Sedang Membaca
Mengenang Gus Yasin
Kholili Kholil
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur.

Mengenang Gus Yasin

Kiai Yasin Asymuni Pondok Petuk Semen Kediri 1024x768

Suatu hari, seorang cendekiawan muslim dari Inggris bernama Mr. Yakiti datang ke Indonesia. Ia datang membawa manuskrip kitab Imam al-Ghazali yang baru ditemukan di Iran. Namun sayangnya manuskrip itu di sebagian tempat sudah tak bisa terbaca, banyak tintanya yang sudah luntur dan lapuk dimakan zaman.

Maka ia pun mengunjungi banyak ulama untuk menanyakan fragmen-fragmen yang kosong itu; apa kira-kira isinya? Namun beberapa ulama yang ia kunjungi tak memberikan jawaban yang memuaskan. Hal inilah yang mendorongnya datang ke Indonesia. Ia pun mendatangi salah seorang kiai yang secara akademis reputasinya tak terlalu luar biasa—ya.. beliau tak pernah mengenyam pendidikan formal. Meski tak luar biasa secara akademis, tapi jangan remehkan kualitas intelektual beliau. Karena berkat beliau lah Mr. Yakiti jadi pasrah, taslim, terhadap fragmen kosong manuskrip itu. Padahal ulama Timur Tengah, Malaysia, dan editor (muhaqqiq) manuskrip yang ia temui kebanyakan menyerah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beliau adalah seorang ulama dari Kediri, KH. Ahmad Yasin bin Asymuni. Ketika ditanya, bagaimana bisa tahu isi manuskrip itu, beliau menjawab dengan jawaban yang mendalam maknanya: “ya.. memang seperti itu harusnya..” Namun ‘harusnya’ di sini adalah versi beliau. Suatu kelaziman yang di atas rata-rata.

***

Dibanding santri Lirboyo yang lain, saya mungkin termasuk santri yang tidak terlalu sering bertemu beliau. Saya tak pernah ngaji ke beliau, juga tak pernah minta ijazah (dan kini itu saya sesali). Tapi beberapa kali saya bertemu beliau di forum Bahtsul Masail. Jika tingkat regional, maka beliau menjadi musahih. Tapi jika tingkat nasional, beliau menjadi perumus. Gaya beliau elegan. Beliau selalu membuat keputusan jadi simple, sederhana. Hal ini karena nalar beliau selalu dua langkah di depan kami, para aktivis Bahtsul Masail. Cobalah Anda hadiri forum Bahtsul Masail yang tidak ada Gus Yasin, pasti Anda akan diributkan dan dibingungkan dengan istilah dan hal-hal njlimet. Tapi kalau Anda menghadiri komisi yang didinamisir oleh beliau, pasti Anda akan mudah mencerna dan paham. Hal ini tak lain dan tak bukan karena kematangan ilmu beliau. Mendengar penjelasan fiqhiyyah beliau yang sederhana dan memahamkan, saya selalu ingat quote dari Einsten, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” (Jika kau tak mampu menjelaskannya secara sederhana, berarti kau belum paham betul). Beliau Gus Yasin selalu membuat sesuatu yang rumit jadi simple, beliau berarti paham betul.

Selain masyhur di kancah musyawarah, Gus Yasin juga dikenal sebagai penulis produktif. Kini jumlah kitab yang beliau tulis dan diterbitkan mencapai 230-an judul lebih. Ketika ditanya kenapa beliau membuat kitab-kitab tipis, jawaban beliau sederhana, “Ya.. karena saya buat kitab buat dingajikan.” Jadi keikhlasan beliau tak diragukan lagi, beliau tidak hendak mengarang kitab tebal-tebal untuk mencari pamor. Sama sekali tidak. Tapi beliau memahami kebutuhan para santri yang butuh mengaji. Saya sendiri pun sangat-sangat istifadah terhadap kitab beliau. Ketika masih di Lirboyo,  tiap Jumat pagi saya mencari pengajian yang khatam dalam sehari. Pengajian itu rata-rata diisi oleh kitab Gus Yasin.

Pasca Gus Yasin selesai mengabdi di Lirboyo dan menikah, beliau mendirikan pondok di daerah Petuk bernama Hidayatuth Thullab. Menariknya, di kalangan pesantren, pondok ini dikenal karena kebiasaannya memproduksi kitab makna. Sampai-sampai pondok ini dluriba bihi al-matsal, dijadikan peribahasa: Kitab Petuk, merujuk kepada kitab makna. Makna dalam kitab Petuk ini mayoritas diproduksi oleh Gus Yasin. Jika Gus Yasin pernah ngaji kitab itu, maka maknanya berarti dari gurunya. Tapi jika tidak pernah ngaji, maka maknanya dari beliau sendiri. Saya ingin menjelaskan sedikit tentang kedudukan ikmiah Kitab Petuk:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bagi yang tak tahu, Kitab Petuk (kitab makna) mungkin sekedar kitab. Tapi bagi tahu dan merasa, Kitab Petuk itu sejajar dengan syarah. Kenapa? Ya karena untuk bisa memenuhi makna kitab Gus Yasin tentu harus melakukan yang disebut tahlil lafzhi, alias analisa kata: baik secara gramatikal, maupun makna. Pekerjaan memberi makna ini tentu sejajar dengan syarah dari, taruhlah, Syekh Kholid Al-Azhari dalam syarah Alfiyah ibn Malik. Jadi tanpa dirasakan oleh orang, beliau memaknai kitab ini tentu sejajar dengan memberi syarah.

Tak hanya kualitas ilmiah, dalam dunia mistisisme pun beliau berkecimpung. Beliau punya dua kitab yang berjudul Hikayatul Mu’adzdzabin dan Al-Mughayyabat yang berisi pengalaman mistis beliau melihat azab kubur dan lainnya. Putranya menuturkan, pernah ketika berhaji Gus Yasin tertawa keras hingga mengagetkan keluarganya. Tawa itu bahkan terus berlangsung hingga beliau berurai air mata. Ketika ditanya oleh putranya, beliau berkata bahwa baru saja diperlihatkan nikmat surga.

Semoga Allah merahmati beliau dan mengalirkan berkah beliau kepada kita. 

Baca juga:  Melihat Indonesia Melalui Seni
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top