Sedang Membaca
Diaspora Santri (12): Mengerek Islam Nusantara di Tanah Persia
Purkon Hidayat
Penulis Kolom

Penikmat kopi pahit, buku, musik, dan keheningan malam. Bekerja di media, pengajar, peneliti, dan koordinator Gusdurian Tehran.

Diaspora Santri (12): Mengerek Islam Nusantara di Tanah Persia

Selama ini kerap muncul pertanyaan  yang disampaikan kepada saya dalam setiap forum mengenai apa urgensi mengenalkan Islam Nusantara yang dilakukan GUSDURian Tehran secara kultural di tanah Persia. Barangkali, sebagian orang memandangnya sebagai langkah tidak kontributif, bahkan sia-sia belaka. Tapi saya memandang sebaliknya sebagai bagian dari tindakan komunikatif Habermas. Mengerek Islam Nusantara di Iran sebagai ikhtiar merintis proyek jalan baru dialog budaya dan peradaban.

Pertama, Iran sebagai negara acapkali dilihat oleh kebanyakan orang Indonesia dengan perspektif politik dan teologis. Lihatlah riset-riset akademis tentang Iran di Indonesia yang terbaru masih didominasi dua isu tersebut. Bahkan bidang pendidikanpun masih mengaitkan Iran dengan persoalan teologi dan persaingan ideologi antara Iran dan rivalnya di Timur Tengah. Meskipun tidak salah, tapi saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya, dua pendekatan ini hanya mewakili sebagian kecil dari kekayaan khazanah Islam Persia. Selain itu, relatif tidak akan membangun jalan baru bagi dialog budaya dan peradaban yang konstruktif.

Sunni sebagai komunitas minoritas di Iran yang berjumlah sekitar 20 persen penduduk Iran masih eksis hingga kini bersama dengan identitasnya seperti masjid, sekolah dan pesantren yang tersebar di berbagai pelosok Iran. Kebanyakan mereka berada di daerah perbatasan Iran dengan negara lain, yang terbentang dari utara di provinsi Golestan hingga provinsi Khozestan di wilayah selatan, dan Khorasan di timur menuju Kermanshah di barat Iran.

Baca juga:  "Ilmu Itu Juga Amal," Kata al-Ghazali

Lebih dari itu, warisan kebudayaan dan peradaban Sunni di Iran memberikan kontribusi penting bagi Iran sendiri juga dunia, termasuk Indonesia. Tapi sayangnya, tambang khazanah kebudayaan dan peradaban ini masih luput dari riset akademis yang membahas tentang Iran di Tanah Air. Salah satu pemicunya karena dominannya isu politik dan teologis, serta kurangnya riset rintisan di luar pendekatan tersebut. Para sufi, penyair dan ulama besar Persia seperti Attar dan Saadi, Jami maupun Abu Yazid Bustami dan Kharaqani, juga Shahibul Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali, merupakan deretan tokoh Suni terkemuka yang dihormati oleh masyarakat Iran yang mayoritas Syiah.

Kedua, kehadiran diskursus Islam Nusantara di Iran selain mengenalkan khazanah pemikiran Islam Indonesia yang moderat, juga sebagai ikhtiar untuk mengisi kekosongan wacana mengenai keterhubungan keduanya. Pasalnya, banyak tradisi keagamaan di Indonesia yang masih lestari hingga kini, memiki keterkaitan geneologis dan historis dengan para pendirinya dahulu yang berada di tanah Persia.

Misalnya, tarikat Naqsabandiyah dan Qadiriyah bersama turunannya, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) yang didirikan oleh Sheikh Ahmad Khatib as-Sambasi memiliki akar geneologis dengan para ulama Iran, baik langsung maupun tidak langsung.

