Sedang Membaca
Diplomasi Cinta dalam Cerita Panji
Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis Kolom

Budayawan dari kalangan nahdliyin. Dosen Pascasarjana UNU Jakarta

Diplomasi Cinta dalam Cerita Panji

Musik Tari Panji

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PBNU menampilkan tari Panji dalam event Asean Intercultural and Interreligious Dialogue Conference (IIDC) yang dilenggarakan PBNU di hotel Ritz Carlton Jakarta pada 7 Agustus 2023. Selain tari, Lesbumi juga menggelar pameran dalam betuk lukisan dan naskah Panji dari berbagai daerah yang di pajang di arena konferensi.

Gelar seni dan pameran ini merupakan tawaran kepada peserta konferensi bahwa seni budaya (panji) dapat menjadi jembatan dalam membangun dialog keagamaan yang konstruktif bagi masyarakat Asia Tenggara (ASEAN). Sebagaimana dinyatakan Diaz Nawaksara, kurator pameran, Panji merupakan cerita yang terdapat di sejumlah negara Asia Tenggara dengan berbagai ragam versinya.

Pernyataan Diaz diperkuat oleh KH. Jadul Maula, Ketua Lesbumi PBNU, yang menyatakan, kisah Panji merupakan platform untuk mencari dasar kebersamaan (common platform) yang menjadi jangkar peradaban Asia Tenggara. Hal senada juga disampaikan budayawan Taufiq Rahzen yang menyatakan tradisi Panji merupakan platform pembentukan budaya dan peradaban Asia Tenggara.

Apa sebenarnya cerita Panji? Dan bagaimana dia dapat memiliki peran yang vital dan strategi dalam peradaban Asia Tenggara?

Panji merupakan kisah babad yang anakronistik, yaitu mencampurkan antara fakta sejarah dengan cerita tutur. Panji merupakan kisah sejarah berlatar belakang kerajaan Kediri (1104-1222) dan kerajaan Singosari (1222-1293). Rentang cerita Panji meliputi empat dinasti yaitu Jenggala, Urawan, Kediri dan Singosari (Poerbatjaraka, 1968, 83). Meski berlatar belakang sejarah, namun karena sudah bercampur dengan cerita tutur, maka akan sulit untuk mencari cerita Panji yang valid dan otentik dari berbagai versi yang ada.

Istilah “Panji” merupakan   nama gelar atau jabatan untuk seorang ksatria lelaki yang ada dalam lingkungan kerajaan. Jabatan yang terkait dengan sebutan Panji adalah raja, putra mahkota, kepala wilayah yang ada dalam suatu kerajaan,, pejabat tinggi kerajaan, pemimpin pasukan.  Panggilan “panji” memiliki sebutan lain yaitu “mapanjai” atau “apanji”. Ketiga sebutan ini populer pada era Singosari dan Majapahit.

Penggunaan gelar Panji sebagai nama gelar untuk pejabat tinggi negara populer di era Singosari, seperti terlihat pada sebutan Rakyan Demung Mapanji Wipaksa dan Rakyan Kanuruhan Mapanji Amunda. Para pejabat kerajaan lainnya yang menggunakan sebutan panji adalah panji Kabandha, Mapanji Mandaha dan Mapanji Daguna. Penyebutan gelar panji untuk nama para pangeran ini juga terdapat dalam kitab Pararaton yang mencatat beberapa nama keturunan Ken Arok yang menggunakan sebutan panji, diantaranya Panji Anugerah (Anusapati), panji Sarang dan Panji Tohjaya.

Baca juga:  Pembubaran FPI atau Pembentukan Hegemoni Baru?

Tak ada keterangan pasti mengenai sumber cerita Panji. Ada dugaan cerita ini berasal dari Kakawin Smaradahana karya mPu Dharmala pada era Kadiri. Dugaan tersebut berdasarkan pada adanya cerita tentang kisah percintaan dan perkawinan Kameswara dari Kadiri (Madyadesa) dengan putri Kirana dari dari Jenggala (Waradrawa) yang terdapat di bagian akhir kakawin ini.

