saya di Ciganjur itu juga dibantu Pak Harto,” katanya, membuat hadirin menyimak makin serius. “Tapi, berbarengan pemberian bantuan itu, dia juga terus menekan saya dan NU.”

Para ilmuwan politik punya istilah baku untuk menyebut cara penguasa dalam memperlakukan lawan politiknya: “stick and carrot”. Lawan politik diibaratkan seperti kuda: bisa dipukul dengan stick (tongkat) dan diberi carrot (wortel).

Kalau si lawan bersikap keras menentang sang penguasa, maka dia bakal kebagian stick. Bentuknya bisa macam-macam, dari penangkapan dan pemenjaraan (dengan dalih hukum yang dicari-cari), sampai penutupan perusahaan-perusahaan milik si lawan. Sebagai contoh, orang-orang Petisi 50 sudah mengalami semua bentuk “tongkat” ini. Ada yang dipenjara bertahun-tahun seperti A.M. Fatwa, ada pula yang peluang-peluang bisnisnya dimatikan, seperti dialami Ali Sadikin.

Sebaliknya, kalau lawan melunak atau jadi patuh, dia akan diberi “wortel”. Ini pun bentuknya macam-macam, dari berupa hadiah langsung sampai pemberian konsesi-konsesi bisnis yang sudah pasti menguntungkan, selain juga jabatan politik.

Baca juga:  Cara Gus Dur Mempromosikan Kiai

Sekedar contoh, para aktivis mahasiswa Angkatan 66 tak sedikit yang panen “wortel”, dengan motif balas jasa atas peran mereka ikut menumbangkan Orde Lama, maupun untuk mencegah jangan sampai mereka terus berpolitik dalam barisan oposisi. Maka tak sedikit eksponen Angkatan 66 yang mendapat “jatah” di DPR, atau belakangan kemudian menjadi menteri. Bagi mereka yang “capek” berpolitik disediakan berbagai kemudahan untuk berbisnis.

Tapi, dengan perlakukan kepada Gus Dur seperti diceritakan tadi, berarti Pak Harto melangkah ke cara yang lebih cerdik lagi –dan ini rupanya belum diperhitungkan oleh para ilmuwan politik. Pak Harto memakai “stick and carrot” itu sekaligus pada satu orang, dan pada saat yang bersamaan.

Gus Dur diberi dana untuk membangun rumah, dan sering pula untuk aneka kegiatan NU, tapi pada saat yang sama dia ditekan, dan kegiatan NU yang diperkirakan akan membahayakan kekuasaan sangat dibatasi, terutama ketika NU akan mengadakan “rapat akbar” di Parkir Timur Senayan pada tahun 1992. Jadi, Gus Dur betul bahwa Pak Harto itu “halus”.

Baca Juga

Lah, tapi bukankah sebetulnya yang lebih “halus” Gus Dur sendiri?

Lihat, dia terima segala macam bantuan Pak Harto itu, tapi pada saat yang sama terus saja pelan-pelan mengikis hegemoni kekuasaan Soeharto dan Orde Barunya, dengan segala cara dan berbagai sepak terjang politiknya, baik melalui NU, Forum Demokrasi, maupun lobi-lobinya di luar negeri yang tak tercium oleh Cendana.

Baca juga:  Humor Gus Dur: Tengah Malam Tertawa di Rumah Kiai Sahal

(SumberGer-Geran Bersama Gus Dur, Penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan, Pustaka Alvabet, 2010)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top