Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Ekspansi Islam ke Andalusia atau Spanyol (1)

1 A Anspanyol

Ketika kita membuka buku-buku sejarah Islam, Andalusia merupakan satu bab yang sangat menarik untuk ditelusuri, bukan karena penaklukan awalnya, tapi juga karena ketragisan akhir dari kisahnya.

Berakhirnya kekhalifahan Umayyah menandai dimulainya kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Namun, Umayyah tidak benar-benar berakhir. Salah seorang cucu khalifah Umayyah kesepuluh, yang selamat dari pembunuhan tentara Abbasiyah, berhasil menyeberang ke Andalusia Spanyol. Laki-laki itu adalah Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, ia berhasil melakukan konsolidasi kekuatan dan mendirikan kembali Umayyah di Andalusia, Spanyol.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bukanlah orang pertama dari Kekhalifahan Umayyah yang ekspansi ke Spanyol. Kita tahu, Kekhalifahan Umayyah dibagi ke dalam dua zona dan periode kekuasaan, Timur (Umayyah I, yang berpusat di Damaskus) dan Barat (Umayyah II, yang berpusat di Spanyol atau Andalusia). Nah, Abdul Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam ini memerintah pada periode Umayyah II.

Ekspansi muslim ke Andalusia mulanya dilakukan oleh salah seorang gubernur Kekhalifahan Umayyah I (zaman khalifah Al-Walid), Musa bin Nushair, gubernur Afrika Utara. Sekira tahun 710/711 M, Musa bin Nushair mengutus seorang budak Berber yang sudah dibebaskan, Thariq bin Ziyad, untuk berangkat ke Andalusia dengan membawa sekira 7.000 pasukan (Hitti, hlm.628). Musa bin Nushair melihat adanya konflik pada kerajaan Spanyol Gotik Barat –Visigoth–, ia melirik ada kesempatan untuk menaklukkan Visigoth dan mengambil barang rampasan darinya.

Baca juga:  Lie Kim Hok: Tokoh Pers Tionghoa Peranakan

Setidaknya ada tiga tokoh yang memiliki peran penting dalam membuka jalan ekspansi ke Andalusia, Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. Konon Tharif bin Malik diperintahkan Musa bin Nushair mengintai Andalusia, sebelum akhirnya memerintahkan Thariq bin Ziyad untuk ekspansi ke sana (Syalabi, jilid II, 1984:126).

Kini Thariq mengepalai 7.000 pasukan. Juli 711 Thariq dan pasukannya berhadapan dengan pasukan Raja Roderick yang berjumlah 25.000 orang. Kendati demikian pasukan kerajaan Visigoth bisa dikalahkan karena adanya pengkhianatan dari musuh-musuh politik Roderick.

Ada yang mengatakan Roderick tewas dalam pertempuran, namun dalam catatan yang lain keberadaan Roderick belum pasti, kebanyakan sumber, baik kronik Arab maupun Spanyol, menyatakan bahwa Roderick menghilang (Hitti, 2006:630).

Setelah mencatatkan kemenangan penting ini, Thariq dan pasukannya lalu melakukan ekspansi ke kota-kota penting seperti Kordoba, Granada, dan Toledo –Ibu kota Visigoth–  (Syalabi, jilid II.1984:128).

Demi keberhasilan ekspansi ke Toledo, Thariq meminta kepada Musa bin Nushair untuk mengirimkan pasukan tambahan sebanyak 5.000 personel. Namun jumlah itu belum sebanding dengan pasukan Visigoth yang kuantitasnya jauh lebih besar, yaitu 100.000 pasukan (Yatim, hlm.89). Toledo, ibu kota Gotik Barat berhasil diatasinya melalui pengkhianatan sejumlah penduduk Yahudi. Berkat semua kemenangan itu, Thariq yang mulai berlayar mulai musim semi 711 M dengan 7.000 pasukan, di akhir musim panas telah menjadi penguasa atas separuh wilayah Spanyol (Hitti, 2006:630).

Baca juga:  Kejayaan dan Kemunduran Sains dalam Dunia Islam

Melihat keberhasilan Thariq dan pasukannya memenangi beberapa pertempuran, Musa lalu cemburu akan prestasi yang diraih Thariq. Sebagai atasan Thariq, Musa merasa tersaingi. Dengan tergesa-gesa Juni 712, Musa dengan 10.000 tentara yang terdiri atas orang Arab dan orang Arab-Suriah, segera merangsek menuju Spanyol. Musa dan pasukannya menyerang kota-kota kecil dan benteng-benteng yang dihindari dan belum terjamah oleh Thariq, seperti Medina Sidon, dan Carmona. Pertempuran terberat Musa adalah saat menaklukkan Sevilla, namun masih dapat diatasi olehnya Juni 713 (Hitti, 2006:631).

Akhirnya, sang gubernur Afrika Utara, Musa, bertemu dengan letnannya yang kondang, Thariq, di Toledo. Catatan al-Baladzuri yang dinukil Syalabi menjelaskan, bahwa keduanya terlibat persaingan, Musa bin Nushair merasa tersaingi oleh bawahannya, Thariq. Riwayat menyebutkan bahwa Musa mencambuk bawahannya itu dan lalu merantainya. Musa berdalih bahwa Thariq membangkang perintahnya, yakni agar Thariq berhenti sejenak pada tahap-tahap awal penyerbuan. Namun nyatanya, Thariq terus saja melancarkan upaya penaklukan.

Pada musim gugur di tahun yang sama –713 M– Khalifah al-Walid di Damaskus menarik Musa kembali ke ibukota, lalu Khalifah Al-Walid menuntutnya dengan tuduhan sama seperti yang dituduhkan Musa kepada Thariq. Iya, Khalifah al-Walid menuduh Musa tidak patuh pada perintahnya. Musa pun pasrah pada sang Khalifah dan lalu menarik dirinya kembali ke Damaskus.

Baca juga:  Keadilan Khalifah Umar bin Khattab

Nasib buruk menimpa Musa. Sesampainya di Damaskus Musa yang dituduh tidak patuh kepada Khalifah kemudian dihukum. Penerus Khalifah al-Walid lalu mencabut seluruh otoritas Musa. Catatan al-Maqarri yang dinukil Philip K Hitti mengatakan bahwa penakluk Afrika dan Spanyol itu menua dengan keadaan menjadi pengemis di kawasan Hijaz, tepatnya Wadi al-Qura.

Spanyol kemudian menjadi provinsi kerajaan Islam di bawah naungan Kekhalifahan Umayyah periode I. Nama Arab yang disandangnya adalah al-Andalus.

Sumber bacaan:

– Ahmad Syalabi. 1984. Mausu’atu al-Tarikh al-Islami, Jilid II. al-Nahdah al-Masriyah.

– Philip K. Hitti. 2006 (cetakan I edisi soft cover). History of the Arabs. Jakarta: Serambi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top