Sedang Membaca
Semerbak Aroma Sufi Syattariyah di Keraton Surakarta
Raha Bistara
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam .

Semerbak Aroma Sufi Syattariyah di Keraton Surakarta

Sabilus Salikin (15): Suluk 2

Semua lapisan masyarakat yang ada di Jawa pada saat itu merasakan semerbak aroma kekalahan yang menimpa bangsawan Jawa dan para ulama dalam melawan kaum kolonial pada saat Perang Jawa (1825-1830 M). Banyak dari kalangan bangsawan Keraton Surakarta dan Yogyakarta di tangkap dan di buang ke Aceh karena terindikasi bersekutu untuk melawan kaum kolonial. Salah satunya keluarga Pujangga Keraton Surakarta, sebut saja R. Ng Ronggosasmita.

Pembuangannya ke negeri serbang dimanfaatkan oleh R. Ng Ronggosamita dalam menggubah tembang Jawa Klasik yang ia sebut sebagai ajaran-ajaran “rahasia” (wadi) dan “terlarang” (linarangan) yang berasal dari para guru sufinya. Hasil karyanya dikenal sebagai  Suluk Acih (Kidung Aceh). Suluk dalam bahasa Arab dikonotasikan untuk menunjuk suatu perjalanan di jalur mistik, dalam tradisi Jawa Suluk berati sebuah genre puisi. Puisi tembang yang menjelajahi hubungan antara Tuhan dengan mahluknya, khususnya relasi antara Tuhan dengan manusia pada umumnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Suluk Acih terdiri dari 17 puisi mistik, yang kemudian baru tersebar luas dalam masyarakat Jawa pad abad ke-19 dan tahun-tahun berikutnya. Suluk Acih secara keseluruhan berisi mengenai susunan ilahi tubuh manusia, perkembangan manusia, hubungan antara Tuhan dan manusia, serta olah disiplin mencapai kesempurnaan manusia. Dalam suluk ini juga mengungkapakan ajaran rahasia termaksud ajaran tarekat Syattariyah.

Tarekat Syattariyah di bawa ke dunia Melayu oleh salah satu leluhur spiritual R, Ng Ronggosamita, yakni  Abd al-Ra’uf Singkel (1620-1693 M) yang silsilah keluarganya berasal dari Aceh. Ciri paling menonjol dari ajaran-ajarannya menunjukkan apa yang disebut sebagai neo-sufisme yakni ajaran tasawuf harus berjalan seiring dengan syariat. Hanya dengan kepatuhan pada syariat para penganut jalan mistik dapat memperoleh pengalaman haqiqah (realitas) sejati (Azumardi Azra, 2013:264)

Baca juga:  Ngaji Rumi: Kisah Bayazid Bastami yang Tak Jadi Haji

Banyak muridnya yang meneruskan ajaran yang dibawa oleh Abd al-Ra’uf Singkel dengan corak neo-sufisme. Di antara murid Abd al-Ra’uf Singkel adalah Syech Haji Abdul Muhyi (w. 1715), seorang sarjana muslim Jawa dari kerajaan Mataram Jawa Tengah yang dalam suatu waktu telah menerima pengajaran tarekat Syattariyah dari Abd al-Rauf, berpindah ke kerajaan Banten dan menetap di bukit Jawa Barat bagian Tenggara, tidak terlalu jauh dari Pantai Selatan.

Ada anggapan, putra dari Abd al-Muhyi yang bernama Fakih Ibrahim sudah mengabdi sebagai penghulu di istana Surakarta semasa Raja Pakubuwana II (berkuasa 1745-1749) dan Pakubuwana III (berkuasa 1749-1788 M). Kita tau Pakubowono II adalah raja yang mencoba memerintah sebagai seorang Raja Sufi di Kartasura sebelum memindahkan keratonnya ke Surakarta karena dorongan dari ibunya Ratu Pakubowono.

