Ketika Abu Nawas Ditanyai Dosa

Mukhammad Lutfi

Sebagian besar dari kita pasti sudah mafhum dengan puisi I’tiraf Abu Nawas. Puisi yang berisikan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan dosa-dosa itu rasanya sudah akrab di telinga muslim Indonesia, baik melalui bait-bait yang didendangkan dari langgar ke langgar; atau melalui versi yang lebih selow yang didendangkan oleh Almarhum Gus Dur; maupun lewat gubahan nada yang melankolis seperti yang dibawakan Almarhum Uje.

Terlepas dari pusparagam versi pembawaan puisi I’tiraf Abu Nawas, ada sebuah cerita yang sangat layak untuk kita renungi tentang Abu Nawas.

Menurut saya cerita ini erat kaitannya dengan substansi yang disampaikan dalam puisi I’tiraf Abu Nawas. Ceritanya begini;

Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya:

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.” Jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.

Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu. Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama:

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan.” Kata Abu Nawas.

Baca juga:  Obituari: Kiai Saifuddin Amsir, Ulama Betawi Zaman Akhir

Baca juga:

Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas. Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama:

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” Jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya jauh lebih besar daripada dosa-dosa besar yang dilakukan oleh sang hamba tersebut.” Jawab Abu Nawas.

Orang ketiga menerima jawaban Abu Nawas. Kemudian ketiga tamu itu pulang dengan perasaan puas.

Karena belum mengerti, seorang murid Abu Nawas yang kebetulan pada saat itu menyaksikan hal tersebut bertanya:

“Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?” tanya sang murid.
“Manusia dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.” Jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas. “Anak kecil yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.” Jawab Abu Nawas mengandaikan.

Baca Juga

“Apakah tingkatan otak itu?” tanya murid Abu Nawas. “Orang pandai yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu besar, karena ia berpengetahuan.” Jawab Abu Nawas.

Baca juga:  Riwayat Gus Dur Nyantri di Tambakberas (1959 -1963)

“Lalu apakah tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.
“Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Kemahabesaran Allah.” Jawab Abu Nawas.

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.
Kiranya cerita ini memiliki kesinambungan dengan substansi bait-bait dalam puisi I’tiraf Abu Nawas.

Dalam syi’irnya Abu Nawas mengatakan bahwa dosanya bagaikan hitungan pasir –karena saking banyaknya, namun ia membangun rasa optimistis dalam dirinya bahwa pengampunan Allah jauh lebih besar dan banyak jika dibandingkan dosa Abu Nawas.

Pada puisi atau syi’ir I’tiraf pula, penulis yakin bahwa Abu Nawas termasuk dalam tingkatan hati, seperti yang Abu Nawas jabarkan saat menjawab orang ketiga pada cerita diatas. Atau jika meminjam istilah Gus Ulil istilah tingkatan hati ini selevel lah dengan manusia rohani.

(Diadaptasi dari Abu Nawas Sang Penggeli Hati karya MB. Rahimsyah. Jombang: Lintas Media)

Lihat Komentar (0)

Komentari