Sedang Membaca
Islamisasi Jawa: Mati Bersama Cahaya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Islamisasi Jawa: Mati Bersama Cahaya

Nur Ahmad
Islamisasi Jawa: Mati Bersama Cahaya 2

Proses bagaimana Islam menjadi agama masyarakat Indonesia, Jawa pada khususnya, sangat kompleks. Analisis yang selama ini ada diakui masih jauh dari kata final dan konklusif. Masih terbuka ruang lebar bagi masuknya data-data baru dan analisis lebih lanjut mengenainya.

Hal tersebut misalnya diperoleh dari semakin gencarnya usaha menggali manuskrip Islam yang memberikan gambaran bagaimana elemen-elemen Jawa pra dan pasca Islam berdialog dan saling mengambil unsur di antara mereka untuk terus hidup di masyarakat.

Oleh sebab itu, perlu kesabaran dan ketekunan lebih dalam melakukan kajian kesejarahan Islam Jawa. Beberapa kajian yang relatif singkat dapat memberikan kesimpulan keliru yang harus dibaca sebagai sejarah pemikiran tentang Islam Jawa itu sendiri.

Ia adalah proses melihat Islam Jawa yang sangat mungkin direvisi, diperkuat, atau bahkan berubah sama sekali karena masuknya bukti-bukti baru. Hal ini sudah jamak diketahui misalnya dari kasus Islam Jawa-nya Clifford Geertz (2014), dan pandangan Merle Calvin Ricklefs (dalam Zainul Milal Bilzawie, 2014) mengenai aksara pegon. Yang terakhir secara keliru menilai bahwa pegon tidak memiliki karakteristik tempat dan waktu.

Kajian Amiq Ahyad di Universitas Leiden baru-baru ini mengenai manuskrip pesantren memberikan bukti bahwa pegon dari satu daerah memiliki kekhasan yang membedakannya dari daerah lainnya. Bahkan satu pesantren di satu daerah bisa memiliki karakter yang konklusif dalam membedakannya dengan pesantren lain di daerah yang sama.

Selain itu, perbedaan kosakata yang muncul dalam satu manuskrip pegon bisa memberikan gambaran kasar mengenai periode waktu penulisannya.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menunjukkan pada salah satu konsep yang membuktikan betapa rumitnya hubungan antara elemen-elemen yang (pernah) hidup dalam Islam Jawa. Praktik spiritualitas yang ditandai dengan penglihatan batiniah (visionary perception) berupa cahaya sangat penting dalam tradisi tarekat Kubrawiyah.

Martin van Bruinessen (2012) mengajukan analisis yang mengantarkan pada kesimpulan bahwa pendiri Kubrawiyah inilah, yaitu Najmuddin al-Kubra, yang di Nusantara dikenal secara misterius dengan Syekh Jumadil Kubro. Namun dalam tradisi yang sebelumnya telah ada di Jawa, Tantrisme, praktik yang sama juga merupakan tradisi yang hidup.

Sekarang, dari sini kita dapat menjelaskan bagaimana praktik yang pernah sangat terkenal di Nusantara lahir. Yaitu mengenai apa saja yang akan dihadapi manusia ketika sekarat dana apa yang harus dia lakukan.

Salah satu naskah yang paling muda yang masih mengandung ajaran ini berasal dari Jepara di awal abad ke-19. Ia ditulis oleh seorang tokoh agamawan setempat yang jelas sekali merupakan keturunan ulama dari Hadramaut.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pendakwah dari Hadramaut pun secara lekat mengikuti dialog langsung dengan tanpa mengambil jarak dengan obyeknya di dalam masyarakat Jawa. Orang barangkali dapat menilainya sebagai contoh seorang yang menusantara, “angajawi” dalam teks-teks Islam Jawa.

“Syahadat Sekarat”, demikian praktik ini dikenal, mengandung unsur-unsur yang dapat kita runut dari tradisi Kubrawiyah dan Tantrisme ini. Berikut teksnya:

Baca Juga

(Gambar atas. Teks “Syahadat Sekarat”, hlm. 65 dari manuskrip yang disimpan K.H. Ubaidillah Noor Umar, Rois Syuriah PCNU Jepara. Saya dapatkan kopiannya dari pak Hisyam Zamroni, Wakil Ketua PCNU Jepara. Foto pribadi.)

Punika/ syahadat sekarat tatkala parak ajale asanget/ warnaning pati iku maka aningali ing cahya ireng maka/ iya iku iblis maka amacaha lā ilāha illallāhu Muammad/ar Rasūlullāh (suatu tanda seperti bunga) maka tatkala aningali cahya kuning maka/ iya iku yahudi maka amacaha lā ilāha illallāhu Huwa2/ (suatu tanda seperti bunga) maka tatkala aningali cahya abang maka iya (teks tak terbaca, mungkin “iku”) bashari maka amacaha lā ilāha illallāhu Huwa Huwa2  maka/ tatkala aningali cahya ijo maka iya iku Jabrail/ fataqabbalallāhu Huwa Huwa2 (suatu tanda seperti bunga) maka tatkala aningali cahya/ putih maka iya iku Nabi Muhammad maka amacaha/ Huwa Huwa tegese syahdat sekarat (suatu tanda berhenti dan tulisan “tamat”)

Terjemahan teks:

Ini adalah syahadat sekarat (yang orang lihat) ketika menjelang mati. Jenis-jenis mati itu adalah (1) ketika melihat cahaya hitam, itu adalah iblis, maka bacalah lā ilāha illallāhu Muammadar Rasūlullāh “Tiada tuhan melainkan Tuhan, Muhammad adalah utusan Tuhan” (suatu tanda seperti bunga). (2) ketika melihat cahaya kuning, itu adalah yahudi, maka bacalah lā ilāha illallāhu Huwa2, “Tiada tuhan melainkan Tuhan, Dia! Dia!” (suatu tanda seperti bunga). (3) ketika melihat cahaya merah, itu adalah manusia, maka bacalah lā ilāha illallāhu Huwa Huwa2, “Tiada tuhan melainkan Tuhan, Dia! Dia! Dia!”. (4) ketika melihat cahaya hijau, itu adalah Jibril, (bacalah) fataqabbalallāhu Huwa Huwa2, “Semoga Allah menerima (amal kebajikan), Dia! Dia! Dia! (suatu tanda seperti bunga). (5) ketika melihat cahaya putih, itu adalah Nabi Muhammad, maka bacalah Huwa Huwa, “Dia! Dia!”. Inilah penjelasan syahadat sekarat (suatu tanda berhenti dan tulisan “tamat”).

Gambar 2: Infografis Syahadat Sekarat. Pribadi.

Praktik semacam ini yang sangat sulit ditemukan dalam ortodoksi murni, jika ada, mengundang dua pandangan yang mungkin. Ia akan dikecam sebagai usaha mengotori Islam dengan bidah, khurafat, dan sesat di satu sisi. Atau ia akan diapresiasi sebagai kreatifitas dalam berdakwah yang mana menuntut kemampuan “meracik” apa yang tidak dilarang oleh nash-nash utama, Alquran dan hadis, di lain sisi.

Yang jelas abad ke-19 adalah akhir dari praktik ini, karena terbukanya terusan Suez di pertengahan abad itu disinyalir membawa dampak gelombang pembaharuan yang menuntut adanya penekanan terhadap ortodoksi terbatas yang tokoh-tokohnya, misalnya, adalah K.H. Sholeh Darat, Syekh Nawawi Banten, dan Syekhuna Kholil Bangkalan.

Lihat Komentar (2)

Komentari

Scroll To Top