Sedang Membaca
Sketsa Singkat Pangeran Diponegoro Sebagai Muslim Jawa
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam .

Sketsa Singkat Pangeran Diponegoro Sebagai Muslim Jawa

Sosoknya sangat diperhitungkan oleh kaum kolonial, seorang santri taat dan pengikut tarekat Sattariyah. Baginya, ajaran Islam tidak bisa ditawar-tawar lagi terutama ketika berkaitan dengan agama kaum kolonial. Nama kecilnya Bendoro Raden Mas Mustahar, lahir dikalangan bangsawan Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, yang mana kelahiranya tepat menjelang fajar, saat sahur pada bulan puasa (Babad Diponegoro, 11:45). Dalam kronologi Jawa, tanggal kalahiran ini akan membawa pertanda baik, yang bertepatan pada bulan Jawa Sura, bulan pertama dalam tahun Jawa.

Sang Pangeran kelak akan menjadi Ratu Adil di tanah Jawa sesuai dengan bisikan ghoib yang diterimanya tatkala berkholwat di Parangkusumo. Diponegoro keturunan dari Sri Sultan Hamengkubowono II dari seorang istri sah, puteri Kedaton dari Kerajaan Madura, kalangan yang shaleh menjalankan syariat Islam. Sejak kecil Mustahar sudah dititipkan kepada neneknya di Tegalrejo. Sebuah perkampungan kecil namun mashur dan subur karena pertaniannya yang dikelola oleh nenek Mas Mustahar itu tadi.

Terkait spiritualitas, Diponegoro kecil belajar ilmu agama kepada nenek dan ibunya yang memang dari keluarga saleh dan ketat dalam beragama. Hal itu tadi yang akan membawanya kelak dalam Perang Jawa melawan kaum kolonial (Belanda) tahun 1825-1830 M dengan menggunakan simbol-simbol Islam dalam peperangan, seperti memakai Jubah putih, sorban, ikat kepala dan lain sebagainya. Selain belajar ilmu agama kepada nenek buyutnya beserta ibu, kelak, setelah dewasa ia juga belajar ilmu agama di Surakartan tepatnya di PP Mambaul Ulum yang diajar oleh pamanya sendiri yakni Kiai Mojo.

Perang Sabil yang dikobarkan oleh Diponegoro dengan menggunakan panji-panji Islam dan jejaring tarekatnya membuat Kiai Mojo ikut andil dalam peperangan tersebut. Bahkan sang kiai menjadi penasehat penting sealam perang, walaupun pada nantinya akibat selisih pendapat dengan sang pangeran Kiai Mojo lebih memilih mundur dan keluar dari barisan Diponegoro dan meyerah kepada pihak kolonial. Kiai Mojo dan keluarganya adalah pengamal tasawuf yang ketat dengan mengikuti Tariqah Sattariyah.

Baca juga:  Ulama Banjar (72): KH. Mastur Jahri, MA

Itu hal yang sudah biasa dilakukan dikalangan Islam Jawa kala itu, jalan agamanya menggunakan jalan tasawuf, apalagi Kiai Mojo berasal dari pedalaman Jawa Selatan di mana unsur-unsur mistik Islam Jawa sangat melekat dalam ke-diri-an insan muslim Jawa yang memeluk agama Islam. Bagi Peter Carey hal ini dimungkinkan menjadi salah satu penyebab berakhirnya tatanan tanah Jawa. Dengan melalui ajaran sufisme yang bersikap pasrah dengan apa yang telah digariskan oleh Tuhan dan menyerah begitu saja kepada kaum kolonial ketika diadakan perundingan di Magelang (Peter Carey, 345).

Melihat cengkeraman kaum kolonial terhadap keraton semakin kuat dan begitu masifnya pengaruh keyakinan dari luar, pangeran memutuskan ingin menjadi Raja Jawa Islam yang pertama dan terakhir sebagai upaya mendapatkan tempat istimewa di hati masyarakat Jawa. Namun, tidak semudah itu ia mendapatkan apa yang ia inginkan banyak kalangan di dalam istana keraton dan kaum kolonial yang tidak suka dengan gelar semacam itu salah satunya ibu tiri dari Diponegoro sendiri.

