Sedang Membaca
​Jelang Munas Alim Ulama (3): Selintas Maulana Syeikh
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

​Jelang Munas Alim Ulama (3): Selintas Maulana Syeikh

Paox Iben
​Jelang Munas Alim Ulama (3): Selintas Maulana Syeikh

Seri ketiga tulisan menyambut Munas Alim Ulama di Lombok menurunkan tulisan Paox Iben seorang penulis novel, budayawan cum peracik kopi masyhur di Mataram, NTB. Dia menulis secara selintas dan ringan tentang sosok pendiri Nahdlatul Wathan (NW). 

Dalam literatur ke-NU-an, NW “satu rumpun” dengan NU, yakni sama-sama bermazhab Aswaja. Iben mengambil sisi bahwa Maulana Syeikh (pekan kemarin dikukuhkan sebagai pahlawan nasional) adalah ulama pejuang perempuan. Tulisan ini juga sebagai pengantar diskusi besok malam, di Mataram. Selamat membaca!

Banyak ungkapan cinta yang bisa dilayangkan untuk menghormati para ulama, apalagi ulama sekaligus Pahlawan Nasional. Seperti beberapa malam lalu, ketika para aktivis perempuan berkumpul di kedai Repvblik Syruput, Mataram. 

Daripada sekedar memasang foto profil Maulana Syeikh untuk gaya-gayaan, mereka bersepakat membuat diskusi publik tentang Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abd Majid sebagai pioner Gerakan Perempuan di NTB, bahkan di Indonesia.

Bagaimana tidak? Setelah mendirikan Nahdlotul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) Tahun 1937, pada Tahun 1943 atau dua tahun sebelum Indonesia Merdeka, beliau jg mendirikan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) atau Sekolah Perempuan sebagai kawah candradimuka untuk mendidik pejuang-pejuang perempuan. Ya, kita tidak lupa Jawa ada kelas untuk perempuan yang lebih tua lagi, yakni di Pesantren Denanyar Jombang yang didirikan tahun 1917/1918. Di Sumatera, tepatnya di Padang Panjang Panjang, Rahmah El Yunusiah mendirikan Pesantren Diniyah Putri tahun 1923.

Baca juga:  Kiai Wahid Hasyim Sudah Ingatkan Inflasi Ulama

Padahal itu Jaman masih zaman Old loh, Saudara. Belanda memang sudah pergi, tapi Jepang sedang galak-galaknya berkuasa. Dan posisi kaum perempuan saat itu, anda bisa bayangkan : Banyak yang dipaksa atau ditangkap untuk dijadikan JUGUN IANFU alias perempuan penghibur alias lagi budak seks.

Mereka, kaum perempuan, bukan sekedar tertindas dan terabaikan, tapi meminjam istilah tokoh feminist post-kolonialis studies Gayatri Spivak~benar-benar menjadi Sub-altern. Tertindas oleh mereka yang ditindas!

Untuk menghindari hal itu banyak perempuan yang dipaksa menikah oleh keluarganya meskipun mereka masih kanak-kanak. Sehingga di Bima ada dikenal istilah Nikah Baronta.

Dan di Lombok, Maulana Syeikh yg sejak era Belanda sudah mengobarkan paham kebangsaan percaya, melalui kekuatan perempuanlah “tiang negara” itu bisa ditegakkan. Ibarat rumah, jikapun ada dinding, genting almari dll, bagaimana jika tiang penyangganya rapuh atau malah tidak ada penyangganya sama sekali? Alhasil didirkanlah madrasah khusus perempuan yg kelak melahirkan para “puan-puan guru” yang sangat handal di Lombok. Puan Guru atau ulama perempuan, sebuah istilah yang sekarang sudah hilang.

Baca Juga
Siapa Hendak Melaksanakan Munas Alim Ulama NU?

Dan di zaman now ini, Saudara, daerah NTB ternyata masih dihadapkan pada persoalan-persoalan mendasar yang menyangkut isu-isu perempuan. Dari angka melek huruf yang sangat rendah, banyaknya angka merarik kode (nikah/cerai muda), KDRT, Buruh Migran Perempuan & Human (Women) Trafficking, kesehatan reproduksi, dst. Apakah dengan demikian sekarang ini terjadi dekadensi atau quo vadis gerakan perempuan di NTB?

———-//

Baca juga:  NU Era Gus Dur di Mata Djohan Effendi

Eh, ini penjuwal kopi ngomong apan sih? Wooiiii kagak usah sok intelek begitu kenapa? Sana pakai saja celemek merah kumal itu, layani tamu-tamu dengan baik. Daripada ente saya kirim piknik ke alam barzah pake APBD loh?

Wokeee baiklah. Kita syruuppuutt saja. Jangan lupa hadir dalam diskusi “MAULANA SYEIKH & GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA” pada hari Jum’at 17 Nopember 2017 pkl 20.00 ya. Info lebih lanjut tunggu perkembangan dari Teman-teman aktivis perempuan.

Lihat Komentar (0)

Komentari