Sedang Membaca
Gus Dur Mencemooh Dirinya Seperti Sengkuni
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Gus Dur Mencemooh Dirinya Seperti Sengkuni

Redaksi
  • Gus Dur ini paham betul dunia pewayangan. Detail sekali pemahamannya, dari karakter tokohnya hingga dia dapat "mereproduksinya" menjadi humor-humor politik yang segar. Dan humor-humor politik Gus Dur mengalir saat dirinya menjadi presiden, termasuk di dalamnya menertawakan dirinya sendiri.

Siapa tokoh idola Gus Dur? Di kalangan manusia betulan, salah satunya adalah Mahatma Gandhi, seperti sering ia kemukakan. Tapi ia juga punya tokoh idola dari dunia pewayangan, yaitu Kumbakarna. Mungkin karena ia merasa tokoh ini banyak kemiripan dengan dirinya.

Gus Dur mengungkapkan hal itu di Yogyakarta, di depan 26 gubernur seluruh Indonesia, ketika mencanangkan program “Pariwisata dan Kesenian Peduli Kepentingan Rakyat”.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Salah satu tokoh wayang yang paling saya senangi sebagi tokoh panutan ialah Kumbakarna, adik raja Alengka bernama Rahwana.”

Menurut Gus Dur, Kumbakarna itu “kerjanya tidur saja” dan tidak mau mengurusi masalah penculikan Dewi Shinta.

“Tapi, ketika Rama (suami Shinta) menyerbu Alengka, yang mempertahankan negeri ini adalah Kumbakarna, si tukang tidur itu. Dia mengenakan kain putih, lalu maju ke medan laga untuk mati di tangan kera-kera. Artinya apa? Walaupun kelihatannya tukang tidur, tetapi dia itu orang yang berani mendarmabaktikan diri untuk kepentingan negara.”

Gus Dur melanjutkan, “Makanya saya senang dengan contoh itu. Kalau bongso Arjuna, lha tampang saya jelek begini kok…”

Gus Dur juga merasa tidak cocok disejajarkan dengan Arjuna, sebab Arjuna itu “tukang nggoda perempuan…”

Namun, menurut Gus Dur, banyak orang yang menganggap tokoh panutannya bukan Kumbakarna, melainkan Sengkuni. Mungkin orang merasa dia banyak miripnya dengan Sengkuni.

Baca juga:  Di Bali, Jokowi Sebut Film, Gus Dur Sebut Kondisi Matanya

Apa ciri-ciri Sengkuni? Jawab Gus Dur, “Akalnya banyak, tukang nipu…”

(SumberGer-Geran Bersama Gus Dur, Penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan, Pustaka Alvabet, 2010)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top