Sedang Membaca
Kisah Sufi Unik (20): Benarkah Syah al-Kirmani Pernah Tidak Tidur Selama 40 Tahun?
Penulis Kolom

Alumnus Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kisah Sufi Unik (20): Benarkah Syah al-Kirmani Pernah Tidak Tidur Selama 40 Tahun?

Syah al-Kirmani, nama lengkapnya Syah bin Syuja’, memiliki kuniyah Abu al-Fawaris. Dalam Tazkiratul Auliya’ dikatakan ia adalah anak dari seorang raja, tidak disebutkan raja siapa dan di mana kerajaannya.

Al-Kirmani di belakang namanya menunjukkan ia berasal dari Kirman, sebuah dareah yang dalam Mu’jam al-Buldan selatannya berbatasan dengan laut persia, dan utaranya berbatasan dekan Khurasan. Ibnu al-Jauzi menginformasikan bahwa kematian Syah al-Kirmani sekitar tahun 299 Hijriyah. 

Fariduddin al-‘Atthar dalam Tazkiratul Auliya’ menginformasikan bahwa Syah al-Kirmani pernah selama empat puluh tahun tidak tidur, tentunya kejadian-kejadian semacam ini khoriqu-ll’aadah, di luar dari keumuman manusia, dan tentunya terjadi atas kehendak Allah. Dikatakan Syah al-Kirmani ini memakai celak, bukan sembarang celak, melainkan Syah al-Kirmani memakai garam sebagai celak di kedua matanya, hingga matanya menjadi merah menyala bak darah.

Setelah empat puluh tahun tanpa tidur, Syah al-Kirmani akhirnya memutuskan untuk tidur. Atas kuasa Allah, dalam tidurnya Syah al-Kirmani bermimpi bertemu Allah.

“Ya Allah, aku mencarimu saat bangun terjaga, sedangkan aku menemuimu saat aku tertidur,” ucap Syah al-Kirmani dalam mimpinya.

“Wahai Syah al-Kirmani, wushul/pertemuanmu denganKu ini sebab seringnya kamu bangun terjaga dan wara’, jika saja kau tak melakukan hal itu kau tak akan menemuiKu dalam mimpimu,” Allah menjelaskan kepada Syah al-Kirmani.

Pada kisah yang lain Fariduddin al-‘Atthar bercerita tentang kewara’annya. Syah al-Kirmani memiliki anak perempuan, lalu ada seorang anak raja yang ingin melamar anak perempuan Syah al-Kirmani, si anak raja memberi waktu Syah al-Kirmani tiga hari untuk memikirkan lamaran kepada anaknya diterima atau tidak. Dengan berbekal kewara’annya, kewara’annya memikirkan bagaimana cara menolak lamaran anak raja itu.

Syah al-Kirmani lalu pergi ke masjid, ia memperhatikan tingkah pola manusia, hingga pada akhirnya perhatiannya tertuju pada pemuda miskin yang sedang salat. Syah al-Kirmani kagum melihat salatnya, ia pun menunggu sampai pemuda miskin itu menyelesaikan salatnya. Syah al-Kirmani lantas bertanya tentang keluarga si pemuda fakir itu. Pemuda itu lantas menjawab pertanyaan Syah al-Kirmani, “Aku sudah tak memiliki keluarga, aku hidup sebatang kara.” 

“Bagaimana pendapatmu tentang menikahi perempuan?” tanya Syah al-Kirmani.

“Mana ada orang yang mau menikah dengan orang sepertiku? Aku hanya punya uang tiga dirham,” timpal pemuda fakir itu.

“Aku akan menikahkanmu dengan tiga dirham yang kau punya, sekarang belilah satu dirham untuk roti, satu dirham lagi belikan daging, dan sisanya belikan wewangian,” perintah Syah al-Kirmani kepada pemuda itu.

Berangkatlah pemuda miskin itu membeli semua keperluan tadi, lantas dinikahkanlah anak perempuan Syah al-Kirmani dengan pemuda miskin. Demi menjaga kewara’annya Syah al-Kirmani rela menolak lamaran anak raja dan menikahkan putrinya dengan pemuda miskin.

Syah al-Kirmani meminta anak perempuannya untuk tinggal bersama suaminya, si pemuda miskin. Anak perempuan Syah al-Kirmani memang sedari dulu dididik zuhud dan wara’. Memasuki rumah sang suami, anak Syah al-Kirmani melihat ada sepotong roti kering yang ditempatkan dalam suatu wadah, ia lantas bertanya kepada suaminya, “Roti untuk apa ini?” tanya anak perempuan Syah al-Kirmani.

“Itu adalah roti sisa kemarin, aku sengaja menyisakannya agar bisa kumakan malam ini,” terang suaminya.

Mendengar jawaban itu lantas istri pemuda miskin itu pergi keluar rumah, pemuda miskin itu pun lalu berkata, “Memang aku tak pantas menikahi putri Syah al-Kirmani, aku hanya orang miskin.”

“Wahai suamiku, aku keluar bukan karena kau miskin, namun karena ketidakyakinanmu, dan kelemahan imanmu, bagaimana bisa kau menyisakan roti kemarin untuk kau makan hari ini? Apa kau tidak yakin pada Allah sang pemberi rizki?” ucap putri Syah al-Kirmani yang wara’ itu.

“Bagaimana bisa ayahku menikahkanku dengan orang sepertimu, padahal ia mengajarkanku wara’ selama dua puluh tahun, percuma ayah mengajariku kalau ujungnya aku menikah dengan orang yang tak yakin pada Allah,” imbuh istri pemuda miskin.

“Wahai istriku, maafkan kekhilfanku,” ucap suaminya yang miskin itu.

“Baiklah suamiku, aku akan tetap bersamamu, dan jangan kau risau urusan makan,” ucap putri Syah al-Kirmani kepada suaminya. Wallahu a’lam. 

Baca juga:  Sufi yang Tangannya Putus
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top