Sedang Membaca
Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (7): Masjid Jum’at
Nasrullah Jasam
Penulis Kolom

Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Menyelesaikan S3 di Universitas Abd. Malik Al Sa'adi, Maroko, bidang Sejarah Agama dan Peradaban Islam (2010).

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (7): Masjid Jum’at

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (7): Masjid Jum’at

Masjid Jum’at dikenal juga dengan nama masjid al-Wadi dan Masjid ‘Atikah, juga masjid al qobib sesuai dengan nama tempat dimana masjid tersebut dibangun. Dinamakan Masjid Jum’at karena saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan tiba di Quba pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, Rasulullah bermalam selama empat hari di Quba, dan pada hari Jum’at pagi beliau SAW melanjutkan perjalanannya dan mendapati waktu sholat Jum’at ketika tiba di tempat tersebut yang dihuni oleh Bani Salim bin ‘Auf dari kalangan Anshor.

Rasulullah SAW. dan rombongan berhenti dan melaksanakan sholat Jum’at ditempat tersebut dan itulah sholat Jum’at pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabat setelah beliau SAW. hijrah ke Madinah.

Masjid Jum’at terletak di selatan barat Madinah berjarak sekitar 900 meter dari masjid Quba dan sekitar 2300 meter dari masjid Nabawi. Masjid jum’at beberapa kali mengalami renovasi. Awalnya dibangun dari batu kemudian sempat roboh dan dibangun kembali. masjid ini diperbarui kembali pada masa Umar bin Abdul Aziz dan pada masa Abbasiyah antara tahun 155H-159H. Akhir abad ke 9 H atap masjid ambruk kemudian diperbaiki oleh Syamsuddin Qowan. Pada akhir abad 9 H, Sultan Bayazid dari Daulah Utsmaniyah memerintahkan untuk merenovasi masjid Jum’at dan setelah itu baru ada renovasi lagi pada pertengahan abad 14 H oleh Sayyid Hasan Syarbatli dan beberapa pembaharuan dilakukan pada masa Raja Fahd.

Baca juga:  Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (4): Masjid Qiblatain

Sebelum perluasan terakhir, ukuran Masjid Jum’at adalah panjang 8 meter, lebar 4,5 meter dan tinggi 5,5 meter, memiliki satu qubah dan dibagian utaranya terdapat bangunan ruwaq (bangunan untuk tempat tinggal para penuntut ilmu/santri yang belajar di masjid) panjangnya 8 meter dan lebar 6 meter.

Jum’at berasal dari kata al-Jam’u yang memiliki arti berkumpul. Pada hari tersebut ummat Islam berkumpul seminggu sekali dan pada hari itu juga penciptaan manusia masuk ketahap penyempurnaan. Jum’at merupakan hari ke enam dari masa enam hari diciptakannya langit dan bumi, di hari Jum’at juga nabi Adam dimasukkan kedalam surga dan di hari jum’at pula nabi Adam dikeluarkan dari surga dan pada hari Jum’at juga terdapat satu waktu yang sangat mustajab, kebaikan yang diminta oleh seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah swt.

Diriwayatkan Salman al Faritsi, Rasulullah SAW. bertanya: “wahai Salman apakah hari Jum’at itu? aku menjawab: Allah dan rasul Nya lebih tahu. Maka rasulullah SAW. berkata: ” – hari Jum’at – adalah hari dimana para leluhurmu berkumpul”.

Pada zaman Jahiliyah, hari Jum’at dikenal dengan hari ‘Arubah. Ketika ummat Yahudi memilih hari Sabtu dan ummat nasrani memilih hari Minggu sebagai hari yang mereka agungkan maka ummat Islam memilih hari Jum’at sebagai sayyidul ayyam, hari dimana penciptaan mencapai kesempurnaannya. Mengenai kapan sholat Jum’at pertama kali dilaksanakan, para ulama berbeda pendapat ada yang mengatakan bahwa sholat Jum’at pertama kali dilaksanakan di Makkah, ada juga yang berpendapat bahwa sholat Jum’at pertama kali dilaksanakan di Madinah, pendapat lainnya mengatakan bahwa sholat Jum’at diwajibkan di Makkah namun dilaksanakan pertama kali di Madinah. (dari berbagai sumber)

Baca juga:  Sisi Manusiawi Rasulullah Saw (2): Laknat Kanjeng Nabi yang Membawa Rahmat

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top