Sedang Membaca
Diaspora Santri (11): Paveh dan Cerita Mamosta, Ulama Ahlusunnah dari Iran
Afifah Ahmad
Penulis Kolom

Afifah Ahmad: Penyuka traveling, penulis buku "The Road to Persia" dan anggota Gusdurian Teheran.

Diaspora Santri (11): Paveh dan Cerita Mamosta, Ulama Ahlusunnah dari Iran

“Anda tidak takut pergi ke Paveh?” Reaksi seorang teman di Teheran saat kami merencanakan pergi ke kota paling utara di propinsi Kermanshah ini. Barangkali, kekhawatiran tersebut muncul karena Paveh memang berbatasan langsung dengan negara Irak yang yang kerap bergolak. Belum lagi, isu masuknya teroris yang sangat mungkin terjadi, mengingat jaraknya hanya sekitar 45 kilometer dari perbatasan Irak. Jujur, awalnya saya juga cemas.

Muhammad Amin Javadian, seorang sahabat asal daerah setempat berhasil meyakinkan kami. Ia tak hanya memberi tumpangan gratis selama di Kermanshah, tapi juga mengantar ke berbagai situs bersejarah dan tempat-tempat yang indah, termasuk kota Paveh. Keputusan untuk tetap berangkat ke Paveh sungguh tidak sia-sia. Bahkan, perjalanan inilah yang paling mengesankan selama traveling ke propinsi Kermanshah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Perjalanan ke Paveh dari pusat kota Kermanshah memakan waktu lebih dari dua jam. Kami bertujuh dalam satu mobil sedan. Javadian mengajak istri, ibu, dan ayahnya. Ditambah, saya, suami, dan anak saya. Tentu sulit dibayangkan, bagaimana sesaknya suasana dalam mobil. Tapi, entah kenapa, fokus saya malah pada perbincangan hangat sepanjang jalan. Ibu Javadian yang humoris berkali-kali membuat saya terpingkal-pingkal.

Lamat-lamat kota Paveh terlihat dari kejauhan. Deretan rumah-rumah berundak dilatari pegunungan tersuguh di depan mata. Pemandangan inilah yang menjadi salah satu daya pikat wisatawan untuk berkunjung ke Paveh. Tapi bagi saya, Paveh punya daya tarik lainnya. Di kota ini, saya dapat melihat lebih dekat kehidupan suku Kurdi asli yang masih menggunakan dialek kuno. Bahkan tuan rumah kami yang sama-sama etnis Kurdi sulit memahami bahasa mereka.

Baca juga:  Azab-Ku Tak Sebercanda Itu

Warga Paveh masih menjaga nilai-nilai leluhur mereka, termasuk cara berpakaian. Di jalan-jalan, hampir semua warga mengenakan baju daerah. Para lelaki biasanya memakai celana panjang berukuran jumbo yang disebut rang, sementara para perempuan mengenakan baju panjang bercorak warna warni. Pemandangan yang sulit ditemukan di kota Teheran. Selain itu, sebagian besar warga Paveh juga penganut Ahlusunnah, berbeda dengan mayoritas mazhab yang dianut di Iran.

Semakin mendekati kota Paveh, mulai banyak terlihat masjid-masjid Ahlusunnah, seperti masjid Umar bin Khatab, masjid Quds, dan masjid Salahuddin Alayubi. Masjid Sunni di wilayah ini memiliki ciri tersendiri, biasanya tanpa kubah dan memiliki menara yang tinggi. Kota Paveh tak seperti yang saya bayangkan, kecil dan terisolasi. Sepanjang jalan terlihat gedung-gedung bertingkat sedang dibangun, pertokoan, restoran dan bank-bank besar milik pemerintah.

Setelah mengelilingi jalan-jalan di kota Paveh, kami menjumpai fakta-fakta unik, seperti: meski tak terlihat lampu merah di jalanan, tapi lalu lintas tetap terkendali baik. Kata Pak Ali, ayah Javadian, mereka memiliki tenggang rasa yang baik dalam berlalulintas. Bahkan, tidak ada yang berani membunyikan klakson selama kami melintas di jalan raya. Kalau pun ada, dipastikan  bukan orang Paveh. Barangkali, karena Paveh tergolong kota kecil yang hubungan sosialnya masih guyub dan penuh kekeluargaan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain menikmati kesegaran alam dan melihat langsung kehidupan etnis asli Kurdi, tujuan lain kami ke Paveh untuk bertemu Imam Jumat sekaligus pemimpin ulama kota ini, Mamosta Mulla Qadiri. Mamosta adalah singkatan dari amu atau paman dan Osta yang berarti ustad. Kira-kira kalau dalam bahasa Indonesia disebut “paman guru”. Ia merupakan ulama terkemuka Ahlusunnah dan tokoh masyarakat yang cukup disegani di kalangan warga Kurdi.

