Sedang Membaca
Universitas Az-Zaitunah, Universitas Tertua Peninggalan Peradaban Islam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Universitas Az-Zaitunah, Universitas Tertua Peninggalan Peradaban Islam

Nur Hasan

 

Kejayaan suatu peradaban ditentukan oleh maju mundurnya tradisi keilmuan, ketika tradisi keilmuan tidak lagi berkembang, maka pertanda peradaban tersebut sudah diambang kehancuran. Sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun dalam kitab Al-Muqaddimah, bahwasanya ilmu adalah subtansi terpenting dalam sebuah peradaban. Salah satu penopang tradisi keilmuan yang ikut andil dalam membawa peradaban Islam, ke puncak kejayaan adalah perguruan tinggi atau universitas.

Salah satu universitas yang mempunyai peranan penting dalam kejayaan peradaban Islam, adalah universitas Az-Zaitunah yang ada di Tunisia. Universitas yang berada di negara Tunisia ini, dulunya merupakan sebuah masjid yang didirikan pada masa Dinasti Umayyah, sebagai pusat ibadah sekaligus juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Masjid Az-Zaitunah sebagai embrio Universitas Az-Zaitunah didirikan oleh Ubaidillah Ibn Habhab, salah seorang gubernur Tunis yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 737 M/120 H untuk memerintah di daerah tersebut. Pendirian masjid Az-Zaitunah sendiri, berdasarkan perintah salah seorang penyebar Islam di wilayah Tunisia yaitu Hassan ibn Nu’man. Sedangkan Ubaidillah ibn Habhab sendiri berkuasa di tunis mulai tahun 110 H/728 M, di mana Tunis pada waktu itu merupakan salah satu wilayah otonom yang masih menginduk ke Mesir.

Dalam perkembanganya, Tunisia dan Az-Zaitunah silih berganti berada dibawah pemerintahan dinasti-dinasti yang pernah memerintah wilayah tersebut diantaranya adalah Umayyah, Abbasiyyah, Fathimiyah, Aghlabiyah, Muwahidun, Hafsiah, dan Utsmaniyah. Pada abad ke-13 M, Az-Zaitunah menjadi salah satu perguruan tinggi berpengaruh pada waktu itu. Begitu banyak kitab dan manuskrip yang dihasilkan oleh para ilmuwan dan ulama dari Az-Zaitunah. Geliat ilmu pengetahuan di Az-Zaitunah dan Tunis, menarik minat para sarjana dan cendekiawan muslim untuk menimba ilmu di universitas tersebut.

Baca juga:  Jazirah Arab Sebelum Masuknya Islam

Tercatat universitas ini banyak menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar, diantaranya adalah Imam at-Tanukhi ahli fikih madzhab Maliki, Imam Ibnu Urfa at-Tunisi, Ibnu Khaldun, Ibnu Asyur yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam diskursus Maqashid Syari’ah dan lain sebagainya. Selain itu, Az-Zaitunah juga mencetak para tokoh kebudayaan Islam Arab, seperti Taufik al-Madani, Abdul Hamid Ibnu Badis sosok yang mengembalikan identitas Islam di Aljazair pada tahun 1940 an.

Baca Juga

Sebagai lembaga pendidikan tertua di dunia, Az-Zaitunah mempunyai peran besar sebagaimana halnya Al-Azhar di Mesir dan Al-Qarawiyin di Maroko dalam menopang kemajuan dan kejayaan peradaban Islam, serta penyebaran ilmu pengetahuan. Dalam perjalanan sejarahnya, Az-Zaitunah juga pernah menjadi sasaran penjarahan dari orang-orang Spanyol yang menaklukan Tunisia. Yaitu pada tahun 940-981 H/1534-1574 M, di mana para pasukan Spanyol menjarah masjid-masjid dan perpustakaan di Tunisia, salah satunya adalah perpustakaan Univeristas Az-Zaitunah. Penjaraha tersebut mengambil kitab-kitab dan manuskrip yang ada di dalamnya.

Di masa Turki Utsmani yang berhasil merebut Tunisia dari tangan orang-orang Spanyol, membangun dan mengembalikan kembali Az-Zaitunah sebagai pusat kebudayaan Islam. Pada masa Tunisia berada di bawah penjajahan Perancis, Masjid Az-Zaitunah mempunyai peran besar sebagai pusat perlawanan dan pergerakan terhadap penjajahan Perancis. Di masjid itu lah, pertama kalinya muncul persatuan pergerakan nasionalis Tunisia.

Baca juga:  Matematika dan Fisika dalam Kanvas Peradaban Islam

Selain Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitunah juga menjadi salah satu kiblat umat Islam dalam mengembangkan Islam wasathiyah dan menjadi tujuan para penuntut ilmu dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali dari Indonesia. Hanya saja, Az-Zaitunah sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua dalam sejarah peradaban Islam pamornya tidak semasyhur Al-Azhar di mana para alumni-alumninya, khususnya yang ada di Indonesia banyak yang menjadi tokoh-tokoh besar. Selain itu, salah satu ulama besar yang lahir dari rahim Az-Zaitunah juga pernah menjadi Syekh Al-Azhar dari tahun 1952-1954 yaitu Syekh Al-Khudar Al-Husein, di mana beliau bukan ulama Mesir.

Lihat Komentar (0)

Komentari