Sedang Membaca
Andalusia Era Islam (2): Konflik Etnis hingga Datangnya Abdul Rahman Sang Penakluk

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Andalusia Era Islam (2): Konflik Etnis hingga Datangnya Abdul Rahman Sang Penakluk

Img 20200210 Wa0074

Satu catatan penting yang mesti diketahui adalah, sekira tahun 732 M hingga hingga tahun 755 M (saat berlangsung pertempuran di Tours), terjadi pertikaian antara dua faksi dalam barisan muslim Spanyol. Faksi itu adalah orang Arab Utara atau Mudariyah, dan orang Arab Selatan atau Yamaniah.

Belum lagi pemberontakan orang Berber (Barbar) yang tidak puas dengan pembagian wilayah. Mereka mengeluh bahwa bangsa mereka memikul beban terberat dalam perang, tetapi hanya diberi wilayah dataran tinggi yang gersang. Mereka meneriakkan ketidakadilan, karena orang Arab mengambil provinsi-provinsi paling nyaman di Spanyol.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketidakpuasan orang Berber ini menyulut pemberontakan sekira tahun 734 M-742 M. Pemberontakan yang mulanya terjadi dari Maroko sampai Kairo, kini menyebar ke Spanyol dan mengancam koloni Arab. Demi meredam konflik, di tahun 741 M Kehalifahan Umayyah yang kala itu di bawah khalifah Hisyam mengirim pasukan berkekuatan 27.000 orang Suriah untuk penumpasan pemberontakan orang Afrika itu, orang Berber (Hitti, 2006:639).

Sementara itu, pertikaian orang Arab Utara dan orang Arab Selatan, lebih kepada motif siapa yang lebih pantas menjadi amir atau gubernur Andalusia yang berpusat di Kordoba. Memang sepeninggal amir al-Samh, ke-amir-an menjadi sebuah jabatan yang diperebutkan dalam pertikaian berdarah antara Mudariyah dan Yamaniah (Syalabi, Jilid IV, 1995:28).

Sebagai catatan, pusat pemerintahan Andalusia dipindahkan ke Kordoba pada masa amir al-Samh bin Malik al-Khaulani. Sebelumnya, ibu kota berada di Sevilla (Isybiliyah), yaitu pada masa Abd al-Aziz bin Musa bin Nushair.

Catatan Badri Yatim yang menukil David Wassenstein menjelaskan bahwa perbedaan etnis sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur/amir yang mampu memprtahankan kekuasaannya dalam jangka waktu yang agak lama (Yatim, 1994:94).

Sebagai penanda berlakunya anarki dalam periode ini, cukuplah dicatat bahwa dalam waktu singkat antara 732-755, tidak kurang dari 23 gubernur saling menggantikan satu sama lain di Spanyol. Keterangan ini sebagaimana catatan Philip K. Hitti yang menukil al-Maqqari.

Faksi Mudariyah dan Yamaniyah pun akhirnya menemukan ide untuk meredam konflik politik dan sentimen etnis antar keduanya. Keduanya sepakat untuk memilih salah seorang secara bergantian dari kedua belah pihak setiap tahun untuk memerintah kawasan itu.

Pilihan pertama Mudariyah adalah Yusuf bin Abd al-Rahman al-Fihri, seorang keturunan Uqbah, pendiri Kairo. Kekhalifahan Umayyah kala itu yang dipimpin khalifah Marwan II menegaskan pengangkatan ini. Pengangkatan ini terjadi pada tahun 746 M. Tetapi di akhir tahun, Yusuf al-Fihri tidak memberikan kekuasaannya pada kandidat faksi Yamaniyah dan terus berkuasa sekira supuluh tahun (Hitti, 2006: 641).

Sekira tahun 750 M, Bani Abasiyah berhasil meraih tampuk kekuasaan dengan melakukan pembantaian massal terhadap anggota keluarga Umayyah. Hanya segelintir orang saja yang selamat dari pembantaian ini, salah satunya Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam. Dia selamat karena menyamar dalam waktu lama, dan melakukan pengembaraan di Palestina, Mesir, dan Afrika Utara. Ia menjadi buronan Bani Abbasiyah.

Kedatangan Abdul Rahman yang selamat dari kejaran Abasiyah itu dimanfaatkan faksi Yamaniyah. Penguasa lokal itu merangkulnya. Bukan karena faksi Yamaniyah mencintai Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, melainkan karena mereka membenci faksi Mudariyah yang saat itu berkuasa di Andalusia. Faksi Yamaniyah mengirimkan kapal untuk menyambut Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam.

Faksi Yamaniyah memanfaatkan Abd al-Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, untuk merebuat ke-amir-an dari faksi Mudariyah yang saat itu berkuasa di Andalusia, Yusuf al-Fihri. Sekali lagi, faksi Yamaniyah memanfaatkan Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam karena faksi ini membenci faksi Mudariyah.

Yusuf al-Fihri yang mengetahui bahwa kekuasaannya akan direbut lalu melobi Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam dengan iming-iming hadiah, janji, dan termasuk memberikan putrinya. Namun lobi itu tak berhasil.

Abdul Rahman dengan koalisinya dari faksi Yamaniyah merangsek ke Kordova, sedang Yusuf al-Fihri bergerak menuju Sevilla. Tahun 756 M, dua balatentara (pihak Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam dan Yusuf al-Fihri) terlibat pertempuran di tepi sungai Guadalquivir.

Pertempuran tidak berlangsung lama. Yusuf al-Fihri beserta jenderal-jenderal utamanya melarikan diri. Kordova berhasil ditaklukkan Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam beserta koalisinya, orang Arab Selatan atau faksi Yamaniyah (Hitti, 2006:644).

Yusuf al-Fihri yang buron akhirnya tewas terbunuh di dekat Toledo. Babak baru Andalusia di bawah Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam pun segera dimulai. Ya, Abdul Rahman  inilah yang terkena dengan julukan al-Dakhil, sang Penakluk.

Sumber bacaan:

– Ahmad Syalabi. 1995. Mausu’atu al-Tarikh al-Islami, Jilid IV. al-Nahdah al-Masriyah.

– Badri Yatim. 1994. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

– Philip K. Hitti. 2006 (cetakan I edisi soft cover). History of the Arabs. Jakarta: Serambi.

Baca juga:  Relasi Islam-Kristen Pada Zaman Rasulullah dan Sahabat
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top