Baca juga:  Menelisik Khilafatisme dan Komunisme: Sejumlah Kesamaan dan Perbedaan

Rumah Mamosta Molla Qadiri berada di pinggiran kota, menyatu dengan pesantren dan masjid. Suasana seperti ini mengingatkan saya pada rumah-rumah kiai NU pimpinan pondok pesantren. Rasanya masih tidak percaya, kami bisa bertatap muka langsung dengan ulama yang memancarkan karismatik dan ketenangan. Mamosta tampak sumringah saat tahu kami berasal dari Indonesia. “Saya tahun 1980 pernah berkunjung ke Jakarta” Tuturnya, sambil menunjukkan foto dalam buku biografi miliknya. Dalam foto itu, terlihat Mamosta sedang berdiri di tengah para pelajar sekolah Al-azhar Jakarta.

Pertemuan kami sebenarnya tidak terlalu lama, tapi ada banyak informasi yang kami peroleh. Paveh yang memiliki penduduk sekitar 61 ribu jiwa, ternyata 95 persennya adalah muslim Sunni. Pengelolaan administrasi daerah sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat setempat. Jadi meskipun, anak-anak mereka belajar di sekolah negeri, kurikulum agamanya disesuaikan dengan muatan lokal. Ada sekitar 10 pesantren, tempat belajar calon ulama-ulama sunni. Sampai sekarang, 75 ustad sudah ditugaskan di 90 masjid kota Paveh. Jumlah yang cukup besar dibandingkan kota-kota lain.

Obrolan terus mengalir sampai pada persoalan yang cukup sensitif, tentang etnisitas. Mamosta menyampaikan hal menarik sembari mengutip buku “Hubungan Timbal Balik antara Islam-Iran”. Rasa kesukuan itu bisa mengandung dua makna, negatif dan positif. Bermakna negatif jika melahirkan fanatisme sektarian, supremasi etnis, dan tidak menghargai liyan, sebaliknya dapat bermakna positif, jika rasa kesukuan dan nasionalisme itu diposisikan untuk melindungi dan menghormati nilai-nilai kebudayaan, kearifan lokal, serta menumbuhkan spirit keagamaan dan kebangsaan.

Baca juga:  Alternatif Penceramah di Media Sosial

Pendapat Mamosta ini, mengingatkan saya pada almarhum KH. Abdurrahman Wahid dengan ide pribumasisi Islam-nya, yang selalu berjuang untuk mendamaikan unsur-unsur kultural lokal, Islam, dan nasionalisme. Bekal ini juga yang terus menjadi pegangan dan tuntunan saya, meski sedang berada jauh dari tanah air.

Di akhir pertemuan, Molla Qadiri menghadiahkan sebuah buku yang ditandatanganinya berjudul “Mamosta: Zandagi Nameh va Khaterat Mamosta Molla Qadir Qadiri Imam Jumat Paveh” (Mamosta: Memoar Perjalanan Hidup Imam Jumat Paveh Mamosta Qadir Qadiri”. Buku garapan Ali Rostami setebal 694 halaman ini memuat kiprah dan perjuangan Mamosta. Sebelum berpisah, Mamosta berpesan: “Hidup mulia itu ketika satu sama lain bisa saling menghargai. Perbedaan kecil, tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk saling melukai”.

Sungguh perjalanan yang sangat berkesan. Selain dapat mengirup udara segar dan menyaksikan pemandangan indah kota Paveh, saya merasa sangat bahagia karena menjadi peranta pertemuan dua keluarga yang berbeda latar belakang. Keluarga Javadian yang syiah dapat bersilaturahmi sekaligus berdialog secara kekeluargaan dengan Mamosta Qadiri, ulama dari Ahlusunnah. Itulah makna Islam damai yang saya pahami dari guru-guru tercinta di pesantren dahulu. Islam yang memberikan ruang persahabatan bagi semua kelompok. Selamat hari santri!

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top