Sedang Membaca
Sekelumit Kiai Noerhadi, Pejuang Pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin di Pulau Dewata
Imam Safe'i
Penulis Kolom

Kepala Pusan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Kementerian Agama RI

Sekelumit Kiai Noerhadi, Pejuang Pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin di Pulau Dewata

Download

Ketika saya diberi tugas untuk mendampingi Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke Pemerintah Provinsi Bali di Denpasar beberapa waktu yang lalu, saya memanfaatkan waktu bersilaturahmi dengan tokoh pendidkan Islam di Pulau Bali yakni KH. Noerhadi.

Sosoknya yang lembut, santun, dan sederhana membuat siapapun tidak mampu membendung tetesan air mata ketika mendengarkan sejarah dan kisah perjuangannya. Inilah sekelumit kisah yang mampu saya tangkap dan ceritakan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Perkembangan Pendidikan Islam di Pulau Dewata Bali tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Noerhadi. Santri Mbah Arwani Kudus ini berjuang merintis lembaga pendidikan Islam dan berjuang mendakwahkan Agama Islam di tengah-tengah mayoritas ummat lain sejak Tahun 1979. Saat ini beliau sebagai pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Hufadz di Desa Abian Tuwung Kediri Tabanan Bali. Lembaga Pendidikan ini mengelola Pendidikan Diniyah Takmiliyah, Taman Pendidikan al-Qur’an, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Pondok Pesantren.

Keinginan yang kuat dan membaja pada sosok Noerhadi, santri asal Demak yang menimba ilmu al-Qur’an kepada Mbah Arwani Kudus ini terinspirasi oleh kalimat “Bali Perlu Diperjuangkan’’. Kalimat ini begitu kuat terpatri pada jiwa dan ingatannya selama menjadi santri. Oleh karena itu, setelah menamatkan ngaji al-Qur’an di Kudus, pada awal Tahun 1979 Noerhadi memutuskan untuk berangakat ke Pulau Bali. Tanpa modal finansial yang memadai, tanpa Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai negeri, dan apalagi iming-iming tunjangan profesi, tekad kuatnya betul-betul mengantarkannya di medan perjuangan. Hanya berbekal restu sang kyai (Mbah Arwani), semua keraguan, kekhawatiran, dan rasa pesimis mampu dihempaskan. Sebaliknya, yang terbayang adalah optimis, impian sukses, dan keberhasilan.

Baca juga:  Bung Glenn dan Salam Bagi Sahabat

Tiba di Bali tidak memiliki sejengkalpun tanah untuk didirikan bangunan lembaga pendidikan. Pantang meminta-minta dan memohon sumbangan kepada masyarakat, Noerhadi bekerja keras memeras keringat untuk mengumpulkan uang demi merealisasikan cita-citanya. Kurang lebih satu tahun berjuang (bekerja mencari uang), akhirnya hasil jerih payahnya bisa diwujudkannya dengan membeli tanah. Sesuai dengan cita-cita awal, ketika sudah mampu memiliki tanah harus segera didirikan pondok pesantren. Ingat pesan Mbah Arwani, ‘’Kelak kalau kamu mampu mendirikan pondok pesantren agar diberikan nama Raudlatul Hufadz’’, maka nama ini lahir di Bali dan abadi hingga saat ini.

KH. Noerhadi ternyata tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana merealisasikan mimpinya memiliki pesantren sendiri. Di awal kehadirannya di daerah ini ternyata beliau juga sangat terbebani dengan kondisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah di Provinsi Bali. Ketika itu tidak ada satupun Guru Pendidikan Agama Islam pada semua sekolah di wilayah ini. Semua nilai agama bagi peserta didik muslim kosong. Akibatnya tidak ada satupun siswa muslim yang meraih prestasi berdasarkan jumlah nilainya. Sungguh ini pekerjaan berat dan tantangan yang luar biasa. Berkat pelbagai pihak mengenal sosok KH. Noerhadi yang memiliki kemampuan di bidang Ilmu Agama Islam, maka Tahun 1979 pihak-pihak terkait seperti Kantor Wilayah Departemen Agama dan Pemerintah Daerah meminta KH. Noerhadi untuk memberikan penilaian terhadap kemampuan semua anak didik yang beragama Islam pada semua sekolah di wilayah Bali.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (4): Gus Dur dan Ulama Lombok

KH. Noerhadi sangat menyadari, pekerjaan yang berat dan sangat strategis ini tidak mungkin bisa dijalani sendiri. Untuk itu beliau mengusulkan agar pemerintah daerah segera mengangkat Guru-guru Pendidikan Agama Islam di wilayah Bali. Atas kepedulian salah satu pejabat di Pemda Provinsi Bali waktu itu yakni Bapak Mulyono Setiawan, perjuangan dan usulan KH. Noerhadi dikabulkan. Tahun 1980 diangkat sebanyak 30 orang Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Karena jumlah guru PAI masih dirasakan kurang, Tahun 1981 diangkat lagi sebanyak 30 guru. Tahun-tahun berikutnya kekurangannya dipenuhi oleh guru agama honorer.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bertahun-tahun kondisi ini menyenangkan hati Kiai Noerhadi karena beliau bisa bekonsentrasi mengurus pondok pesantren bersama-sama putra putrinya. Tetapi hari ini belaiu terhentak kembali.Ternyata guru-guru PAI yang diangkat di pada Tahun 1970-an tersebut tahun depan semuanya sudah harus mengakhiri tugasnya.

Dengan keprihatinan yang mendalam, beliau terus merenung dan bertanya, siapa yang akan menggantikan guru-guru Pendidikan Agama Islam yang akan membina, mendidik, dan mendampingi siswa siswa muslim di sekolah-sekolah umum di Provinsi Bali.

Beliau juga juga menduga krisis ini juga terjadi di wilayah-wilayah lain. Beliau terus berharap dan meminta agar pemerintah serius memperhatikan kondisi ini. Trimakasih pak kyai, perjuanganmu sangat menginspirasi kami.

Baca juga:  Hidayah itu Terserah Allah
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top