Sedang Membaca
Kiai Wahid Hasyim Sudah Ingatkan Inflasi Ulama
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kiai Wahid Hasyim Sudah Ingatkan Inflasi Ulama

Syakir NF

Saat ini, banyak orang yang melabelkan dirinya sebagai ustad. Padahal, keilmuan dan lakunya belum bisa mencerminkan dirinya sebagai seseorang yang patut dipanggil dengan sebutan itu. Terlebih, mereka juga menggolongkan dirinya menjadi bagian dari ‘ulama’ dan ‘Pemimpin Islam’.

Hanya bermodal Alquran dan hadis terjemah, seseorang dengan mudahnya berceramah. Gaya bicara yang meyakinkan membuat orang melihatnya sebagai orang yang paham betul. Sebagian dari mereka, ada yang mengaku bahwa jangankan menerjemahkan atau menafsiri Alquran, membaca kitab berbahasa Arab tanpa harokat saja belum mampu. Hal ini juga sudah terjadi pada era ’50-an.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Karena hal tersebut, KH Abdul Wahid Hasyim, seperti yang dikutip oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren, mengatakan bahwa sebutan ulama mengalami inflasi. Ayahanda Gus Dur itu menyampaikan hal tersebut saat Konferensi Da’wah yang digelar di Kota Magelang, 29 September sampai 1 Oktober 1951.

Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama ‘palsu’ yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu. Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya, bahkan membatasi ruang geraknya.

Baca juga:  Arab Kristen di Timur Tengah

Padahal, putra Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari itu bercerita bahwa bangsa asing tahu betul kedudukan ulama, namun sayangnya mereka salah memperlakukannya. Tetapi yang lebih parah dari itu, bangsa sendiri, khususnya golongan yang menamakan dirinya ‘Pemimpin Islam’ itu, kata Kiai Wahid, tidak menyadari posisi ulama di tengah masyarakat. Mereka, bangsa sendiri, menjadikan ulama sebagai pijakan untuk mencapai popularitas dan posisi politik, serta merebut pengaruh.

Tak jauh berbeda dengan tahun ’50-an, era reformasi saat ini rasanya semakin banyak orang yang demikian. Tak sedikit dari mereka juga melabelkan dirinya dengan sebutan ustad, kiai, hingga ulama. Kita tahu, bahwa definisi ulama sudah digariskan langsung oleh Allah swt., yaitu mereka yang takut kepada Allah. Imam Ibnu ‘Asyur lebih rinci menjelaskan dalam kitab tafsirnya al-Taqrib li Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, bahwa ulama adalah orang yang betul-betul memahami kedudukan syariat, mengaturnya sesuai dengan posisinya, mengetahui baik buruk akibatnya, dan melakukan serta menaruh amal-amal yang dikehendaki oleh Allah swt, juga sesuai dengan tujuan syariat. Nabi Muhammad juga memberi batasan lagi guna mempersempit definisi ulama, yakni pewaris para Nabi. Tentu saja pewaris atas keilmuan dan perilakunya.

Oleh karena itu, di hadapan para dai Nahdlatul Ulama, Ketua Muda PBNU yang juga menjabat sebagai Menteri Agama itu menyampaikan bahwa para mubalig NU bertugas untuk mengembalikan kedudukan ulama seperti semula sebagai pemimpin umat dan waratsatul anbiya, pewaris para Nabi. Ulama jangan hanya diperalat untuk memuluskan jalan kepentingan mereka pribadi seperti yang tersebut di atas.

Baca juga:  Ibnu Arabi Ngaji kepada Perempuan

Sebagai seorang yang benar-benar ulama, Kiai Wahid sangat tawadlu. Dipanggil dengan sebutan kiai oleh ketua sidang, ia merasa malu dan segan. “Panggil sajalah nama saya dengan sebutan ‘saudara’!” pintanya.

Hal itu ditanggapi oleh anggota PBNU Bagian Da’wah Nuryahman yang memimpin sidang tersebut. Ia menyebut peribahasa asing, pohon dikenal sebab buahnya, sementara bintang dikenal karena cahayanya. Ia menambahkan, “Kiai Abdulwahid Hasyim with or without kiai is known by his personality, Kiai Abdul Wahid Hasyim dengan atau tanpa sebutan kiai dikenal karena pribadinya…!”

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top