Sedang Membaca
Empati Insani Madani Paramadina untuk Gereja Lidwina

Empati Insani Madani Paramadina untuk Gereja Lidwina

Redaksi
Empati Insani Madani Paramadina untuk Gereja Lidwina

Alimah Fauzan, perwakilan ikatan alumni pasca sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina (Insani Madani Paramadina Graduate School) Jakarta mengunjungi Romo Karl Edmund Preir, korban penyerangan terhadap jemaat gereja St. Lidwina, Sleman, di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta hari ini, Selasa  (13/2).

Didampingi Hermawi Taslim, Penasehat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Alimah diantar staf humas Rumah Sakit Panti Rapih ke ruang ICU. Saat ini kondisi Romo Prier semakin membaik dan akan segera dipindahkan ke kamar perawatan.

Bela rasa kami lakukan dengan kesadaran keterbatasan kami dalam menyikapi tindak kekerasan yang menimpa Romo Prier dan sejumlah saudara sebangsa se-Tanah Air. Kami berharap kejadian ini menjadi yang terakhir terjadi di Indonesia yang sejak awal ditakdirkan sebagai bangsa yang bhinneka.

Berbela rasa adalah ujud empati sesama manusia. Berbela rasa tidak menuntut untuk bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang menimpa orang lain. Berbela rasa hanya menuntut kita menggunakan telinga kita untuk mendengarkan. Sikap dan tindakan intoleransi marak terjadi karena ketidakmampuan kita berbela rasa.

Dalam kesempatan tersebut, Alimah menyerahkan bingkisan beserta secarik pesan yang memberikan semangat bagi karya Romo Prier dengan mengutip kata-kata pendiri Universitas Paramadina, Nurcholish Madjid:

Baca Juga

Baca juga:  Abah Rosyid, Penganjur Toleransi dari Maumere

“Pangkal keteguhan hidup adalah sikap percaya kepada Allah dan baik sangka, harapan dan positif kepada-Nya.” (red/Algooth Putranto)

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top