Meski kisah panji sudah ada para era Kadiri (abad ke 12), namun menurut penelitian Prof. Dr. RM Ngabehi Poerbotjaraka, intelektual dan pakar sastra Jawa, cerita Panji baru ditulis sekitar tahun 1400 M, pada era keemasan Majapahit. Menurut Poerbotjaraka, Panji merupakan bentuk revolusi kesusteraan Nusantara atas keberadaan sastra India yang dominan pada era itu.  Naskah Panji pada era ini ditulis dalam bahasa jawa gaya tengahan (Poerbotjaraka, 1968; 408-9). Naskah ini menurut Poerbatjaraka tidak ditemukan aslinya, tetapi ada naskah “terjemahan” dalam bahasa Melayu berjudul Panji Semirang. Naskah Panji Semirang merupakan indikasi bahwa cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur sudah beredar di berbagai wilayah di Nusantara.

Selain ditulis dalam bentuk naskah, pada tahun 1413, cerita Panji juga diabadikan dalam bentuk relief yang ada di candi Panataran Blitar dan situs Gobyak di Banyakan Kediri. Selain itu, cerita Panji juga terdapat dalam releif candi Miri Gambar, candi Surawana, dan beberapa candi yang ada di gunung Penanggungan, diantaranya  Wayang, Candi Gajah, Candi Kendalisada dana candi Selokelir. Semua candi ini dibangun di era Majapahit, padahal cerita panji ditengarai sudah muncul di era Jenggala (Kadiri) pada abad 12 sebagaimana terdapat dalam Kakawin Smaraddhana, prasasti Banjaran 975 Saka (1053) yang dianggap  prasasti tertua yang menggunakan istilah “panji”.  Prasasti ini tertulis nama raja dengan sebutan Sri Mapanji Alanjung Aliyes. Ini artinya, selama sekitar dua abad, cerita Panji disampaikan dalam bentuk oral (cerita tutur), karena penulisannya baru dilakukan pada era Majapahit.

Apa peran vital cerita Panji dalam membangun peradaban Asia Tenggara? Cerita Panji merupakan bukti adanya integrasi sosial politik bangsa Asia Tenggara melalui kebudayaan dan cinta. Artinya cerita panji merupakan instrumen kultural untuk melakukan interaksi dan integrasi sosial masyarakat Asia Tenggara, meliputi Thailand, Kamboja dan Myanmar, Malaysia, Filipina. Selain itu, cerita Panji juga tersebar di berbagai wilayah di luar pulau Jawa, yaitu di Bali, Lombok, Kalimantan, Sumatera dan lain-lain, meski sumber ceritera berasal dari Jawa.

Baca juga:  Wikulokika, Ulama Su' dalam Sastra Sunda Kuna

Meski berbicara tentang kekuatan cinta dalam membangun relasi sosial, namun ada beberapa hal yang membedakan cerita panji dengan cerita cinta lainnya. Beberapa perbedaan tersebut adalah, pertama, kekuatan cinta dalam cerita panji memiliki daya menyatukan antar negara. Sebagaimana tercermin dalam kisah Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekartaji yang menyatukan Jenggala denngan Panjau (Kadiri).  Ini berbeda dengan kekuatan cinta dalam kisah Ramayana yang menjadikan cinta sebagai pemicu konflik dan perpecahan antar negara. Konflik antara prau Rama dengan Rahwana karena berebut cinta dari Dewi Shinta telah memicu peperangan  dua negara Alengka dan Ayodya.

Selain epos Ramayana, kisah cinta yang dapat menjadi sumber konflik antar negara juga dapat dilihat dalam kisah-kisah cinta dari Timur Tenggah, misalnya cerita Johar manik. Dalam cerita ini disebutkan kecantikan putri Johar Manik telah memancing timbulnya intrik dalam kesultanan Baghdad. Semua orang yang tergila-gila pada kecantikan Johar Manik berusaha merebut hatinya dengan membuat fitnah dan manuver politik hingga memancing terjadinya konflik antara negara.

