Sedang Membaca
Harapan Di Tengah Terjangan Pandemi Covid-19
Rafly Setiawan
Penulis Kolom

Aktivis PMII Palopo

Harapan Di Tengah Terjangan Pandemi Covid-19

Ashkan Forouzani Ignxm3e1rg4 Unsplash

Virus Corona mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah pada tanggal 20 Januari 2020. Otoritas kesehatan di Kota Wuhan mengatakan tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus. Akhirnya negara China harus menangani secara serius dampak yang ditimbulkan pandemi ini.

Virus ini menyebar dengan tidak mengenal usia, jabatan, maupun negara. Ribuan, bahkan ratusan ribu warga dunia tertular oleh adanya fenomena ini. Merubah secara drastis kehidupan di berbagai sektor. Seluruh pemimpin negara mengeluarkan berbagai kebijakan populis untuk melindungi kelangsungan hidup warganya. Meskipun harus menerima konsekuensi logis yang dihasilkan dari kebijakan tersebut. Seperti menolak imigran (warga asing) yang hendak mengunjungi suatu wilayah tertentu, tanpa melihat latar belakang sosialnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tanpa terkecuali Negara Indonesia, melalui keputusan pemerintahnya harus menghentikan berbagai aktivitas, mulai dari bepergian dari satu kota ke kota yang lain, dan menghimbau warganya agar menjauhi kerumunan untuk sementara waktu. Termasuk mengunjungi tempat wisata karena akan berpotensi tertular sewaktu berinteraksi dengan orang lain.

Implikasinya selaras dengan budaya temporal yang di akibatkan oleh pandemi ini. Terdapat spacial dalam menjalin hubungan langsung. Salah satunya adalah social distancing. Mengharuskan bagi kita, membuat jarak 1 sampai 2 meter, supaya menghindari batuk (bersin) atau percikan air ludah dari orang yang berada di dekat kita.

Protokol menertibkan acara keramaian juga mulai dilaksanakan pada setiap titik-titik yang dianggap rawan terjadi kontak sosial. Demi kenyamanan masing-masing. Walaupun situasional, lantaran setiap hari semakin bertambah jumlah yang positif dan korban jiwa.

Kemarin malam, saya mendapati aparat pemerintahan (kepolisian) menyisir tempat-tempat yang seringkali ramai dikunjungi. Bahkan kedai kopi (angkringan) dibubarkan secara paksa. Ini merupakan langkah agar kita tetap terlindungi dari covid-19, dan menjaga kestabilan negara sehingga hal-hal yang dikhawatirkan, misalnya Chaos bisa dihindari bersama-sama.

Baca juga:  Perjalanan Jilbab, dari Quraisy Shihab, Gus Dur, hingga Artis

Saya teringat dengan pemikiran dari Antonio Gramsci dan Paulo Freire. Meskipun dua maestro ini berbeda tempat kelahiran dan kondisi sosial yang ditemuinya. Tapi dua pemikir ini selalu abadi melalui karya-karya monumentalnya.

Lantas, apa yang bisa kita lihat dari relevansi kedua pemikir tersebut? Lalu sejauh mana korelasi antar keduanya mampu menjawab krisis di berbagai sektor ini, termasuk ekonomi? Dan bagaimana warga negara Indonesia pro-aktif terlibat dalam mencegah dan memerangi perkembangan virus corona? Menarik kita kaji bersama-sama.

Saya memulai dengan teori populer dari Antonio Gramsci, yakni Hegemoni yang berlaku secara sosial politik dalam mengatur seluruh struktural masyarakat. Kendati demikian, hegemoni yang dimaksud adalah untuk memberangus rezim fasisme dari Benito Mussolini. Gramsci mengatakan, setiap perubahan yang terjadi harus melalui struktur atas, sehingga mempengaruhi kehidupan struktur bawah. Membuat keterpaksaan masyarakat untuk ikut menerima tanpa harus korektif kebijakan. Relasi kekuasaan pun kian menampakkan status quo.

Saya melihat keadaan yang di alami sekarang merupakan antitesis dari hegemoni tersebut. Tapi saya tidak menghubungkannya secara mutlak dengan kebijakan yang telah keluar dari pemerintah. Oleh karenanya, hegemoni ini tidak tunggal, namun sifatnya ganda.

