Sedang Membaca
Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (9): Taman Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW
Nasrullah Jasam
Penulis Kolom

Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Menyelesaikan S3 di Universitas Abd. Malik Al Sa'adi, Maroko, bidang Sejarah Agama dan Peradaban Islam (2010).

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (9): Taman Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (9): Taman Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW

Selain melaksanakan sholat arba’in di Masjid Nabawi, tempat yang diburu jamaah haji adalah raudhah dan makam Rasulullah SAW. Raudhah dari segi bahasa berarti taman, dalam salah satu hadistnya beliau SAW. bersabda:

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة  (متفق عليه)

“antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga”

Luas raudhah hanya 22mx15m (330M2), ditandai dengan karpet berwarna hijau untuk membedakan dengan warna karpet selain raudhah di masjid nabawi yang berwarna merah. Untuk masuk ke dalam raudhah jamaah haji harus sabar mengantri, disaat-saat tertentu antrian masuk raudhah bisa 1 jam, karena luasnya terbatas jamaah haji tidak bisa berlama lama di raudhah.

Polisi Arab Saudi yang bertugas mengatur alur jamaah di raudhah biasanya hanya memberikan waktu kepada jamaah untuk sekedar sholat sunnah dan berdo’a setelah itu masuk jamaah lain di antrian berikutnya kecuali ketika jamaah sudah di dalam raudhah kemudian masuk waktu sholat, jamaah bisa lebih lama berada di raudhah, karena ketika masuk waktu sholat, akses ke raudhah biasanya di tutup jadi jamaah yang sudah “terjebak” di raudhah bisa berlama-lama setidaknya sampai sholat selesai. Di masjid nabawi dan umumnya masjid di Arab Saudi, jeda waktu dari azan sampai dengan qomat  lumayan lama sekitar 10-15 menit. Hingga sholat selesai dilaksanakan setidaknya keberadaan kita di raudhah tidak di usik oleh petugas.

Baca juga:  Tahun 1990an, Hari-Hari Terberat Gus Dur

Setelah berdo’a di raudhah jamaah haji biasanya melanjutkan untuk berziarah ke makam nabi Muhammad SAW, dilanjutkan ke makam Abu Bakar dan Umar kemudian keluar masjid menuju komplek pemakaman Baqi’, tempat dimakamkannya sayyidah ‘Aisyah dan para sahabat yang lain. Dalam suatu riwayat disebutkan, sesungguhnya sayyidah ‘Aisyah berkeinginan untuk dimakamkan didekat rasulullah SAW. namun ternyata sahabat Umar bin Khattab memiliki keinginan yang sama.

Saat beliau sakit yang menyebabkan kematiannya, beliau mengutus putranya Abdullah bin Umar untuk menyampaikan pesan kepada sayyidah ‘Aisyah agar ia bisa dimakamkan disamping makam rasulullah SAW. dan makam Abu Bakar. Sayyidah ‘Aisyahpun menjawab: “sesungguhnya saya ingin di makamkan disamping makam rasulullah SAW. dan makam ayahku, tetapi aku mengutamakan Umar daripada diriku”. Ketika Abdullah bin Umar mengabarkan berita gembira tersebut kepada ayahnya, Umar pun berkata: “segala puji bagi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku dari kabar gembira ini”.[1] Seperti itulah kecintaan sahabat Umar bin Khattab kepada rasulullah SAW. setelah meninggalpun beliau tidak ingin jauh-jauh dari rasulullah SAW.

Raudhah dan makam rasulullah SAW. dikenal sebagai tempat yang mustajab, di salah satu tiang menuju makam rasulullah SAW. tertulis bait sya’ir dari seorang Arab badui, sya’ir tersebut berbunyi:

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه *** فطاب من طيبهن القاع والأكم

Baca juga:  Adu Kecerdasan antara Al-Baqillani dengan Raja Romawi

نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه *** فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur ditanah datar

Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi

Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang engkau tinggal didalamnya

Didalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedemawanan

Sya’ir ini di dendangkan ketika ia berziarah ke makam rasulullah SAW.  “menagih” janji Allah swt. yang terdapat dalam surat an Nisâ ayat 64:

…وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“…Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Setelah membaca surat ini, ia berkata: “aku datang kepadamu untuk meminta ampun terhadap dosaku dengan meminta syafa’at kepadamu agar Allah mengampuni dosa-dosaku” setelah itu ia mendendangkan sya’ir diatas. Syekh Abu Manshur as Shabâg yang meriwayatkan kisah ini kemudian tertidur dalam mimpinya ia bertemu dengan rasulullah SAW. berkata: “temuilah badui – yang berdo’a tadi -dan sampaikan sesungguhnya Allah swt. telah mengampuninya”.[2]

Tentu masih banyak lagi keutamaan raudhah dan makam rasulullah SAW. oleh karena tidak aneh jika jamaah haji maupun umroh rela berdesak desakan untuk masuk ke raudhah dan berziarah ke makam nabi Muhammad SAW. setiap kali kita berziarah selalu terdengar bacaan sholawat dari para penziarah dari seluruh dunia dengan langgam yang berbeda beda, ada langgam India, Pakistan, Turki dan tentu saja ada langgam Melayu yang keluar dari mulut jamaah haji Indonesia, Malaysia, Thailand dan Negara Asia Tenggara lainnya.

Baca juga:  Melacak Sejarah Kristen di Mesir: Ketika Islam dan Kristen Dapat Hidup Damai

Ada yang melambai-lambaikan tangannya sambil mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW rasanya begitu dekat hati mereka dengan Rasulullah SAW seolah beliau ada dihadapan mereka menyambut sambil tersenyum. Kecintaan yang luar biasa terhadap sosok Rasulullah s.a.w membuat mereka tidak lagi memperdulikan betapa besar usaha dan tenaga yang mereka keluarkan untuk sekadar berdiri sesaat dihadapan makam beliau shallalahu alaihiwasalam.

Segala keletihan, kepayahan dan tempat yang terbatas seolah sirna. penjagaan ketat para askar makam Rasulullah SAW bukan penghalang untuk memberikan penghormatan kepada sang uswah hasanah (teladan baik), yang menyelamatkan ummat manusia dari jurang kehancuran, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seraya berkata assalamu alaika ya rasulullah, assalamu alaika ya habiballah.

[1]  Kitab mafâhim yajibu an tusohaha, sayyid Muhammab bin ‘Alawi bin ‘Abbas al Malikî al Hasanî al Makkî, hal 151.

[2]  Kitab mafâhim yajibu an tusohaha, sayyid Muhammab bin ‘Alawi bin ‘Abbas al Malikî al Hasanî al Makkî, hal 166

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top