Serat Wulang-Dalem Sampean Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Kaping II adalah serat yang ditulis guna pengajaran moral (piwulang) yang menekankan perlunya ketaatan kuat kepada kewajiban ibadah Islam juga berisi kritikan tajam kepada siapa saja yang berani menyimpang dari hukum Islam (syariah).  Naskah ini salah satunya naskah yang dinisbatkan kepada Pakubowono II. Nancy K. Florida menganggap tidak ada spekulasi metafisik beraroma Syattariyah yang mencirikan kesusastraan Suluk Jawa ( Nancy K. Florida, 2020: 198).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Tawakal dan Ikhtiar: Kisah Seorang Sufi Ingin Berhenti Bekerja

Putranya, Pakubawana III dalam karyanya yang berjudul Suluk Martabat Wahdat Wakidiyat menggaungkan gema ajaran metafisik Syattariyah. Tembang ini membeberkan mengenai tujuh level tingkat (martabat) wujud. Naskah ini juga menjelaskan bagaimana penyusunan martabat kedua dan ketiga (wahdah dan wahidiyah) yang membentuk level paling tinggi dari manifestasi Diri Tuhan di dalam Dirinya-sendiri juga terkait kemusnahan diri menuju ketuhanan yang dialami dalam capaian kesempurnaan ma’rifat.

Adalah Pakubawana IV (berkuasa 1788-1820) yang mengarang Serat Wulangreh, berisi pengajaran moral (piwulang) bagi generasi muda kelas elit yang ditulis pada tahun 1809 M, tetapi serat ini sering diabaiakan. Tidak itu saja, I.S.K.S PB IV juga mengarang sejumlah suluk. Suluk Pakubawana IV secara khusus mempunyai perhatian akan ciri-ciri metafisika dan kosmologis jiwa-raga kodrati manusia, secara pasti suluk-suluk ini menebarkan semberbak aroma ajaran Syattariyah. Perlu dicatat bahwa Pakubawana IV memberikan nama Raden Ayu Satariyah untuk putri pertamanya yang lahir dari permaisurinya.

Serat Centhini sebagai buku “Ensiklopedia Jawa” naskah yang penuh aroma ajaran Syattariyah dan paling dipuji dari seluruh karya sastra Jawa. Penyusunan Centhini ditulis atas arahan I.S.K.S Pakubawana V (berkuasa 1820-1823) di bulan Januari 1815 M. Serat ini disusun oleh tim pujangga istana yang dikepalai oleh Mas Ronggasutrasna, Ki Ng. Sastradipura, dan R. Ng. Yasadipura II, bersama putra mahkota sendiri.

Baca juga:  Sufi Perempuan: Ummu Thalq

Centhini, di dalamnya banyak sekali karya suluk dengan ajaran Syattariyah yang meresap di dalamnya, namun biasanya itu tersirat tidak tersurat secara gamblang dalam Serat Centhini tersebut. Dengan posisi pentinya ajaran Syattariyah di antara para pujangga dan putra mahkota, secara otomatis ajaran Syattariyah melekat dan merembes dalam Serat Centhini, kadang juga ajaran dan amaliyah Syattariyah secara eksplisit disebutkan di dalam Serat ini.

Perlu diketahui, Kyai Maja selaku penasehat agama Pangeran Dipanegara (1785-1855 M) dalam Perang Jawa sekaligus ada ikatan penting dengan Keraton Surakarta merupakan salah satu penganut Syattariyah yang taat. Kyai Maja tergabung dalam lingkaran para guru Islam sebagai penyokong inti dalam pemberontakan Dipanegara. Sungguh masuk akal jika lingkaran ini adalah lingkaran Syattariyah.

Tahun 1830 M, menjadi titik balik yang begitu penting dalam sejarah politik dan sosial masyarakat Jawa, ditandai dengan berakhrinya kekuasaan istana pribumi yang merupakan awal mula kolonialisme tinggi di Jawa. Ditangkap dan dibuanya petinggi elit Jawa baik itu Pakubawana IV, Kyai Maja, R. Ng. Yasadipura II, dan R. Ng Ronggosasmita, menjadi kemunduran yang begitu jauh bagi Tarekat Syattariyah di Istana Surakarta. Kaum kolonial menganggap Islam (khususnya Syattariyah) menjadi ancaman tersendiri bagi mereka. Sehingga mereka memisahkan Calon Raja dan keturunannya dari praktek-praktek keislaman terutama tarekat Syattariyah.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top