Sedang Membaca
Khutbah Idul Fitri: Halal bi Halal Virtual dan Kemenangan Umat Islam
Penulis Kolom

Penulis pernah mengajar di SMKN 2 Jepara, dan mengabdi di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Jepara. Pernah juga diamanahi menjadi Ketua MWC NU Kota Jepara. Kolom Khutbah Jumat adalah kumpulan naskah-naskah yang pernah disampaikan oleh almarhum dalam mimbar Jumat. Naskah itu kini diketik ulang supaya bermanfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Lahu-alfaatihah..

Khutbah Idul Fitri: Halal bi Halal Virtual dan Kemenangan Umat Islam

Hadirin Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah..

Dalam suasana pagi hari yang khidmat berselimut rahmat dan kebahagiaan ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala curahan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua, sehingga di pagi hari yang cerah ini kita dapat menunaikan sholat ‘Idul Fitri dengan khusyu’ dan tertib. Hari ini, takbir dan tahmid berkumandang di seluruh penjuru dunia, mengagungkan asma Allah SWT.

Gema takbir yang disuarakan oleh lebih dari satu setengah milyar umat manusia di muka bumi ini, menyeruak di setiap sudut kehidupan: baik di masjid, di lapangan, di surau, di kampung-kampung, di gunung-gunung, dan di seluruh pelosok negeri umat Islam dimanapun berada. Dan itu merupakan suatu kenikmatan yang tiada tara.

Mari kita gunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya, terutama dalam melakukan ibadah sosial yang berhubungan dengan sesama manusia, yakni saling meminta maaf, dan juga ibadah spiritual, memohon kepada Allah supaya puasa kita, tarawih dan witir kita, bacaan tilawatil qur’an kita selama di bulan suci Ramadan diterima oleh Allah SWT. Amin Ya rabbal Amin.

Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Imam Muslim).

Allahhu Akbar x3 Walillahhil Hamd. Jama’ah Salat Id yang Dimuliakan oleh Allah.

Di negara Indonesia, ada sebuah tradisi yang unik ketika lebaran tiba, yakni yang kita kenal dengan istilah “halal bi halal”. Istilah tersebut tentu tidak akan kita temui di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Di negara Arab misalnya, istilah “Halal bi Halal” pasti akan menjadi ambigu, karena kata Halal: yang berarti “boleh” bi berarti: “dengan” dan Halal: “boleh”, dan jika diartikan akan menjadi “boleh dengan boleh”. Padahal, “Halal bi Halal” mempunyai arti kultural, yakni budaya saling memaafkan, budaya saling berkunjung ke rumah sanak saudara untuk memberi dan memohon maaf.

Baca juga:  Masjid Wapauwe, Saksi Tua Sejarah Islam di Maluku

Oleh sebab itu, kita sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, harus bangga dengan kebudayaan-kebudayaan luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Di dalam istilah halal bi halal tersebut, kata ‘bi’ selalu dikaitkan dengan hubungan antar umat manusia, yaitu hablumminnas. Sehingga baik antara si A dan si B ketika keduanya sudah halal bi halal, berarti mereka berdua sudah tidak ada lagi keburukan, sudah tidak ada lagi kejahatan, kemungkaran, dan ketidakadilan yang belum terbereskan. Dan apabila di antara keduanya masih ada permusuhan dan pertikaian, berarti antara si A dan si B belum terbentuk halal bi halal, karena antara keduanya belum bersih, masih ada noda dan kesalahan. Oleh sebab itu, agar menjadi halal bi halal, maka antara A maupun B keduaya harus saling meminta maaf.

Di tengah pandemi yang masih berlangsung seperti saat ini, untuk menjaga kebaikan semua, halal bi halal bisa dilakukan secara virtual atau online. Sudah banyak aplikasi dan teknologi canggih yang bisa kita manfaatkan untuk menjaga tradisi halal bi halal yang sudah mengakar kuat di tengah-tengah kita tanpa mengurangi esensi dan nilai dalam bersilaturrahim.

Allahhu Akbar x3 Walillahhil Hamd. Jama’ah Salat Id yang Dimuliakan oleh Allah.

Akhir-akhir ini, terutama di media sosial, seseorang bisa dengan mudahnya mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas atau tidak sopan. Menyerang orang lain, dan mendiskreditkannya. Padahal, hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama islam dan teladan Rasulullah Saw

Baca juga:  Masjid Agung Taipei, Warisan Chiang Kai-shek yang Jadi Monumen

Oleh sebab itu, momentum hari raya Idul Fitri ini harus bisa kita refleksikan bersama sebagai hari kembali kepada kesucian, tanpa buruk sangka dan kata-kata kasar. Bila hal itu pernah dilakukan, mari meminta maaf, saling memaafkan satu sama lain, dan menanggalkan ego atau nafsu kita. Karena bangsa yang besar adalah ia yang mampu memberi dan meminta maaf kepada sesama. Meminta maaf bukanlah gengsi, akan tetapi sebagai wujud kita sebagai hamba, sebagai manusia yang tidak pernah luput akan dosa dan menyadari banyaknya kesalahan yang kita punya.

Ada banyak pemimpin bangsa di negeri ini yang sudah meneladankan budaya saling maaf memaafkan. Kita tentu tahu dengan sosok KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, semasa rezim Orde Baru, Gus Dur bisa dikatakan sebagai musuh politiknya Pak Harto, Akan tetapi bila lebaran tiba, beliau tidak sungkan datang ke Cendana, bersilaturrahim, menyambung tali persaudaraan dan saling maaf memaafkan.

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa fitrah dari manusia adalah mencintai kedamaian, mencintai kerukunan, dan mencintai kasih sayang, itulah yang dinamakan dengan Islam rahmatan lil’alamin. Dan Islam ramah itu merupakan ajaran kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana yang tercantum di dalam QS. Al-Anbiya: 107. Bahwa Allah Swt berfirman. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” .

Baca juga:  Khutbah Jumat: Menyambut Hari Kemerdekaan dengan Semangat 45

Allahhu Akbar x3 Walillahhil Hamd. Jama’ah Salat Id yang Dimuliakan oleh Allah.

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari. Hilangkan rasa benci, dengki, iri hati, dendam, sombong, dan bangga dengan apa yang kita miliki. Mari kita ganti dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan, dengan hati terbuka wajah berseri dan senyum manis, mari ulurkan tangan untuk saling memaafkan. Kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya mengucapkan “minal aidin falfaizin”, mohon maaf lahir batin.

Dengan demikian, di dalam konteks Idul Fitri, dengan keridlaan sosial dan saling memaafkan itu, kita tidak saja tergolong di antara kaum ‘aidun, orang-orang yang kembali halal, kembali ke fitrah, bagaikan bayi yang tanpa dosa, akan tetapi kita juga termasuk ke dalam golongan manusia yang derajatnya adalah faizun, yakni orang-orang yang menang dan mampu melawan dirinya sendiri. Orang-orang yang memperoleh kemenangan dan keuntungan dalam keridloan Allah SWT. Dan itulah pakaian baru yang harus kita kenakan setelah bulan suci Ramadan.

Dan semoga kita semua masuk ke dalam golongan yang beruntung. Amin-Amin Yaa rabbal ‘alamin.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top