Sedang Membaca
Pujian Menjelang Salat Jamaah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Pujian Menjelang Salat Jamaah

Nur Ahmad

Ada beberapa manifestasi keislaman kita yang berubah sama sekali hingga tidak dikenali lagi sebagai syiar keagamaan (baca: Islam). Padahal proses pembentukannya pada mulanya adalah penanda perubahan kebudayaan dari kebudayaan bernuansa Hindu-Buddha menuju ke kebudayaan Islam. Ini terjadi misalnya pada seni suluk dan serat Jawa yang menggunakan metrum macapatan. Metrum ini disinyalir kuat muncul sebagai manifestasi kebudayaan Islam yang semakin mendominasi kultur Jawa kala itu.

Selain tidak dikenal pada masa Hindu-Buddha, tembang-tembang yang disusun dalam metrum ini sering kali adalah ajaran tasawuf para bijak bestari Jawa yang menekankan tauhid terutama sebagaimana dipahami dalam tasawuf Ibnu Arabi (tauhidul wujud).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun sekarang jika seorang melantunkan tembang dengan metrum macapat, misalnya serat Tuhfah, maka dengan sendirinya masyarakat tidak melihat isinya yang mengajarkan tauhid, tapi hanya bungkusnya saja. Itu pun dengan sebutan embel-embel kejawen, tradisi bukan Islam, atau sebutan negatif lainnya.

Bahkan, nampaknya sekarang sesuatu yang tidak dibahasakan Arab tidak dianggap sebagai syiar Islam. Salah satu yang sering sekali ditemui adalah lantunan pujian di antara azan dan iqamah. Di masa lalu, dulu sekali, puji-pujian disusun dalam bahasa lokal setempat.

Praktik ini sekarang jarang sekali ditemui, kecuali di langgar-langgar di pelosok desa. Sekarang orang akan menilai kurang Islami kalau muazin tidak melantunkan lagu-lagu qasidah berbahasa Arab sebelum salat jamaah dilakukan. Masih lumayan jika syair Arab itu didendangkan secara langsung oleh marbot sekaligus muazin itu; celakanya sebagian besar hanya menggunakan kaset atau rekaman dalam flashdisk yang diputar berulang-ulang.

Baca juga:  Obituari: Hamsad Rangkuti, Kebohongan yang Indah

Syair-syair berbahasa lokal itu sudah sulit sekali ditemui dalam tradisi lisan yang hidup. Namun, untungnya, cukup banyak manuskrip Jawa yang mengabadikan syair-syair tersebut. Apabila tidak segera diabadikan dalam kajian penelitian bisa dikhawatirkan syair-syair itu akan hilang ditelan waktu yang merusak lembaran kertas manuskrip.

Berikut adalah contoh sebuah halaman manuskrip yang merekam syair lokal berbahasa Jawa. Seorang mahasiswa S3 di Australia mengirimkannya awal tahun ini. Kepada saya, Rowan, mahasiswa tersebut, meminta bantuan untuk membaca dan menerjemahkannya. Menurutnya manuskrip ini tersimpan di Perpustakaan Negara Bagian Victoria.

Lebih lanjut dia menjelaskan ada 50-an naskah yang tidak dapat dikenali oleh pustakawan di perpustakaan tersebut dan mereka meminta bantuan kepadanya. Tidak jelas apakah seluruhnya ditulis dalam Pegon-Jawa atau tidak. Yang jelas adalah satu naskah yang dikirimkannya ini beraksara Pegon-Jawa dan dalam bahasa Jawa yang di masa sekarang sebagian kosakatanya telah mati.

Berikut adalah hasil bacaan saya dan terjemahannya sebagaimana saya kirimkan padanya:

(merah) hadzihi al-nadzom/
Bismillahir rahmanir rahim/
Rupa jalma wajib amaca agama/
dzohir batin ngarah akhirot utomo/
ngilmu telu saringat lan thoriqote/
haqiqote yen weruh munggah pangkate/
aja demen ngibadah sumoyo besok/
lah ilingo tambah tuwo tambah bosok/
rumasane saya tuwa mesti gampang/
wus anane pipi lempot aturu meneng/
mata rebes gager wungkuk ati goyang/
kurang mangan merngut putune diomyang/

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terjemahannya:

(Merah) Ini adalah syair/
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang/
Manusia menjadi makhluk yang wajib belajar agama/
secara lahir dan batin untuk menuju akhirat dan itulah yang utama/
Ilmu itu ada tiga yaitu syariat, tarekat/
dan hakikat; bagi siapa yang mengetahui semuanya akan tinggi kedudukannya/
jangan suka menunda ibadah dengan mengatakan “besok-besok”/
ingatlah bahwa semakin tua tubuhmu semakin membusuk/
kamu pikir semakin tua akan semakin mudah/
padahal keadaannya pipimu telah kempot jika tidur sangat lah hening (seakan sudah mati)/
Matamu selalu mengeluarkan kotoran mata; punggungmu telah bungkuk dan jantungmu berdebar-debar/
setiap kurang makan kamu cemberut dan cucumu engkau marahi/

Syair-syair (syi’iran, Jawa) semacam ini sudah tidak menarik lagi didendangkan di langgar dan masjid kita. Ini perubahan yang sangat drastis di masyarakat kita, bukan?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top