Hegemoni yang saya maksudkan adalah virus covid-19 ini, yang membuat aktivitas elemen masyarakat terhambat dan ketakutan hiperbolik menghadapi kenyataan sosial. Disisi lain, counter hegemoni yang diletuskan oleh pemerintah untuk menganyam kembali imunisasi warganya. Namun yang perlu dipersiapkan adalah daya ketahanan dalam menghadapi situasi tingkat kronis ini, misalnya ketersediaan logistik (kebutuhan pokok) bagi masyarakatnya.

Baca juga:  Gus Dur dan Proyek Arkeologi Kebudayaan

Selanjutnya, peneluran gagasan Antonio Gramsi bahwa intelektual organik mampu memproyeksikan hal-hal yang perlu dilakukan. Masyarakat harus menyadari bahwa pentingnya memahami ini, karena secara fundamental keterlibatan seluruh elemen masyarakat akan sangat mempengaruhi penghambatan pandemic Corona ini. Pentingnya keselarasan apa yang dihadapi sekarang, mengingat akan mengganggu eksistensi seluruh umat manusia. Peranan bagi segenap tingkatan grass root bisa mengubah hasil akhirnya laju krisis monster tersebut.

Pada pemikiran berikutnya yakni Paulo Freire, bahwa manusia mempunyai tiga tingkatan kesadaran yang mapan. Sama-sama kita ketahui bahwa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh beliau dalam kesadaran kritisnya, harus menelaah sejauh mana problem keadaan sosial dan kemudian ikut terlibat full dalam mengubah realitas sosial. Tanpa proaktif soal kesenjangan sosial, berarti mengalami kesadaran naïf (mengetahui tapi tidak untuk berbuat), bahkan terjebak kesadaran magic (tak mengetahui sama sekali, karena semua hal terjadi secara alamiah dan hanya menerima saja dengan pasif).

Melihat apa yang sedang dihadapi saat ini, hal lain untuk mencegah perkembangan pandemic ini adalah meningkatkan standar kesadaran masyarakat. Menaikkan levelnya pada kesadaran kritis. Sosialisasi di berbagai elemen, dan harusnya menyentuh ke akar rumput, agar memperhatikan seruan dari pemerintahan untuk berdiam diri di rumah, sehingga aktivitas di luar rumah bisa dikurangi dulu sampai pemerintah memberitahukan kepada warganya bahwa sudah tidak ada lagi yang positif Covid-19 ini.

Teramat sangat penting kiranya proses penyadaran kolektif ini, mengingat masih banyak masyarakat yang kurang mengindahkan instruksi pemerintah. Malahan berdalih dengan mengatasnamakan Tuhan, bahwa kalau sudah tertular itu merupakan takdir.

Baca juga:  Istilah Kafir dalam Perdebatan Ushul Fikih

Saya mewartakan epicentrum yang terkandung di dalamnya, karena di satu sisi himbauan tersebut terjadi penolakan dari kalangan agamais, dan di tempat yang bersamaan dapat di indahkan namun seluruh elemen masyarakat harus intens dalam menahan laju virus ini. Tanpa daya kritis dan kreatifitas masyarakat untuk preventif dan protektif, boleh jadi akan menjelma buah simalakama.

Sosialisasi setiap warga negara, bukan hanya pada interaksi langsung, bisa juga melalui interaksi di media sosial. Prinsip edukatif perlu menjadi fragmen dalam memberikan penyadaran total. Penting kiranya tidak menimbulkan ketakutan berlebihan, melainkan selalu waspada sehingga kita tidak terpapar penyakit tersebut.

Peningkatan pelayanan sosial penting diperhatikan agar yang belum terkontaminasi akan teratur dalam memperhatikan kesehatan tubuhnya. Apalagi yang sudah positif terkena virus ini, harus menjadi perhatian bersama, tak mesti membangun stigma buat mereka. Karena nasi sudah jadi bubur, lantas kitalah yang selayaknya menguatkan mereka dengan harapan kesembuhannya.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Selayaknya, kebutuhan pokok yang lebih bisa di alokasikan kepada yang sedang membutuhkan. Biar saling berbagi manfaat, dan terhindar dari krisis multi-sektoral.

Harapan lah yang menguatkan, dan memaksa kita untuk berbuat yang terbaik bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan hanya pemerintah dan aparat pemerintahan, namun keseluruhan aktif menghibahkan proses pemulihan ini. Hal yang dikhawatirkan seperti Chaos sesama warga negara, bisa terhindarkan dengan sendirinya.

Tanpa harapan, niscaya tak akan menggerakkan kita untuk terjun dalam realitas sosial. Dengan ikhtiar, korban jiwa akan segera berkurang. Dan jalinan kemanusiaan terajut kembali layaknya saripati keberlangsungan peradaban manusia. (RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top