Sedang Membaca
Ssssst….. Silakan Tidur di dalam Masjid
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ssssst….. Silakan Tidur di dalam Masjid

Nur Wahid

Masjid secara bahasa berasal dari kata sajada, yang berarti tempat sujud. Secara istilah dapat diartikan sebagai tempat orang-orang muslim meletakkan dahi, sujud menyembah kepada Tuhannya. Lebih luas lagi, tempat melaksanakan sujud, dengan demikian tidak hanya sebatas dalam sebuah bangunan, rumah, di atas sebidang tanah, tetapi terhampar di atas bumi.

Baru dalam berkembangan lebih lanjut, masjid mewujud sebuah bangunan, yang fungsinya sebagai tempat sujud, menghadap kiblat. Seperti masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw, Masjid Quba: tonggak utama umat Islam, pusat kehidupan masyarakat muslim ketika itu dibangun pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi, di atas tanah Madinah.

Bisa dibayangkan bentuk bangunan Masjid Quba ketika itu, sangatlah sedarhana. Seperti disampaikan H. Aboebakar dalam buku Sedjarah Mesdjid dan Amal Ibadah Dalamnja (1955):

Mesdjid jang pertama jang didirikan oleh Nabi kita dalam tahun 622 di Quba itu bukanlah sebuah mesdjid jang sudah mewah pembangunannja. Mesdjid itu hanja sekedar memberikan tempat untuk sudjud, tempat sembahjang, jang dapat memberikan sedikit permenungan dari pada panas matahari jang sangat terik dipadang pasir itu dan memberikan sedikit perlindungan dari pada hiruk-pikuk di luar bagi mereka jang pada hari itu ingin sudjud untuk berterima kasih kepada Tuhan Pentjipanja. Mesdjid ini hanja dibangunkan dari pada pelepah-pelepah dan daun korma serta batu-baru gurun untuk pagarnja.

Begitu sederhana dan bersahaja Masjid Quba. Mengingat pula pada waktu itu belum seperti sekarang. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, mampu mendesain bangunan sedemikian rupa, berarsitektur modern, megah, agung nan indah.

Perkembangan zaman turut serta mengikuti perkembangan arsitektur bangunan masjid. Dalam perkembangan Islam selanjutnya, masjid-masjid pun berdiri kokoh sebagai salah satu tanda kejayaan atas capaian kemajuan peradaban Islam. Bahan untuk membangun pun tidak hanya sekedar batu bata mentah, tanah liat, kayu, dahan, daun dan bahan perekat alamiah. Kini bangunan masjid berbalut semen, berlapis marmer, keramik menghiasi sekujur bangunan, bertulang besi, baja bersendi kawat, paku.

Selain itu pahatan dalam bentuk seni kaligrafi, meriasi dan mempermanis bangunan masjid. Bahkan ada bangunan masjid kubahnya terbuat dari emas. Namun yang penting dicatat seperti yang diungkapkan oleh Achmad Fanani (2009: 11) adalah arsitektur bangunan masjid mengembangkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan sekaligus metafisik, untuk memenuhi unsur raga maupun rohaniah masyarakat.

Megah, luas dan indah dilihat sebuah bangunan masjid, kadang timpang dengan isi masjid. Kadang begitu besar bangunan masjid, dengan anggapan untuk menampung banyak jamaah, tidak selamanya penuh sesak dalam rentang ibadah wajib lima waktu. Paling-paling akan penuh, bahkan membludak, ketika salat Jumat dan lebih-lebih pada bulan Ramadhan.

Dari segi bangunan sekarang bergeser masuk ke dalam masjid.

Selain seni kaligrafi, jam dinding, kini dalam masjid banyak tertempel tulisan dalam bentuk larangan atau himbauan. Misalnya, “Dilarang Tidur di dalam Masjid”. Mungkin maksudnya sebagai anjuran, mengharapkan para jamaah ataupun para pengunjung untuk tidak tidur di dalam masjid.

Tetapi kata “dilarang” di sana terkesan tidak bersahabat, tidak ramah. Bagaimana dengan orang-orang yang sedang nunut berteduh dari hujan dan panas, orang-orang yang sedang mengadu nasib tetapi tidak punya tempat menginap sementara waktu, orang-orang yang dalam perjalanan? Bukankah harapan tempat (gratis) ada pada bangunan masjid? Harapan tempat para tukang becak atau para orang-orang yang bepergian tetapi kehabisan uang, harapan bagi orang-orang untuk sekedar berdiang dari hujan, berteduh dari terik matahari.

Baca Juga

Menjaga kesucian masjid bukan berarti melarang orang tiduran di dalam masjid. Memaknai rahmatan lil’alamin sebuah masjid, kiranya memeluk bagi siapa saja dan kapan saja, tidak lantas mengsekuritikan masjid, menguncinya dan melarang ada aktivitas di luar ibadah yang berselisih batas dengan fungsi sosial keberadaan dari sebuah bangunan masjid.

Selain itu perkembangan teknologi komunikasi pun membuat pengurus masjid harus menyikapinya.  Muncullah satu pengumuman lain seperti “Alat Komunikasi Mohon Dimatikan”. Harapannya adalah untuk meminimalisir gangguan. Jika alat komunikasi itu berbunyi ketika para jamaah sedang salat atau mengaji, tidak hanya pemilik yang tak konsentrasi namun juga jamaah lain. Para jamaah pun tahu diri, mematikan ponsel atau sekadar meredam suara.

Lalu, apa kaitan suara ponsel dengan diri saat sedang salat? Bukankah suara sekalipun itu lirih, tetap terdengar. Mata tetap terbuka, bahkan pikiran bisa melayang ke mana-mana saat salat meski dalam senyap sekali pun? Untuk mendamba kekhusukan, suara alat komunikasi seolah menjadi penghalang. Padahal, bukankan posisi diri saat salat itu juga sedang berusaha menafikan segala hal yang dapat mengganggu?

Wilayah kekhusukan adalah wilayah yang sumblim, pengalaman personal, tak menjamin dari kita yang pernah mengikuti training salat khusuk. Pada diri Nabi Muhammad Saw kita menirukan bagaimana gerakan salat. Dengan kata lain, Nabi salat dan khusuk. Sedangkan saya (barangkali kita) sedang belajar salat dan sedang belajar dikhusuk-khusukkan, sampai pada taraf kekhusukan itu sendiri. Jadi berusaha sungguh-sungguh melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh-Nya, seperti telah dipraktekkan oleh rasul-Nya.

Dari bangunan masjid dan keadaan yang menjadi nyata di dalam masjid tentunya tidak menggeser fungsi utama masjid sebagai tempat sujud. Tetapi setidaknya masjid menjadi ramah untuk siapa saja, masjid tidak tertutup karena alasan demi menjaga kesucian. Segi fisik bangunan masjid tentunya tidak semata-mata yang dikedepankan, namun juga dibarengi segi metafisik dan peran sosial dari sebuah bangunan masjid.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top