Sedang Membaca
Semut dan Rencana-Rencana Kemenangan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Semut dan Rencana-Rencana Kemenangan

Mukhammad Lutfi

Seekor semut dengan rencana yang sudah tersusun rapi di pikirannya. Si Semut sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap pada kuntum bunga dan menghisap madunya. Capung itu sebentar-sebentar terbang pergi dan kembali lagi.

Kali ini si Semut berkata, “Kau ini hidup tanpa usaha, juga tanpa rencana. Karena kau tidak punya tujuan nyata maupun cita-cita, apakah ciri utama dari hidupmu dan ke manakah akhirnya?’

“Aku bahagia, dan aku bersenang-senang, itu cukup nyata dan bertujuan. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh berencana sesukamu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada cara hidup yang lebih baik. Bagimu rencanamu, bagiku rencanaku,” jawab Si Capung.

“Yang tampak olehku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada capung. Baginya rencananya, bagiku rencanaku,” gumam si Semut dalam hati.

Si Semut pun berlalu, sebab ia telah memperingatkan sebisanya dalam situasi itu. Hingga suatu ketika mereka bertemu lagi.

Si Semut menemukan kios tukang daging, dan dengan cerdik ia berdiri saja di bawah meja tempat daging, menunggu apa yang mungkin datang padanya.

Si Capung, begitu melihat daging merah dari atas, segera menukik dan hinggap di atasnya. Persis pada saat itu pisau tukang daging mengayun dan membelah capung itu menjadi dua.

Baca juga:  Abu Nawas Menghilangkan Rukuk dan Sujud dalam Salat?

Separuh tubuhnya jatuh di lantai dekat kaki si Semut. Sambil memegang bangkai itu dan mulai menyeretnya ke sarang, si Semut berkata kepada dirinya sendiri,

Baca Juga

“Berakhir sudah rencananya, dan rencanaku terus berlanjut, Baginya rencananya telah usai, bagiku rencanaku mulai berputar. Kebanggaan tampaknya penting, tetapi fana. Hidup memakan, berakhir dengan dimakan oleh yang lainnya.”

 

Diolah dari Idris Shah, Harta Karun dari Timur Tengah – Kisah Bijak Para Sufi, Penerbit: Kanisius Jogjakarta, Tahun: 2005. (Diterjemahkan dari Idries Shah, Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London, Penerjemah: Ahmad Bahar).

Lihat Komentar (0)

Komentari