Sedang Membaca
Akidah dalam Syair Madura Kiai Syamsul dan Kiai As’ad
Nurtaufik
Penulis Kolom

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo. Saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso. Tinggal di Desa Suling Kulon Cermee Bondowoso Jawa Timur KP 68286.

Akidah dalam Syair Madura Kiai Syamsul dan Kiai As’ad

Wali Songo menjadikan syair sebagai media menyampaikan dakwahnya. Mereka menggunakan bahasa Jawa karena objek dakwahnya mayoritas berbahasa Jawa. Kalau Kiai Syamsul Arifin menggunakan bahasa Madura karena masyarakat di mana beliau tinggal lebih didominasi bahasa tersebut.

Itulah kearifan lokal para penyebar agama Islam dulu. Apa yang dilakukan Kiai Syamsul Arifin menulis syair berbahasa Madura sebenarnya bukan hal yang baru. Tapi beliau melanjutkan tradisi ulama sebelumnya dalam menulis terlebih syair.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Syair Aqaid Saeket adalah karangan K.H.R. Syamsul Arifin. Syair itu menggunakan perpaduan bahasa Arab dan bahasa Madura berisi ajaran tauhid atau akidah Ahlussunnah Wal jamaah. Aqaid Saeket atau akidah yang lima puluh berisi sifat wajib bagi Allah berjumlah 20, sifat yang mustahil bagi Allah berjumlah 20 dan sifat yang jaiz bagi Allah berjumlah 1.

Selain sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah, ada sifat yang wajib bagi para utusan (rasul) berjumlah 4, sifat mustahil bagi para utusan berjumlah 4 dan sifat yang jaiz berjumlah 1. Kalau dijumlah semua sifat bagi Allah dan para utusan berjumlah 50. Kiai Syamsul yang mengarang syair itu, memulai syairnya tersebut  dengan kalimat syahadat yang diterjemah ke dalam bahasa Madura sebagai berikut:

Kaule anyakse e sobung pangiran angin Allah ngaratoni dhek alam sadeje dzat settong sifat ben af’al. (Saya bersaksi tiada tuhan selain Allah menguasai alam semesta. Dzat settong sifat dan af’al).

Kaule Anyakse e Nabi Muhammad utusen Allah. Katurunan Quran Hadist. Lerres onggu wejib etorok (Saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah. Diturunkan Alquran dan hadis. Sungguh benar wajib diikuti).

Baca juga:  Kalimah Mutiara dari Malcolm X

Karya syair Aqaid Saeket karya Kiai Syamsul Arifin memiliki lagu khas tersendiri yang sampai saat ini tidak diubah dari asal mulanya. Secara teori kebahasaan, Kiai Syamsul Arifin keluar dari pakem kepenulisan syair pada umumnya. Biasanya syair ditulis dengan memainkan rima aa aa, aa bb dan seterusnya. Tapi ia tidak menggunakan hal itu.

Tapi bukan berarti itu juga hal yang baru. Penulis syair Arab banyak juga menulis syair tanpa mengikuti aturan yang. baku misalnya dalam bait shalawat qiyam seperti yang dijadikan semboyan Bhenning. Hawdukas shofil mubarrad wirduna yawman nusyuri.

Salah satu Wali Songo yang menulis syair lir ilir juga keluar dari pakem syair. Coba perhatikan potongan bait lir-ilir berikut

Cah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Walaupun demikian, Kiai Syamsul Arifin menulis syair Madura dan keluar dari pakem penulisan syair bukan sedang ingin membuat warna baru sehingga membuat sosoknya terkenal sebagai penyair bahasa daerah. Tapi itu dilakukan murni sebagai bagian dari dakwahnya dan mempermudah ajaran agama Islam bisa diserap masyarakat awam.

Setiap malam ribuan santri menjelang salat isya’ membaca syair itu secara bersamaan. Itu sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Tentu pembacaan itu bukan upaya untuk mencetak rekor muri kategori karya sastra daerah yang rutin dibaca selama bertahun-tahun, puluhan tahun bahkan ratusan tahun.

Baca juga:  Menangkap Ceramah Habib Luthfi

Bisa jadi itu akan terus dibaca selama-lamanya seperti syair Burdah, Barzanji, Dziba’i dan sebagainya karya ulama terdahulu. Atau seperti syair Lir Ilir dan Tombo Ati yang berbahasa Jawa terus disenandungkan. Konon Kiai Syamsul Arifin mengarangnya di gubuk yang terbuat dari gedhek dan syair itu ditempel di dindingnya.

Syair Aqaid Saeket dalam perjalanan selanjutnya, disempurnakan oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad menambah syairnya dengan menulis nama-nama para utusan yang wajib diketahui umat Islam berjumlah 25 rasul, nama kitab suci berjumlah 4, nama para malaikat beserta tugas-tugasnya berjumlah 10, rukun islam yang berjumlah 5 dan rukun iman berjumlah 6. Dalam bait terakhir syairnya, Kiai As’ad menulis ajakan yang menyentuh sebagai berikut:

Kaule anyuk una onggu, tore abekte dek guste Allah taretan kaule se gik odhik alam dunnya ampon akher.

(Saya benar-benar memohon, mari berbakti pada Allah. Saudara saya yang masih hidup. Alam dunia sudah akhir).

Kiai As’ad melalui syair karanganya sedang berupaya mengingatkan siapa pun orang Islam yang masih hidup untuk senantiasa beribadah kepada Allah menghadapi dunia yang memasuki zaman akhir. Sebelum kehidupan mereka berakhir atau meninggal. Sebelum usia alam semesta berakhir atau kiamat.

Kalimat yang digunakan dalam bait itu kaule anyuk una onggu. Kalau diartikan bukan hanya berharap saja tapi sampai kepada wilayah berharap dan memohon dengan sangat. Itu artinya Kiai As’ad menginginkan bagaimana umat Islam selamat secara keseluruhan. Bukan hanya dirinya, keluarga, para santrinya saja.

Baca juga:  Habib Usman: Tradisionalisme, Oportunisme, dan Intelektualisme

Dalam syair itu Kiai As’ad memposisikan siapapun sebagai saudara (dalam bahasa Madura yang ada dalam bait syair di atas taretan kaule bermakna saudara saya). Apa yang dilakukan Kiai As’ad adalah bentuk perhatian mendalam sebagai seorang saudara terhadap keselamatan dan kebahagian para saudara sesama Islam. (atk)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top