Sedang Membaca
40 Hari Mbah Moen: Doa Rupa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

40 Hari Mbah Moen: Doa Rupa

Redaksi

Masih dalam rangka “Bulan Syiar Muharam” dengan tema “Bangkitnya Sura Kami”. Setelah menggelar acara “Parade Shalawat dan Pembacaan Puisi Cinta” serta pembukaan pameran Seni Rupa dengan tema “Lir-ilir” pada tanggal 7 September 2019 kemarin.

Kali ini Pondok Pesantren Budaya Kaliopak dan Lesbumi PWNU Yogyakarta, bekerjasama dengan Kanwil Kemenag Provinsi Yogyakarta, para Seniman, Budayawan, dan Komunitas Seni, menggelar acara “Peringatan 40 Hari KH. Maimoen Zubair”.

Acara ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak yang beralamat di Jalan Wonosari km 11 Dusun Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul pada hari Senin malam tanggal 23 September 2019.

Selain kenduri berupa pembacaan doa dan tahlil, dalam rangkaian acara ini juga diadakan sarasehan dengan mengusung tema “Islam Berkebudayaan sebagai Akar Peradaban Bangsa” dan soft launching buku karya pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Kiai M. Jadul Maula, yang berjudul “Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan”.

Sarasehan tersebut menghadirkan KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen (putra KH. Maimoen Zubair), Kiai Jadul Maula, Amirul Ulum (Penulis Manakib KH. Maemun Zubair) dan Ahmad Rafiq, Ph.D (dosen UIN Sunan Kalijaga) sebagai pemateri, dan M. Yasser Arafat yang bertindak sebagai moderator.

Acara ini juga dimeriahkan oleh para seniman dan komunitas seni yang berkarya on the spot untuk merekam suasana Peringatan 40 Hari KH. Maimoen Zubair di atas kanvas maupun kertas dan medium lainnya, seperti patung, yang rencananya akan dipamerkan saat peringatan 100 hari KH. Maimoen Zubair pada waktu mendatang.

Baca juga:  Ulil Abshar Abdalla dan Saya

Juga ada performance art dari dua pelukis kondang, Nasirun dan Jumaldi Alfi, yang berkolaborasi dalam satu kanvas, serta penampilan Shadow Batik karya Rohmat, Pembacaan Puisi dan Pembacaan Kidung Rumeksa ing Wengi karya Sunan Kalijaga. Rangkaian acara ini dipungkasi dengan doa bersama dengan membaca Syair Shalawat Kaliopak.

Baca Juga

Semangat yang diusung dalam acara ini terkait dengan ketokohan KH. Maimoen Zubair yang dikenal sebagai kiai pesantren yang menguasai khasanah ilmu agama yang luas serta memiliki komitmen yang tinggi terhadap keutuhan dan kedaulatan negara dan bangsa Indonesia. Hal itu dibuktikan dalam perjuangan dan pemikiran beliau sejak masa kolonial hingga sebelum ajal.

Sebagai pribadi yang lahir dari tradisi pesantren, KH. Maimoen Zubair merupakan cerminan yang utuh bagaimana kaum santri atau ilmu pesantren mamahami religiositas dalam kaitannya dengan nasionalisme, yaitu kesetiaan pada Pancasila, Undang-Undang Dasar 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dipahami sebagai satu kesatuan yang manunggal dalam diri kaum santri.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini, ditengah munculnya paham-paham ekstrim yang ingin memisahkan antara Islam dengan keindonesiaan, yang berpotensi melemahkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia, pandangan kebangsaan pesantren seperti itu perlu untuk terus dikampanyekan. Mengingat dalam fakta sejarah, akar nasionalisme Indonesia antaralain lahir dari rahim pesatantren/tradisi Islam Nusantara.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top