Sedang Membaca
Masjid Muhammad: Memimpin Gerakan Islam Jalan Tengah di Ibu Kota Amerika 
Hasna Azmi Fadhilah
Penulis Kolom

Peneliti dan pemerhati politik yang tinggal di Jatinangor Sumedang. Bisa dijumpai di akun Twitter @sidhila

Masjid Muhammad: Memimpin Gerakan Islam Jalan Tengah di Ibu Kota Amerika 

Screenshot 20200708 225949~2

Meski sejarah Islam di Amerika Serikat telah bermula sejak abad ke-16, namun catatan mengenai bagaimana dakwah di sana berkembang, utamanya yang berbasis di masjid-masjid dan komunitas-komunitas kecil tidak lah banyak diketahui oleh publik internasional, termasuk masyarakat Indonesia.

Padahal banyak masjid di sana yang juga gencar mempromosikan nilai-nilai universal Islam yang terbuka dan inklusif, mirip konsep Islam Nusantara, salah satunya Masjid Muhammad yang terletak di Washington DC.

Pada pertengahan tahun 1930-an, Masjid Muhammad atau yang juga dikenal sebagai Masjid Nasional Amerika baru saja selesai diinisiasi oleh para budak keturunan Afrika-Amerika baik muslim maupun non-muslim. Sebelum akhirnya mendapatkan tempat sementara untuk beribadah.

Penggagasnya, Elijah Muhammad memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bermusyarawah dengan komunitas lokal agar dapat diberikan izin untuk menggelar salat berjamaah. 

Sayangnya, walau sudah mengantongi izin oleh otoritas setempat untuk menggelar kegiatan ibadah maupun perayaan keagamaan, komunitas awal Masjid Muhammad harus rela berpindah tempat beberapa kali untuk menghindari konflik dengan penduduk kulit putih. Situasi semakin memburuk saat Elijah dan beberapa orang lainnya harus ditangkap oleh kepolisian karena menolak mengikuti wajib militer yang diselenggarakan oleh pemerintah. Meski aktivitas dakwah mereka masih tetap berjalan, namun pergerakannya menjadi sangat lambat dalam penyebaran nilai-nilai islam. Situasi tersebut berlanjut hingga akhirnya mereka mampu mendapatkan lokasi permanen untuk membangun masjid di tahun 1950an. 

Perjuangan selanjutnya dimulai ketika mereka hanya memiliki sedikit dana untuk menyelesaikan konstruksi bangunan. Syukurlah, kondisi yang terbatas itu justru mendorong banyak orang yang mendaftar menjadi relawan: ada yang menyumbang tenaga dan menjadi tukang, beberapa ikut menyuplai makanan bagi para pekerja, sebagian yang lain menjual barang pribadi mereka untuk kemudian hasilnya didonasikan demi terbangunnya masjid. Bahkan kala itu Malcolm X juga turut menyumbangkan 1.400 dollar dari uang pribadinya, dan ikut aktif menggalang dana melalui kampanye terbukanya. Setelah berbulan-bulan berpeluh keringat, pada bulan Desember 1960, pembangunan masjid akhirnya selesai juga, dan acara peresmiannya pun dapat dihadiri oleh Elijah yang baru saja menyelesaikan masa tahanannya. 

Lima belas tahun setelah acara gunting pita, Elijah tiada. Tak lama berselang, putranya, Warith Deen Mohammed menggantikan sang ayah untuk memimpin dewan kemakmuran masjid di sana. Dengan dukungan penuh dari komunitas, ia pun mulai mengubah strategi dakwah yang dulunya hanya berfokus pada muslim keturunan Afrika-Amerika, menjadi lebih terbuka kepada siapa saja. Perubahan signifikan ini pun membuat jamaah masjid menjadi jauh lebih beragam dan tak lagi eksklusif. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tindakan lain yang dilakukan oleh Warith adalah menunjuk Khalil Abdel Alim menjadi imam tetap pertama. Dipilihnya Khalil juga menandai penguatan struktur kepengurusan masjid yang dikelola dengan profesional. Selain itu, harapannya Warith pada masa itu dapat lebih banyak berdakwah ke luar dan mengembangkan jaringan ke kelompok agama lain, seperti pihak gereja, kuil, dan sinagog dengan tujuan mengukuhkan harmoni umat beragama agar senantiasa damai.   

Upaya gigih dari beragam umat lintas iman untuk menciptakan kondisi yang lebih tentram tadi, sempat berulang kali tergoncang akibat ulah-ulah oknum yang tidak bertanggungjawab, termasuk peristiwa 11 September yang menyebabkan banyak warga Amerika menjadi antipati terhadap islam dan pengikutnya. Hal ini terlihat dari kenaikan kasus diskriminasi dan bully terhadap muslim baik itu di dalam maupun di luar masjid. Situasi tersebut semakin diperparah dengan berbagai retorika Presiden Trump yang terus memojokkan umat muslim.

Terdorong oleh kondisi yang tidak menyenangkan, akhirnya USCMO/majelis organisasi islam di sana akhirnya meluncurkan berbagai inisiatif program untuk menekan islamophobia. Beberapa di antaranya adalah: kampanye ‘One America’ untuk mempromosikan berbagai nilai islam yang selaras dengan konstitusi negara, ‘Million Voters Registration Drive’ yang bergerak untuk mendorong umat muslim teregistrasi dan memanfaatkan hak pilih mereka, serta ‘National Open Mosque’, yaitu membuka pintu seluas-luasnya bagi non muslim untuk datang ke masjid dan berinteraksi langsung dengan para jamaah. 

Berlokasi di New Jersey Ave. NW on 4th Street, masjid Muhammad yang mengikuti jejak USCMO kini tidak hanya terbuka bagi umat muslim untuk beribadah saja, mereka juga menerima individu dari berbagai kalangan yang ingin belajar tentang islam. Bahkan secara rutin, mereka mengadakan dialog lintas iman sebagai upaya menjembatani kerukunan antar umat beragama. Di samping tetap menggiatkan banyak program pemberdayaan umat, seperti pelatihan kerja, pendampingan kegiatan lansia, yang semuanya tanpa pungutan biaya. 

Dibandingkan dengan masjid-masjid megah di belahan dunia lain, masjid Muhammad jelas kalah jauh dari segi kontruksi dan dekorasi. Namun untuk soal pengimplementasian nilai-nilai islam yang paripurna, masjid ini dan komunitasnya patut diacungi jempol. Bukan hanya mampu memaksimalkan potensi internal umat, mereka juga terus bergerak memimpin perjuangan panjang mewujudkan kerukunan umat beragama yang kini direduksi oleh koar-koar politisi di balik tirai politik identitas. 

Baca juga:  Magrib di Surau Kecil Ajibarang
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top