Sedang Membaca
Andalusia Era Islam (6): dari Ziryab hingga Mozarab

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Andalusia Era Islam (6): dari Ziryab hingga Mozarab

Img 20200212 Wa0003

Berdirinya Umayyah II di Andalusia tak henti-hentinya mendapat gangguan keamanan masif dari eropa barat. Hal inilah yang menjadi salah satu dampak dari perang proksi yang terjadi antara Umayyah II dan Abbasiyah.

Meski demikian Umayyah II tetap bercita-cita suatu saat dapat mengambil kembali gelar kekhalifahan dari genggaman Abbasiyah. Para Amir Umayyah II kemudian terlibat dalam proyek-proyek sosial budaya dalam rangka bersaing dengan Kekhalifahan Abbasiyah. Jika Abbasiyah dengan ibukotanya Baghdad adalah mutiara yang menyaingi Konstantinopel, maka Cordova kemudian menjadi satu-satunya kota yang menjadi mutiara di Eropa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di Cordova Abdul Rahman al-Dakhil mendirikan Masjid Agung Cordova. Umayyah II masih cukup berhasil membangun sebuah peradaban Muslim yang maju di Eropa. Ancaman-ancaman keamanan yang cukup mengganggu stabilitas keamanan Umayyah II terjadi pada masa amir ketiga, Al-Hakam I. ancaman itu sekira terjadi tahun 805 M, berbentuk kerusuhan sipil yang berubah menjadi pemberontakan. Meski dapat diatasi namun peristiwa ini berdampak pada eksodusnya kurang lebih delapan ribu keluarga dari wilayah Spanyol Muslim.

Pada masa amir selanjutnya, Abdul Rahman II (822-852 M), mazhab maliki dan syafi’i mulai berkembang di Andalusia. Ahli fikih yang masyhur pada masa itu adalah Muhammad bin Wadhoh, dan Taqi bin Mukhollad, nama ahli fikih kedua tidak puas dengan mazhab Maliki dengan kitab Muwaththo’-nya, lalu ia mempelajari kitan al-Umm karya Imam Syafi’i (Syalabi, 1995:88). Abdul Rahman II juga memberi perhatian pada astronomi, matematika, filsafat, musik, seni dan ilmu pegobatan.

Bidang musik dan seni inilah yang kemudian membesarkan nama Ziryab di Andalusia. Ziryab bukanlah nama baru dalam dunia musik kala itu. Ia merupakan biduan Kekhalifahan Abbasiyah dan merupakan murid dari Ishaq al-Maushili. Migrasi Ziryab ke Andalusia bukan tanpa sebab, dalam catatan Ahmad Syalabi, kala itu Ziryab dihadapkan dua pilihan yang diajukan oleh gurunya, Ishaq al-Maushili. Memilih hijrah dengan bakat seni dan musik atau memilih tetap di Baghdad namun dibenci oleh Ishaq al-Maushili yang merupakan gurunya sendiri.

Ishaq al-Maushili merasa tersaingi dengan kepiawaian Ziryab bermusik. Ziryab yang tak ingin dibenci gurunya lantas memilih migrasi dan melabuhkan diri di Andalusia ibukota Umayyah II. Mulanya, Ziryab berkirim surat kepada amir Al-Hakam I (796-822 M), ia menawarkan keterampilan musiknya. Al-Hakam I senang dengan prospek menambahkan seorang musisi Baghdad ke istana Umayyah II di Cordova.    

Namun, ketika Ziryab tiba di Spanyol, Al-Hakam sudah meninggal dunia. Beruntung ia kemudian beroleh rekomendasi dari Abu an-Nasr Mansyur, seorang musisi Yahudi di istana Cordova. Akhirnya Ziryab terhubung dengan Abdul Rahman II, penguasa Andalusia yang baru. Ia pun diterima oleh Abdul Rahman II dan deiberi jabatan penting sebagai musisi istana.

Ziryab memiliki nama asli Hasan bin Nafi’. Ahmad Syalabi (1995) dalam Mausu’tu al-Tarikh  al-Islami menulisnya dengan  Zaryab. Abdul Rahman II tidak menyia-nyiakan kedatangan Ziryab di Cordova. Abdul Rahman II memberinya gaji 3000 dinar pertahun, dan juga memberinya rumah mewah senilai 40.000 dinar. Dengan cara ini Abdul Rahman II berharap Ziryab dapat memperkaya peradaban Cordova hingga menyaingi Baghdad. Upaya Abdul Rahman II pun terbilang berhasil (Hitti, 2006:654).

Selain piawai bermusik, Ziryab juga bersinar sebagai penyair, sekaligus astronom dan ahli geografi. Selain itu ia juga dikenal sebagai tokoh etika (اتيكيت atau dalam bahasa Spanyol “etiquette“) yang mampu menginfluence banyak orang. Ia menjadi trend setter masyarakat Cordova dalam berbagai hal, termasuk fashion dan kuliner. Mulai dari gaya rambut yang dulunya panjang tergerai dengan belahan di atas dahi, tetapi Ziryab memunculkan tren baru dengan gaya rambut pangkas pendek di atas alis.

Ziryab juga memperkenalkan standar berbusana di Cordova, tata cara makan (table manner). Dulu setiap orang minum dengan bejana terbuat dari logam, kini mereka menggunakan gelas. Hidangan-hidangan tertentu, termasuk asparagus, sebelumnya tidak populer, tetapi kini menjadi favorit. Semua mengikuti Ziryab (Hitti, 2006:655).

Mode-mode yang diperkenalkan oleh Ziryab ini bukan hanya dipakai oleh kalangan Islam saja, melainkan orang di luar Islam pun mengikuti Ziryab. Bahkan sebelum Ziryab datang di Cordova, orang-orang Kristen di wilayah Spanyol Muslim sudah banyak yang mengikuti bahasa dan adat istiadat Arab. Orang-orang ini pun dikenal dengan Mozarab –dari bahasa Arab, musta’rib, artinya orang yang mengadopsi adat dan bahasa Arab–.

Terpesona oleh peradaban Arab dan sadar akan kelemahan dalam bidang seni, puisi, filsafat, dan sains, orang-orang kristen lalu mulai meniru gaya hidup orang Arab. Para peniru lantas menjadi semakin banyak dan lantas membentuk sebuah kelas sosial tersendiri dan memperoleh julukan Mozarab. 

Kehadiran Ziryab semakin menambah pusparagam peradaban timur tengah yang diperkenalkan di Eropa, utamanya bagi kalangan Mozarab. Sejumlah besar orang Kristen perkotaan kala itu telah ter-arabkan, kendati tidak benar-benar ter-Islamkan.

Sumber bacaan:

  • Ahmad Syalabi. 1995. Mausu’atu al-Tarikh al-Islami, Jilid IV. al-Nahdah al-Masriyah.
  • Muhammad Affan. 2018. Peperangan Proxy, Mozarab dan Cordova dalam Sejarah Umayyah II di Andalausia. Medan: Juspi (Jurnal Sejarah Peradaban Islam).
  • Philip K. Hitti. 2006 (cetakan I edisi soft cover). History of the Arabs. Jakarta: Serambi.
Baca juga:  Sejarah Rezim Militer Orde Baru Membasmi Islam Radikal
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top