Sedang Membaca
Connecting the Dots ala Santri
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan

Connecting the Dots ala Santri

Di antara pelajaran penting yang saya dapatkan dalam berkhidmah, berjuang dan berorganisasi yakni connecting the dots, menyambung titik-titik. Ada juga yang mengatakan connecting the lines, menyambungkan garis-garis. Intinya membangun jembatan untuk mengkoneksikan yang terserak.

Saya merenungi konsep ini sejak lama. Ketika mengawali khidmah organisasi di IPNU di kampung, lalu ketika ikut barisan jaket biru PMII, juga ketika berkecimpung di organisasi-organisasi lainnya. Dari hanya ikut-ikutan, secara bertahap membangun ide, menyiapkan konsep, dan mengeksekusi gagasan.

Dari rentang panjang itu, konsep connecting the dots menjadi penting. Bahwa, di sebuah organisasi apapun, harus ada yang menjadi penyambung gagasan. Bung Karno menelurkan jargon “Penyambung lidah rakyat”. Bahwa, titik-titik aspirasi perlu dikoneksikan dengan garis dan kemudian membentuk gambar utuh.

Nah, konsep connecting the dots ini digemakan oleh Steve Jobs. Ia mengakumulasi gagasan bahwa dot-dot ini sebagai ide, sebagai kreatifitas. Di sisi lain, juga sumber daya dan inovasi. Maka, di tangan Steve Jobs, ‘connecting the dots’ menjadi energi untuk mencipta perubahan eksponensial. Ia membuktikan dengan keberhasilan brand Apple.

Sebenarnya, jauh sebelum Steve Jobs, beberapa professor di Harvard dan MIT (bisa direview dalam serial kuliah bisnis dan manajemen di Harvard Busines School juga Sloan MIT/Massachusetts) juga sudah menyuarakan tentang ide ini, dengan narasi dan fungsi yang berbeda. Bahwa, kreatifitas itu harus dibentangkan sekaligus disambungkan. Kerja-kerja menyambungkan ide, menggerakkan gagasan, itu sejatinya skills. Ia bisa dipelajari, tentu dengan berbagai prasyarat untuk mempelajari itu.

Baca juga:  Memahami Intoleransi Secara Struktural: Bercermin dari Kasus Kemendikbud

Tapi memang, kadangkala ‘belajar’ dan kemudahan mengakses sumber daya itu merupakan kemewahan, privilege. Bisa jadi, bagi sebagian orang, punya waktu belajar itu hal yang biasa, karena punya support system dan ekosistem yang mendukung untuk itu. Tapi, bagi mereka yang tidak punya lingkungan dan daya dukung yang tepat, belajar merupakan kemewahan.

Maka, saya merasa tepat jika dulu ketika rame-rame Maudy Ayunda, ada seorang senior bilang bahwa “sirkuit” Maudy itu berbeda. Ia sudah on the track sejak kecil. Sudah bertahun-tahun ia bertarung di sirkuit yang memungkinkan bisa balapan secara cepat. Bahwa sirkuit itu, memungkinkan untuk sampai di Stanford, MIT, Harvard dengan kecepatan dan energi yang ia punya. No offense.

Sirkuit Maudy Ayunda punya sekian syarat yang jelas dan gamblang: anda harus punya sumber daya berlebih, punya support system yang kokoh, daya tahan mental yang tangguh, hingga sekian printilan-printilan yang harus selesai dalam satu tepukan tangan. Bahwa benar sekali Maudy Ayunda itu pinter dan tangguh belajarnya, itu harus diakui. Tapi ketangguhan itu kan dibangun, kekuatan itu diciptakan.

Lhaa, kalau sobat Misqueen bersiap-siap mau ikut masuk sirkuit, mau mendekat ke area sirkuit level bawah aja udah kena semprit satpam: tagihan-tagihan, belum yang jadi Sobat KPR untuk cicilan perumahan.

Baca juga:  Kliping Keagamaan (16): Jam Tangan dan Ibadah

Okay, kembali ke pembahasan tentang ‘Sirkuit’. Kalau belum bisa masuk sirkuit, saya sampaikan ya ayo bareng-bareng bangun gelanggang, kita siapkan sirkuitnya. Mungkin perlu kerja keras 2-3 kali lipat, bahkan lebih. Tapi itu kan konsekuensi, itu harga yang harus dibayar.

Nah, apa yang harus dibayar? Baanyak: capek, waktu tersedot, pikiran terkuras, menyiapkan lapis-lapis posedur, dan sebagainya. Petuah Gus Yahya Cholil Staquf: kalau ndak mau capek ya tidur aja. Singkatnya, kalau ada perubahan di lingkaran maupun ekosistem sosial kita, ya harus bersiap kerja keras, kerja cerdas, kolaborasi. Bangun ide, mantapkan langkah. Santai saja dengan resiko, jatuh bangun itu biasa.

Tapi kan, resiko-resiko itu kan bisa diukur, bisa dikalkulasi asal punya prinsip dan tujuan utama yang sudah dipatok. Beruntung, pernah saya pernah belajar risk management dan game theory, bantu banget untuk mengelola yang beginian.

Anyway, tentang connecting the dots, Pesantren punya tradisi yang pas: Silaturahmi. Iya, Silaturahmi. Kok bisa?

Silaturahmi yang diajarkan para kiai itu ya aktualisasi ‘Connecting the Dots’. Di sana, kita mengembangkan gagasan, menyambungkan ide, mengeksekusi mimpi-mimpi. Bahwa, ada ritual ngopi-ngopi dan makan-makan itu ya kembang-kembangnya.

Gagasan connecting the dots ini yang terus saya suarakan bersama teman-teman diaspora santri di berbagai negara. Mari bersama-sama menyiapkan khidmah berdasar kemampuan masing-masing, sambil terus belajar. Ada puluhan ribuan diaspora santri yang sekarang berjuang di berbagai negara, yang sejatinya potensi besar untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia.

Baca juga:  Mengurai Era Kenabian di Tanah Jawa

Maka, ayo bareng-bareng Connecting the Dots, mari bangun Sirkuitnya. Arena yang memungkinkan kita untuk melalukan akselerasi bahkan lompatan-lompatan keahlian. Saling Mendoakan, semoga Berkah Melimpah.(*)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top