Riset Martin Van Bruinessen tentang Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia memiliki ruang kosong untuk dilanjutkan dengan melacak jaringannya di Iran dan negara lain. Martin (1996:50) menyebutkan silsilah guru-guru Naqsabandiyah sebelum Baha-ud-Din Naqshbandi sebagai pendirinya dari nama-nama tokoh sufi Persia, bahkan Jafar As-Shadiq yang diyakini penganut Syiah sebagai Imamnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Pertumbuhan NU Jerman: dari Ketersambungan Sanad, Pengakuan Pemerintah Jerman hingga Revolusi Insdustri

Lebih dari itu, delapan asas tarikat Naqsabandiyah yang diletakkan Abd Al-Khalik Ghujdawani dan masih dipergunakan hingga kini menggunakan bahasa Farsi, yaitu: hush dar dam (sadar dalam setiap tarikan nafas), nazar ba qadam (menjaga setiap langkah), safar dan vatan (melakukan perjalanan di tanah kelahiran), khalvat dan anjuman (menyepi dalam keramaian), yad kard (mengingat/zikir), baz gayst (kembali), negah dayst (waspada), dan yad dasyt (mengingat kembali). Dari aspek ini, tampaknya tidak signifikan menempatkan masalah Sunni dan Syiah dalam perdebatan teologis yang masih panas hingga kini.

Kunjungan saya ke provinsi Kermashah di wilayah barat sekitar tiga tahun lalu yang sebagian penduduknya menganut mazhab Syafie menunjukkan kedekatan tradisi antara Iran dan Indonesia. Tarikat Qadiriyah yang berkembang di Tanah Air juga berasal dari daerah ini. Sebab Sheikh Abdul Qadir Jailani sendiri kelahiran daerah Gilan Gharb, yang terletak di Kermanshah. Masalahnya, hingga kini belum ada penelitian baru yang menggali kedekatan tradisi Sunni yang ada di Iran dan Indonesia, termasuk bacaan Barzanji, yang merupakan nama dari salah satu klan suku Kurdi Persia.

Ketiga, di luar kedekatan historis ini, langkah kultural GUSDURian Tehran mengerek diskursus Islam Nusantara di Iran mendorong peningkatan pengenalan orang-orang Iran terutama para ahli Asia Tenggara terhadap diskursus Indonesia. Hingga kini sudah ada sekitar 400 entri tentang Indonesia dari nama tempat, organisasi hingga tokoh penting Nusantara masuk dalam Ensiklopedia Dunia Islam berbahasa Farsi, yang saat ini telah memasuki jilid ke-28.

Baca juga:  Tak ada Islam Moderat dan Islam Kaffah dalam Alquran

Selain itu, riset-riset dari paper, tesis hingga disertasi tentang Islam Nusantara dan diskursus Indonesia kontemporer dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan. Berdirinya GUSDURian Tehran sejak 2015 secara kultural sedikit banyak memberikan warna pada upaya mengenalkan Islam Indonesia yang moderat di Iran. Interaksi anggotanya dengan berbagai kalangan akademis, termasuk mengajar di kampus terkemuka Iran serta keterlibatan dalam beberapa penelitian dan menghadiri forum akademis mengenai Asia Tenggara memberikan optimisme tentang hubungan baru Indonesia dan Iran dalam wajah yang lebih berimbang dan berkesinambungan dengan kebudayaan sebagai pijakannya.

Munculnya para Indonesianis di Iran semacam Prof. Mahmoud Reza Esfandiar maupun Dr. Faezeh Rahman yang memiliki hubungan sangat baik dengan para penggerak GUSDURian Tehran, mendorong gelombang baru pengenalan Islam Nusantara di Iran. Menurut mereka, meskipun Islam bersifat universal, tapi menemukan bentuk parsialnya ketika bertemu dengan unsur-unsur lokal. Kemunculan Islam Nusantara, Islam Persia dan lainnya harus dilihat sebagai keniscayaan keragaman pemahaman Islam yang tidak tunggal. Mengenalkan Islam Nusantara di tanah Persia adalah bagian dari upaya melanjutkan tradisi dialog kebudayaan. GUSDURian sebagai santri ideologis Gus Dur terus berupaya menjadi jembatan budaya, bahkan di  negeri Mullah sekalipun. Selamat Hari Santri ! [].

 

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top