Sedang Membaca
Sastra dan Media Sosial
Penulis Kolom

Pengamat sastra mutakhir Indonesia, dosen perguruan tinggi La Lansa, Rangkasbitung, Banten Selatan.

Sastra dan Media Sosial

Photo 1491841651911 C44c30c34548

Dalam buku “Enggineers of Happy Land” (2006), Rudolf Mrázek menyatakan, bahwa kemajuan teknologi dapat membentuk paradigma kekuasaan yang ampuh, demi untuk merekayasa dan memenuhi hajat kepentingan dirinya dan kelompoknya. Akan tetapi, ia bersifat temporer, lemah dan rapuh. Pemanfaatan media-media sosial saat ini, adalah bukti nyata bahwa masalah kekuasaan dan kepemimpinan bukan semata-mata urusan politik. Ia dapat menjamin otoritas kepada siapapun untuk berbuat apa saja sekehendak hatinya, karenanya ia menjadi serba mekanis dan netral.

Apa-apa yang ditawarkan segala perangkat teknologi itu, bukan semata-mata perubahan atau pergeseran nilai, tetapi juga penguasaan bahasa dan gaya bahasa, misalnya tentang “frase” apa yang disukai dan ditampilkan di sana. Dengan sendirinya, berkata-kata melalui media sosial identik dengan kecakapan literatif secara digital, yang kemudian menggiring imajinasi publik pada pola perubahan melalui teknologisasi berbahasa.

Tak ayal, ketika gelombang-gelombang radio marak di Hindia Belanda (1930-an), maka jalur komunikasi pun kian marak pula. Kemudian, “longsoran informasi” itu dimanfaatkan para bapak bangsa (terutama Soekarno) yang membangkitkan emansipasi kesadaran, serta menggelorakan pekik kemerdekaan Republik Indonesia di masa pendudukan militerisme Jepang.

Di sisi lain, pesatnya teknologi informasi juga membuat suasana bising dan gaduh, sehingga memunculkan komunikasi yang berlangsung satu arah, sekaligus “multi tafsir” dari suatu pesan yang dimaksudkan.  Di masa Hindia Belanda, perabot baru yang dinamakan radio telah menciptakan sebuah ideology baru, hingga dimanfaatkan sebagai alat propaganda untuk menyatukan Belanda dan Hindia Belanda melalui gelombang eter.

Baca juga:  Islam Sebagai Agama dan Arab Sebagai Budaya

Sastra dan peran teknologi

 Ideologi yang terbangun melalui perangkat teknologi digital meniscayakan kepalsuan dan kebohongan yang berkembang pesat sedemikian rupa. Segala kecemasan dan ketakutan telah diserap masyarakat, yang mestinya diharapkan mampu melindungi dan menenteramkan, akan tetapi justru menciptakan jarak dan menjauhkan nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan.

Dalam hiruk-pikuk iklim perpolitikan Indonesia, nampaknya persoalan sastra – tidak bisa tidak – harus melebur dan tergenangi iklim dan suasana perpolitikan yang seperti itu. Kalau perlu, semakin menyusup masuk dan berkubang di dalamnya. Di era kemajuan teknologi ini, sastra harus sanggup berdiri untuk meneropong, memantau suasana lapangan, lalu bersikap secara independen untuk membongkar memori kolektif, yang oleh psikoanalisa Freud disebut “ketidaksadaran kolektif”.

Sebagaimana novel Pikiran Orang Indonesia (POI), seakan menolak jenis kesusastraan yang terlampau mengumbar syahwat erotisme, meskipun sah-sah saja untuk tampil ke permukaan, namun gaungnya tidak membawa efek yang positif bagi pesan-pesan universalitas maupun religiositas. Penulis POI seakan menyadari betul bahwa konsep berkarya untuk kemaslahatan, berarti memberi induksi kepada ribuan dan jutaan pembaca yang terinspirasi dari karya tulis, dan karenanya ia pernah menegaskan bahwa menulis yang menggaungkan karyanya dari dasar hati, hanya akan dinikmati oleh pembaca yang membuka mata-hatinya.

Baca juga:  Gus Nadir Hilang dari Medsos: Hendak ke Mana Toh, Gus?

Dapat dibenarkan refleksi karya tulis semacam itu, sehaluan dengan adagium bahwa setiap ilmu yang keluar dari pikiran manusia mengandung hikmah, tetapi ada ilmu tertentu yang hikmahnya hanya dapat terbaca oleh manusia tertentu, tidak dibuka untuk masyarakat umum. Kecuali jika masyarakat umum tersebut sudah mulai membuka hati nuraninya.

Novel POI sanggup dikemas secara apik dan dewasa, sebagai psiko-histori manusia Indonesia yang terus berproses untuk menemukan jatidirinya. Secara eksplisit penulisnya mengajak semua pihak agar berhati-hati memasuki lubang dan galian perpolitikan negeri ini, apalagi mereka yang sampai tega mempraktikkan politik kotor. Untuk itu, novel POI secara genuine mengungkap karakteristik para politisi yang berjiwa polos, pelongo, hanya berfungsi sebagai bebek-bebek piaraan yang apabila tidak diingatkan oleh rambu-rambu moral dan religiositas, mereka akan kebablasan terjun dalam kancah lembah hitam yang membuat politisi itu bisa terperangkap ke dalam jaring-jaring ciptaannya sendiri.

“Kita dibuat heran, mengapa para politisi itu, dari zaman ke zaman, selalu senang mengonsumsi obat-obat yang tak pernah menyembuhkan penyakit hati mereka?” tandas Hafis Azhari saat peluncuran novel POI di aula Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangksabitung, Lebak, Banten.

Keabadian karya sastra

 Karya sastra bukanlah sejenis kabar dan informasi rapuh yang mudah terhempas oleh perjalanan waktu. Sementara media sosial yang bersumber dari sistem komputer, gadget, atau internet, dapat sekaligus membebaskan dan mengontrol apa-apa yang merupakan hasil kreasi dari goresan pena sastrawan, jurnalis maupun intelektual.

Baca juga:  Menjelajahi Kasepuhan Islam Ciptagelar

Bahkan, orang atau organisasi tertentu yang turut memanfaatkan sistem tersebut akan mampu mengenali apa yang diingini, apa yang memotivasi, dan bagaimana reaksi terhadap beragam hal yang disajikan oleh karya sastra. Jadi, medsos tampaknya tahu lebih banyak daripada tentang kita yang sebenarnya lebih tahu mengenai diri kita sendiri.

Di sisi lain, karya sastra dapat menggugah dan membangkitkan kesadaran, bahkan mencoba menarik benang-benang merah untuk menangkap sinyal keseharian manusia melalui mata batin penulisnya. Misalnya, novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang”, suatu pemaparan realitas kehidupan yang melegitimasi kebenaran tunggal, yang sebenarnya adalah “pembenaran” yang lekang dimakan oleh waktu.

Sebagaimana pandangan ratusan dan ribuan pakar politik, akademisi, budayawan dan intelektual Indonesia, perihal peranan militerisme Indonesia sepanjang tahun 1975-1999 di Timor Leste. Melalui novel Jenderal Tua dan Kucing Belang, seakan mereka harus membuka mata hati dan nuraninya yang terdalam, bahwa benar yang dipandang kemarin, belum tentu benar dalam konteks hari ini dan mendatang. Dan setelah kebenaran itu menunjukkan kesejatiannya, setiap orang harus legawa dan rendah hati untuk menyarungkan segala egoisme dan keangkuhan intelektualnya.

Bukankah ilmu manusia, sehebat apapun, hanyalah setetes air di lautan samudera yang maha luas?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top