Sedang Membaca
Ziarah: dari Makam ke Makam
Hajriansyah
Penulis Kolom

Penulis Sastra. Meminati seni dan dunia sufi

Ziarah: dari Makam ke Makam

ZIARAH dalam dunia Islam, seperti dikatakan Chambert-Loir dan Guillot, tidak terpisahkan dari kehidupan seorang wali. Wali yang mati atau, bahkan, yang hidup. Makam-makam wali menghibur hati karena kehadiran kekeramatan, atau bisa juga, menjadi pengganti dari tempat tersuci (bagi dunia Islam), bagi orang-orang yang tak mampu berangkat ke sana (Mekkah).

Kurang lebih begitu, dinyatakan dalam catatan pendahuluan buku Ziarah & Wali di Dunia Islam. Saya kira memang begitu, terutama dalam amatan saya sejauh pengalaman berziarah ke makam-makam keramat di tanah Banjar.

Waktu itu misalnya, saya ikut rombongan peziarah yang dikomandani teman saya, seorang anggota legislatif, yang juga anak kiai, yang sedang “membayar” janjinya ke para konstituen.

Dari Banjarmasin, rute ziarah pertama yang umum ditempuh adalah ke Basirih (kecamatan Banjarmasin Selatan) dulu. Kampung tua di pinggiran sungai Martapura dekat muara (sungai) Barito, yang di situ ada makam Habib Hamid Bahasyim. Kubah Habib Hamid kecil saja, di atas makamnya ada “tanah-tumbuh” yang biasa disebut orang Banjar Balambika.

Dari Basirih, sebagai jeda dari rute yang umum, kami singgah ziarah dulu di makam guru teman saya yang katanya seorang wali mastur, di pinggiran kota Banjarbaru.

Kemudian, kami menuju makam Datu Insad di Bentok (kabupaten Tanah Laut). Dari jalan raya ke makam ini harus melalui jalan kampung yang berbatu-batu, masuk lurus melewati jalan yang sunyi. Daerah sekitarnya masih asri dengan pepohonan, dan rumah-rumah penduduk tidak serapat di Basirih. Konon menurut cerita, Datu Insad adalah murid dari Khatib Dayan—ulama Demak yang mengislamkan Pangeran Suriansyah, Sultan Banjar yang pertama.

Baca juga:  Makam Nabi Daniel dan Kisah Sang Perantau

Perjalanan dilanjutkan ke makam wali yang kini sangat masyhur di Kalsel. Tuan Guru Zaini Ghani yang akrab disebut Guru Sekumpul. Dari banyak makam wali di Kalsel, makam Guru Sekumpul adalah yang paling “bersih”. Baik bersih secara harfiah, yang bisa juga berarti rapi dan ter-atur, maupun bersih dari para pengemis atau penjual kembang yang kadang setengah memaksa.

Dalam pengalaman ziarah di waktu yang lain, teman yang berziarah kadang membawa jeriken air ke sini. Mereka mengambil air dari keran-keran yang tersedia di sisi makam dengan ikhtiar mengambil berkah sang wali. Makam Guru Sekumpul sendiri berada di sisi barat daya Musala Ar-Raudhah, tempat pengajian rutin beliau semasih hidup diselenggarakan, dan masih terhubung bangunan keduanya.

Dari Sekumpul kami menuju Kalampayan, keduanya berada di wilayah kabupaten Banjar, di mana berkubur seorang wali besar tanah Banjar. Syekh Arsyad al-Banjari, pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang terkenal di nusantara itu.

Begitu masuk gerbang, dan turun dari kendaraan, biasanya peziarah disambut peminta-minta dan penjual kembang. Komplek pemakaman ini, seperti lazimnya komplek pemakaman wali di Jawa yang pernah saya kunjungi, memang dipenuhi orang-orang seperti itu. Bahkan, para pengemis sudah menyebar di pinggir-pinggir jalan menuju komplek pemakaman. Dan masih kita dapati lagi sampai pintu masuk kubah Tuan Guru, di sisi kiri dan kanan lorong berkeramik yang ditutupi kanopi.

Baca juga:  Warisan Mbah Lim: Mendoakan NKRI Pancasila Setiap Selesai Iqamah

Melewati pintu masuk kubah ada ruang antara yang di lantainya berlapak penjual barang-barang keramat: telor penerang hati, bilah penunjuk Qur’an yang ditulisi kaligrafi, tasbih, minyak harum, dan sebagainya. Di belakang tersekat dinding ada toko kitab kecil. Tentu saja kita akan kita dapati kitab Sabilal Muhtadin dijual di sana, baik yang berbahasa Melayu maupun yang sudah diterjemahkan oleh K.H. Aswadie Syukur.

Dari makam Syekh Arsyad, yang juga dikenal sebagai Datu Kalampayan, rute terdekat selanjutnya adalah makam ayah beliau, Syekh Abdullah Lokgabang. Jaraknya seingat saya tak terlalu jauh. Dari sini berlanjut kembali ke jalan raya dan menuju kabupaten Tapin. Masuk jalan lebar tak beraspal di antara pohon-pohon karet dan melewati jalan untuk alat-alat berat, menuju makam Datu Nuraya.

Ini makam yang sangat janggal. Berada di dataran agak tinggi, dengan menaiki anak tangga kita akan sampai di kubah datu yang amat panjang. Puluhan meter panjangnya, bahkan katanya mencapai 60 meter (saya tak mengitungnya langsung). Sementara, lebarnya tampaknya tak lebih dari dua meter.

Bisa dibayangkan, jika diceritakan demikianlah postur tubuh ulama yang katanya datang dari Damaskus pada suatu waktu dulu ini, bukankah akan tampak seperti pohon nyiur yang melambai. Di bawah ada satu makam berkain kuning yang menarik pandangan saya, kubah Datu Harun Assegaf. Saya kurang paham apa hubungan antara shahibul maqbarah yang di atas dengan yang di bawah ini.

Baca juga:  Gus Dur dan Proyek Arkeologi Kebudayaan

Ziarah dilanjutkan melalui jalur yang berbeda dari jalan masuk sebelumnya, namun tetap melewati jalan tanah keras yang merupakan jalan lewat alat-alat berat yang berdebu. Maklum, dataran-dataran tinggi Rantau atau kabupaten Tapin adalah wilayah pertambangan yang dikuasai pengusaha lokal.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top