Kedua, kekuatan cinta dalam kisah Panji terkait dengan dengan masalah sosial, politik dan kenegaraan, bukan semata-mata persoalan pribadi. Inilah yang membedakan kisah cinta cerita panji dengan cerita cinta lainnya seperti Romeo Juliet (Barat), Laila Majnun (Persia), Sampe Engtay (China). Kisah cinta ini lebih menekankan aspek cinta yang dramatik karena perbedaan kelas sosial dan ekonomi, hampir tidak terkait dengan persoalan politik kenegaaraan.

Ketiga, penyebaraan cerita lebih  terbuka egaliter sehingga melahirkan berbagai bentuk kisah yang lebih variatif dan tidak monoton. Artinya kisah panji yang berkembang di berbagai awasan Nusantara dan Asia Tenggara memiliki ragam kisah yang berbeda degan tokoh yang berbeda sesuai dengan nama lokal daerah. Setidaknya ada delapan versi cerita panji selain versi cerita rakyat seperti Kethek Ogleng, Ragil Kuning, Ande-ande Lumut dan sejenisnya. Kedelapan versi panji tersebut adalah: Kuda Semirang, Kamboja, Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Angreni Palembang Kuda Nurawangsa.  Di Sasak cerita Panji ditulis dalam naskah serat Megatsih. Sebagaimana disebutkan Daiz dalam diskripsi naskah pamaren Panji, Serat Megatsih mengisahkan sosok Raden Megatsih yang lahir untuk menyatukan dua kerajaan yang berkonflik. Nahkah ini mencerminkan ketrkaitan antara Sasak dengan kerajaan Daha (Diaz Nawaksara, 2023).

Baca juga:  Islam Sebagai Agama dan Arab Sebagai Budaya

Di Thailand, kisah Panji Semirang dikembangkan dan menjadi sumber dalam merevisi kisah “dhalang” yang dilakukan  oleh raja Rama I (1782-1809) dari dinasti Cakri, kemudian putranya raja Rama II (1809-1824) mempopulerkan Inao, yang juga bersumber dari cerita Panji. Menurut Thaneerat Jatuthasri, peneliti dari Chulalongkhorn University, cerita Panji versi Thailand populer dengan sebutan Lakhon Nay. Lakhon mencerminkan pengaruh dari bahasa Jawa “lakon”, ini merupakan indikasi bahwa cerita Lakhon Nay bersumber dari kisah Panji dari Jawa. Pementasan Lakhon Nay bisasanya dilaksanakan di istana berdasar empat cerita panji versi Thailand yaitu Tamakien, Unarat, dalang dan Inai (Historia, 2018).

Pasangan cerita panji di Thailand yang terkenal adalah Inao dan Butsaba. Sosok Inao dipersonifikasikan sebagai sosok panji, yaitu ksatria tampan, menawan, bijaksana, menarik di hadapan perempuan, suka berkelana dengan melakukan penyamaran. Butsaba adalah sosok perempuan yang anggun, tegas dan bijak. Butsaba berarti bunga atau sekar, mirip nama sosok perempuan yang ada dalam cerita Panji.

Keberagaman cerita panji tidak hanya terlihat dari nama tokoh, tetapi juga pada bentuk pertunjukan dan naskah. Di beberapa daerah Nusantara, dan Asia tenggara, Panji tidak hanya disampaikan dalam cerita tutur, tetapi juga dalam bentuk sastra, sendratari, dan sandiwara. Naskah Panji juga tidak hanya ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa, tetapi juga dalam bahasa dan huruf lokal masing-masing daerah (negara), termasuk huruf Arab dan bahasa Melayu.

Berbagai  fakta ini menunjukan, kisah Panji merupakan bukti efektifitas diplomasi kebudayaan untuk merajut keberabagaman masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Panji menjadi sumber inspirasi yang dapat mengikat kebersamaan  (coomond d’nominator). SSpirit yang ada dalam kisah Panji adalah spirit menyatukan dan kerjasama melalui kekuatan cinta, bukan ekspansi apalagi koersi. Di tengah suasana kompetisi dan ancaman krisis yang dapat mengancam perpecahan dunia, tawaran Lesbumi untuk menjadikan cerita Panji sebagai instrumen merajut kebersamaan Asean merupakan gagasan yang tepat dan sratategis.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top