Sedang Membaca
Perspektif Psikologi untuk Masalah Sosial Budaya
Wakhit Hasyim
Penulis Kolom

Pendidik di Sekolah Alam Wangsakerta Cirebon.

Perspektif Psikologi untuk Masalah Sosial Budaya

Adalah hal biasa sebuah pendekatan riset yang telah menjadi teori dalam satu bidang menginspirasi bidang lain yang serumpun, atau bahkan di luar rumpun disiplin ilmu tertentu. Pada abad pertengahan ketika pendekatan saintifik tidak sepenuhnya terlepas dari teologi dan metafisika juga sudah terjadi. Misalnya teori politik “negara utama” atau “al-madinah al-fadlillah” dari filsuf Islam Al Farabi menjelaskan bahwa negara itu seperti tubuh manusia.

Secara organis tiap bagian tubuh memiliki fungsi masing-masing yang saling mendukung untuk kesempurnaan kemampuan manusia, di bawah pimpinan akal. Akal ini milik para filsuf. Para filsuf menempati tempat tinggi dalam negara utama ini yang berfungsi menggerakkan semua anggota badan.

Di masa modern, ilmu-ilmu sosial yang telah melepaskan diri dari metafisika juga banyak terpengaruh oleh ilmu lain, misalnya biologi. Teori Darwin yang mengenalkan adabtasi biologis makhluk hidup menemukan bahwa dalam arus perubahan waktu, hanya spesies yang paling kuat yang bertahan untuk melanjutkan generasi sampai sekarang. Oleh para ilmuwan sosial, faham “survival of the fittest” ini menginspirasi mereka untuk memahami perubahan masyarakat. Mereka disebut para penganut Darwinisme sosial.

Durkheim dalam sosiologi mengambil faktor organisnya dan bagaimana individu akan selalu menuruti struktur “tubuh” sosial jika ingin bertahan di dalamnya. Steward dalam antropologi memaknai “survival of the fittest” itu pada kemampuan adabtasi menggunakan teknologi. Maka disebuah masyarakat dengan dua kelompok pengguna teknologi berbeda akan melahirkan corak organisasi sosial dan budaya yang berbeda. Misalnya Orang Cirebon di pesisir Mundu tidak memiliki corak yang sama, sebagian berbudaya nelayan, sebagian lainnya berbudaya pedagang.

Baca juga:  Kebingungan Sekularisme Menghadapi Islam Politik

***

Psikologi juga demikian. Salah satu yang sangat kuat mempengaruhi para ilmuwan sosial abad modern ini adalah faham psikoanalisa. Freud merupakan penemu “psikologi dalam”, yaitu cara manusia mendapatkan kepribadiannya berasal dari faktor pengasuhan masa kecil yang mempengaruhi struktur kejiwaannya. Struktur kejiwaan ini meliputi tiga aspek berupa aspek “ketidasadaran” internal dalam tubuh yang disebut ID, aspek kesadaran yang dipengaruhi oleh faktor luar yaitu masyarakat yang disebut “Super Ego”, dan faktor akal yang bertugas mendialogkkan antara tuntutan ID dalam dan tuntutan luar Super Ego.

Freud memiliki teori bahwa kesehatan mental adalah situasi Ego yang mampu menyeimbangkan tuntutan Id dan Super Ego. Ketidakseimbangan ketiga hal ini menghasilkan “gangguan mental”. Orang dengan kecenderungan dominan Id akan seperti hewan. Orang dengan kecenderungan dominan Super Ego akan menjadi pribadi yang disetir, baik menjadi penakut maupun jahat.

Gangguan2 mental merupakan respon biasa atas peristiwa luar biasa yang menimbulkan gejala yang luar biasa. Stress adalah gejala awal, trauma adalah gejala berikutnya, dan masih berlanjut pada stress pasca trauma pada gejala lebih jauh. Gangguan yang menetap dan mengubah persepsi dapat berupa berbagi macam bentuk. Halunisasi, kepanikan, histeria, schizophrenia, dan seterusnya.

Apakah gangguan2 persepsi-psikosis ini menggejala pada masyarakat modern?

