Sedang Membaca
Kitab Fasholatan dan Kenangan Belajar Salat Masa Kecil

Kitab Fasholatan dan Kenangan Belajar Salat Masa Kecil

Mukhammad Lutfi

Beberapa minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman saya di Pasuruan untuk menunaikan ibadah liburan semester. Layaknya mahasiswa rantau, tradisi pulang kampung menjadi ritual yang wajib dijalani, meski intensitas pulang kampung setiap mahasiswa berbeda-beda tergantung seberapa jauh tempat rantaunya.

Kebetulan saya kuliah di Malang, dan Pasuruan termasuk tetangga daerah sih dengan Malang. Kurang lebih butuh waktu satu jam setengah sampai dua jam lah untuk ke kampung tempat saya tinggal.

Terlepas saya sebagai mahasiswa yang sedang pulang kampung, tetiba ingatan saya ditarik jauh ke belakang ketika saya melihat ibu saya yang sedang mulang (mengajar) ngaji di rumah setiap habis Maghrib. Kebetulan di rumah ibu saya mulang ngaji anak-anak kecil seumuran TK sampai kelas 2 SD yang tinggal tak jauh dari rumah.

Ingatan saya mengantarkan ke masa ketika saya kecil dulu. Masa di mana saya mengaji di musala. Musala yang bukan saja sebagai tempat untuk bersembahyang lima waktu saja. Saat saya ngaji dulu musala merupakan tempat untuk melakukan proses transfer ilmu bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Metode dan sarana menyampaikan ilmunya pun sangatlah sederhana, tidak semoderen pada saat ini. Hanya ada murid-murid dan ustadz yang ikhlas mengajar.

Baca juga:  Tujuh Buku Gus Dur yang Harus Anda Baca

Saya ingat betul waktu ngaji di musalla dulu saya tidak melulu belajar baca Alquran, tapi juga mempelajari tata cara wudu, dan juga salat pada hari-hari tertentu. Tak dapat dipungkiri ustadz dan musalla menjadi wasilah saya dalam belajar Alquran dan salat. Dan adalagi kitab yang menjadi wasilah saya mengerti tentang praktik dasar ibadah salat itu sendiri, yaitu kitab Fasholatan.

Mungkin ada yang belum tahu tentang kitab Fasholatan ini. Sesuai dengan namanya “Fasholatan” kitab ini secara umum berisi tentang tata cara salat (fardu maupun sunah), namun di halaman awal-awal kitab ini juga menerangkan tata cara beberapa ibadah yang berkenaan dengan salat seperti azan sebelum salat, wudu serta hal-hal yang membatalkannya, tayammum, dan baca-bacaan doa wirid. Sedangkan pada halaman akhir-akhir berisi tentang faidah-faidah.

Mualif dari kitab ini adalah ulama terkenal yang juga merupakan salah satu pendiri dari Nadlatul Ulama, dan juga sekaligus tokoh perjuangan kemerdekaan dari Kudus. Beliau adalah Kiai Haji Raden (KHR) Asnawi, tulisan tentang beliau akan saya tulis di tulisan selanjutnya.

Isi kitab ini menggunakan dua model penulisan, Arab dan Pegon, bahasa Jawa yang ditulis Arab. Penulisan Arab digunakan untuk penulisan lafaz azan; bacaan niat wudu, salat, doa, ayat-ayat Alquran, dan lain-lain. Sedangkan penulisan Pegon digunakan untuk menuliskan penjelasan dan terjemahan dari teks-teks yang berbahasa Arab.

Baca juga:  Anak, Buku, Kata-kata Islam, dan Kafir

Baja juga:

Imajinasi saya semakin terbawa ke masa kecil saya saat ngaji dulu, ketika mendengar ibu menuntun bacaan niat salat di hadapan murid-muridnya. Tentu saja dengan bacaan ala kitab Fasholatan. Kebetulan hari itu ibu menuntun bacaan niat salat Maghrib. Kira-kira bacaannya seperti ini.

Baca Juga

اُصَلّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
(Ushollii fardhol maghribi tsalaatsa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an ma’muuman lillaahi ta’aalaa)

Niat ingsun solat fardu maghrib telung roka’at khale madep kiblat tur nekani ing waktune khale dadi makmum kerono Allah ta’ala.

Imajinasi saya seolah terpecah ketika azan Isya berkumandang di masjid, saya pun bergegas mengambil wudu, dan ibu pun mengakhiri mulang ngaji bersama murid-muridnya dengan bacaan shodaqallahul adziim.

Meskipun demikian, ingatan masa kecil saya ketika ngaji dan belajar salat dulu senantiasa terngiang-ngiang dalam imaji, dan menjadi obat penawar rindu tatkala pulang kampung dan mengingat kembali masa itu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top