Walaupun ia sudah mendapatkan gelar sebagai Ratu Adil nampaknya tidak semudah dalam menjalankan amanah yang diberikan, apa lagi ketika dalam peperangan banyak sekali kendala, baik di dalam anggota maupun di dalam dirinya sendiri. Contoh kecil yang bergejolak dalam dirinya sendiri sewaktu peperangan yang terjadi di Gawok pada tgl 15 Oktober 1826 M. Hampir Diponegoro mengalami suatu kekalahan yang disebabkan karena urusan sepele, manakala menawan perempuan berketurunan Tionghoa. Pada suatu malam ia sangat rindu kepada istrinya Nyai Maduretno dan tanpa disadari ia mencurahkan nafsunya kepada tawanan Cina tersebut.

Baca juga:  Abu Ubaidah bin al-Jarrah: Sahabat Penuh Integritas    

Dalam ajaran Islam terutama mereka yang menjadi murid ataupun seorang Mursyid tarekat apalagi sebagai Ratu Adil Ing Tanah Jawi, ia harus menjaga dirinya dari hawa nafsu karena hal itu proses tazkiyatun nafs. Karena sang pangeran tidak bisa menahan hawa nafsunya, akhirnya berdampak begitu besar bagi dirinya dan bala tentaranya dalam peperangan yang terjadi pada siang hari. Jelas saja pasukan mengalami kekalahan yang sangat banyak selama berlangsungnya Perang Jawa ini. Diponegoro membuat pernyataan dalam seratnya jangan sampai anak turun saya bergaul dengan orang berketurunan Tionghoa karena itu bisa menyebabkan kesialan (Babad Diponegoro).

Setelah perang berkepanjangan tidak usai dan para Mujahid Islam semakin berkurang, akhirnya sang Pangeran terpaksa mengadakan rekonsiliasi dengan pihak Kolonial yang dipimpin oleh De Kock, tepatnya pada hari ke-dua Hari Raya Idul Fitri. Sayang, rekonsiliasi ini yang tadinya hanya bersifat ramah tambah antara Sang Pangeran dengan De Kock berujung pada penangkapan terhadap diri sang Pangeran.

Akibat tipu muslihat De Kock sang pangeran ditangkap dan diasingkan. Dalam dunia pengasingan, Diponegroro menyinggahi beberapa tempat dan itu membuatnya tidak merasa nyaman. Semarang, kota pelabuhan di Jawa ini menjadi tempat pertama tatkala Diponegoro diasingkan, tempat yang sibuk dengan perniagaanya ini membuat Diponegoro agak kerasan karena tinggal di rumah residen pada waktu itu. Jakarta, kota yang dibuat oleh Cournelis De Houtman ini kota tersibuk pertama ketika Hindia Belanda diduduki oleh kolonial dan sekaligus menjadi ibu kota negara bahkan sekelas Sultan Agung tidak bisa mengalahkan kota ini dengan serdadunya yang dikenal sangat tangguh.

Baca juga:  Ulama Banjar (39): KH. Gurdan Hadi

Di tempat ini (Batavia), Diponegoro tidak lama karena suhu disini sangatlah tidak bersahabat dengan tubuh sang pangeran yang sedang diserang oleh penyakit malaria. Dengan begitu Pangeran di pindahkan ke Manado. Manado kota yang kebanyakan penduduknya beragama Kristen ini tidak hangat dalam menyambut Pangeran Jawa bahkan kebanyakan memusuhinya. Makasar, Lor Rotterdam tempat terakhir bagi pangeran, benteng ini menajdi saksi perjalan terakhir sang pangeran di dunia ini. Diponegoro sangat dihormati di tempat in bahkan ia ingin menikahi puteri pembesar agama walaupun nantinya tidak direstui karna akan berdampak sial.

Selama masa-masa terakhirnya, pangeran menginginkan pemakamannya di samping anak keduanya dan dipagari tembok putih yang tingginya setengah dan dimakamkan secara islami, itulah pesan terakhir sang pangeran kepada pihak kolonial. Melihat perjalanan sang pangeran sebagai muslim yang taat, teguh terhadap pendirian, komitmen atas keyakinannya, dan sekaligus pengikut Tarekat Sattariyah, tentu ini adalah contoh muslim Jawa saleh yang harus ditiru oleh generasi sekarang, generasi yang sebagian belum menemukan ke-diri-annya secara utuh.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top