***

Masyarakat modern melahirkan teori-teori sosiologi yang menjelaskan gejala-gejalanya. Gejala masyarakat modern sungguh berbeda dengna masyarakat klasik abad pertengahan, karena faktor ilmu, teknolologi, yang mengubah tatantan sosial, politik dan budaya. Revolusi sosial terjadi di banyak negara, diawali dari Inggris di abad ke-18. Revolusi politik di Amerika dan Perancis mengikutinya. Lalu di abad 20 revolusi demi revoluasi terjadi di berbagai aspek sosial, politik dan budaya.

Baca juga:  Superioritas Suguhan Hajatan

Memahami gejala luar biasa ini para ilmuwan sosial banyak yang mengambil teori psikoanalisa Freud untuk menjelaskannya. Mengapa anak-anak muda mulai meninggalkan pasar tradisional dan memilih minimarket dan supermarket untuk keperluan sehari-hari? Mengapa orang-orang desa beramai-ramai meninggalkan pertanian dan memilih menjadi buruh di kota dan mudah menyerahkann kapital tanah mereka? Mengapa kampus-kampus lebih suka wisuda di hotel daripada di balai desa? Mengapa masyarakat Betawi di Metropolitan cenderung berkumpul pada organisasi seperti FPI, FBR, dan lain-lain?

***

Manipulasi kesadaran oleh suatu penindasan yang tak bisa dilawan menimbulkan kesadaran perlawanan di satu pihak, di sisi lain juga tanpa sadar mengambil alih ideologi penindasnya. Gramsci memaparkan ini sebagai proses hegemoni. Lukacs merinci manipulasi ini sebagai suatu kecenderungan “mengalamiahkan” pengalaman, atau reifikasi. Masyarakat modern menjadi korban dari manipulasi iklan yang mengajari baik dan buruk dalam mengkonsumsi dengan label trend, kehormatan, kehalalan, bahkan ilmiah. Hasilnya adalah pemujaan produk pabrik atau fetisisme produk. Marx mengenalkan gejala ini lebih awal sebagai “kesadaran palsu”.

Mungkin itu bisa menjelaskan orientasi urbanisasi di atas secara psikologi sosial. Juga kecenderungan meninggalkan pertanian dari aspek nilai kepraktisan dan harga diri.

Para sosiologi Amerika memahami para gejala kuriminalitas baru dan responya secara pskologis. Respon kriminal emerupakan unjuk rasa keprihatinan dari suat kelompok masyarakat pemegang moral, lalu disebarkan melalui media, dan keresahan umum terjadi sehingga tindakan emansipasi muncul untuk melawan kejahatan yang memabahayakan masyarakat terjadi. Cohen menyebutnya “kepanikan moral”.

Baca juga:  Untuk Apa Belajar Teologi di Era Modern?

Sosiolog Inggris seperti Stuart Hall mengenalkan kepanikan moral untuk melihat gejala para penguasa memanfaatkan keresahan warga demi mensukseskan program mereka. Aspek politik ini barangkali dapat kita gunakan untuk memahami aksi-asksi FPI, juga FBR, dan bagaimana pihak penguasa memanfaatkan itu untuk tujuan politiknya.

***

Halunisasi, kepanikan, trauma, depresi, histeria dan lain-lain, dapat digunakan menjelaskan gelaja kemasyarakatan. Semua istilah psikologi ini untuk kasus individual, namun lalu diterapkan untuk menjelaskan aspek kemasyarakatan.

Sepanjang menulis ini saya merenungkan teori-teori sosial positifistik dan kecenderungan menghindari metafisika dari ilmuwan abad modern. Jangan-jangan, itu merupakan suatu respon wajar dari kejadian luar biasa pada negara “Barat” yang bersifat “traumatik”? Ilmu-ilmu yang ilmiah ditahbiskan untuk berhenti pada aspek “menafsirkan gejala”, dan menghindari aspek “moralitas” yang dikeluarkan dari cakupan bidangnya.

Jika memang demikian halnya, para teoritisi ilmu sosial dari negara-negara dengan latar sejarah “non traumatik” memiliki kesempatan menjadi “kritisi” di garis depan untuk teori-teori sosial modern.

****

Kampus, 02 Desember 2021.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top