Sedang Membaca
Tari Lengger, Dakwah Para Wali di Wonosobo

Pelajar di Islamic Home Schooling Fatanugraha Wonosobo, sedang mengaji Tari Topeng Lengger yang ada di Wonosobo.

Tari Lengger, Dakwah Para Wali di Wonosobo

Selain memiliki keindahan alam, Wonosobo juga menyuguhkan seni tari tradisional yang berusia ratusan tahun, yaitu tari “Lengger Topeng”. Tarian ini terus bertahan sampai saat ini di tengah beragamnya hiburan modern.

Tari Lengger Topeng ini dipentaskan dua orang, yaitu pria dengan memakai topeng dan yang wanita memakan pakaian tradisional.

Mereka menari kurang lebih 10 menit diiringi dengan alunan musik gamelan, yaitu gambang, saron, kendang, gong, dan lainnya. Gerak dan alunan musik tradisional begitu indah dinikmati sebagai pelengkap liburan selama berada di Negeri Kahyangan di Jawa tengah ini.

Secara harfiah, tari “Lengger” berasal dari dua kata, yaitu “le” dan “ngger”. Le bermakna orang (laki-laki), sedangkan ngger bermakna geger (bikin gempar) para penonton, karena penari yang dikiranya perempuan ternyata malah laki-laki. Tari Lengger mengingatkan manusia akan sangkan paraning dumadi.

Dari tembang-tembang parikan yang kerap mengiri tari ini pun menyiarkan pesan-pesan akan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan nilai-nilai kebaikan. Dikisahkan pula bahwa Sunan Kalijaga menggunakan Tari Lengger sebagai perantara dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat.

Pada masa itu, tari Lengger sedang ramai di kalangan masyarakat sebagai tontonan dan hiburan warga. Sehingga mereka susah diajak ke masjid, apalagi untuk mendalami agama Islam. Mereka tidak tertarik. Oleh karena itu, dengan tetap mempertahankan tradisi dan budaya setempat, Sunan Kalijaga ikut menari untuk memperingatkan.

Tari Lengger juga bermakna ling (iling) dan ngger (angger). Ngger adalah sebutan untuk anak atau cucu dari orang tua, yaitu ilinga ngger (ingatlah nak, yen mbesuk kuwi bakale mati). Sebuah nasihat orang tua kepada anak cucu agar selalu ingat (eling) eling atau ingat kepada Allah Swt setiap langkah setiap perbuatan dalam hal apapun.

Baca juga:  Sistem Tulisan dalam Bahasa Jawa

Tari lengger juga menyiarkan pesan bahwa, dalam laku hidup itu ambillah yang baik-baik dan buanglah perilaku yang buruk seperti yang digambarkan pada gerakan tari lengger.

Foto: Penulis

Topeng-topeng maupun gerak lakon yang kerap tampil pada pagelaran Lenggeran ini pun beragam bentuk dan jenis, misalnya, pada gerak tari kinayakan. Kinayakan diambil dari kata dasar ayak yang bermakna memfilter atau memilah-milah mana yang benar dan yang salah, biasanya tarian ini dimainkan pada awal pertunjukkan. Kinayakan seakan menyiratkan kepada kita semua:

Sebuah pertunjukkan silakan ditonton dan dinikmati. Tetapi perlu diingat jangan lupa untuk mengayak dahulu, memfilter di setiap alur pertunjukkan dari awal hingga selesai. Temukanlah tahqiq dari tiap gerak yang bisa menjadi formula atau pegangan dalam laku hidup.

Nilai Kinayak makin relevan sekarang ini, bukan saja pertunjukkan panggung atau seni tradisi, tapi di beranda media sosial dan segala macam bentuk dunia maya yang begitu deras di depan mata kita tiap waktu.  Arus informasi muncul bak air bah, apa saja terhanyut; hoaks, fitnah, provokasi, dan konten yang mengedepankan click bait bertebaran di mana-mana.

Baca juga:

Baca juga:  Naskah Merbabu: Sejarah Islamisasi di Lereng Merapi-Merbabu

Kalau kita tercebak itu semua, tanpa croscek terlebih dahulu, maka dapat menambah keruwetan. Hasilnya? Hanyalah ketegagan, konflik, bahkan bisa perang saudara karena saling mengaku benar sendiri.

Kesalahan kesalahan yang seringkali kita temukan pada medsos yang belum tahu tentang kebenaran dari suatu hal namun fenomena meng-share yang terus menerus bersambung bahkan dibumbui dengan caption-caption yang memperparah, nah begitulah bagian yang dapat disebut nyambung salah ditambah pola pikir yang masih kagetan dan gumunan dari hasil perilaku 3C; ciut, cethek, cekak.

3C yang dimaksud adalah, dangkal dalam berpikir pemikirannya pendek, sempit, serta tidak memiliki landasan logika dan syariat yang kuat, apalagi landasan fikih serta filosofi Islam. Tidak bisa berpikir secara berangkai, tidak memikirkan kelanjutan dari suatu tindakan atau peristiwa sampai beberapa generasi ke depan.

Maka dari itu pentingnya untuk mengolah hal apapun sebagaimana yang telah dibeberkan dan dijlentrehkan oleh para leluhur masa lalu lewat washilah tari Lengger.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top