Sedang Membaca
Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (8): Tsaniyatulwada’
Nasrullah Jasam
Penulis Kolom

Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Menyelesaikan S3 di Universitas Abd. Malik Al Sa'adi, Maroko, bidang Sejarah Agama dan Peradaban Islam (2010).

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (8): Tsaniyatulwada’

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (8): Tsaniyatulwada'

“Tsaniyatulwada'” adalah kata yang tidak asing di telinga kita, apalagi jika kita termasuk orang yang gemar membaca atau mendengarkan sya’ir berikut:

طلع البدر علينا من ثنيات الوداع # وجب الشكر علينا ما دعا لله داع

Telah muncul bulan purnama atas kami dari lembah tsaniyatul wadâ’

Dan kami wajib bersyukur dimana seruan adalah kepada Allah

Dari sisi bahasa, tsaniyat memiliki arti at-Thoriq fi al-Jabal (jalan di gunung), sedangkan wada’ memiliki arti: berpisah. Oleh masyarakat Arab, Tsaniyatulwada’ berarti adalah tempat untuk berpisah dengan orang yang akan melakukan berpergian atau menyambut orang yang datang dari suatu berpergian. Mungkin kalau saat ini Tsaniyatulwada’ adalah tempat semacam terminal bus, stasiun kereta atau airport untuk mengantar dan menjemput orang yang akan dan baru datang dari bepergian. tsaniyatulwada’ dijadikan tempat untuk mengantar dan menjemput karena posisinya berbatasan dengan kota Madinah.

Di Madinah ada dua tempat yang disebut sebagai Tsaniyatulwada’ yaitu: 1. Yang terletak diarah utara kota Madinah, didekat bukit kecil diatasnya terdapat Masjid yang saat ini sudah diratakan karena proyek perluasan jalan raya. 2. Yang terletak di jalan Masjid Quba yang saat ini berdiri Qol’ah Utsmaniyah. Tsaniyatulwada’ yang ini adalah Tsaniyatulwada’ yang sudah dikenal sejak jaman jahiliyah.

Baca juga:  Sajian Khusus: Ulama Perempuan Melawan Penjajah

Bahkan menurut keyakinan jahiliyah, siapapun yang akan memasuki kota Madinah harus melalui dan berhenti di Tsaniyatulwada’ kemudian melakukan ritual meringkik seperti halnya himar. Jika ia tidak melakukan ritual tersebut maka ia akan terserang demam yang bisa jadi membunuhnya. Namun anggapan ini dipatahkan oleh ‘Urwah bin al ward salah seorang penyair jahili, ketika ia masuk kota Madinah ia tidak meringkik seperti himar dan ternyata ia tidak demam seperti yang di yakini oleh orang-orang jahiliyah kala itu.

Sebagian kalangan menganggap bahwa syair di atas bukanlah sya’ir penyambutan Rasulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, karena Tsaniyatulwada’ di Utara Madinah (syamaliyah) letaknya di arah Syam dan orang yang datang dari Makkah tidak akan melalui arah ini maka syair diatas tadi adalah sya’ir yang didendangkan kalangan Anshor ketika menyambut Rasulullah SAW dan para sahabat dari perang Tabuk.

Jika demikian apakah mungkin Tsaniyatulwada’ kedua yang terletak di arah selatan kota Madinah yang dilewati oleh Rasulullah SAW ketika Hijrah dari Makkah ke Madinah karena dari sisi letak mengarah ke kota Makkah sehingga sya’ir tadi adalah sya’ir penyambutan ketika rasulullah SAW hijrah seperti diyakini selama ini. Wallahau’alam bishowab.

Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

 

Baca juga:  Nubuat Ratu Adil: Dari Soal Kesaktian hingga Politik Belanda
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top