Sedang Membaca
Farah Antun, Lawan Debat Abduh yang Menolak Negara Islam
Muhammad Nurkhoiron
Penulis Kolom

Ketua Yayasan Desantara, peneliti, konsultan, penulis lepas isu-isu HAM dan multikultural. Pernah bekerja di Komnas HAM sebagai komisioner (2012-2017) dan mengajar ilmu sosiologi di Universitas Paramadina (2007-2011). Tinggal di Depok

Farah Antun, Lawan Debat Abduh yang Menolak Negara Islam

Farah Antun Buku

Kukira tak banyak orang yang mengenal Farah Antun (1874-1922). Seorang pemikir prolifik, yang belakangan dikenal di kalangan pengagum Mohammad Abduh (1849-1905). Antun adalah Iawan debat Abduh. Mereka berpolemik seputar upaya mempertahankan negeri-negeri Timur Tengah yang dipaksa harus menyesuaikan diri dengan perubahan: Di tengah keroposnya rezim Turki Ottoman dan ganasnya imperalisme Barat, mereka dihadapkan dengan pertanyaan untuk membangun tata sosial-politik baru.

Farah Antun1
Farah Antun (Foto: abjjad.com)

Tatanan baru ini harus merepresentasikan diri bangsa Arab secara keseluruhan. Abduh, seperti ditulis berbagai ulama modernis, mempertahankan gagasan yang bersumber dari doktrin Islam. Ia menganjurkan nasionalisme negara-negara Arab yang dibangun diatas landasan negara Islam modern dengan sistem syariahnya.

Bagi Abduh, Islam merangkum ajaran universal, memiliki sumber-sumber terbaik yang dapat digunakan untuk mengawal bangsa Arab mengarungi perubahan. Meskipun Abduh tidak menyukai rezim Ottoman Turki yang korup, landasan sistem pemerintahan Islam yang sudah dirintis oleh rezim Ottoman masih penting dikemas kembali. Itulah sebabnya Abduh, setelah Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897), dikenal sebagai pembaru Islam, yang berhikmat dengan Pan Islamisme.

Disini Antun berdiri di kutub yang berlainan. Ia tak bersepakat dengan elemen-elemen Islam yang pejal yang harus dikodifikasi ke dalam hukum-hukum syariah. Bagi Antun, sosok yang juga dikenal sebagai penerjemah Ibn Rusyd ini, nasionalisme Arab harus dibentuk diatas landasan negara modern yang tidak berpihak kepada agama-agama yang dianut bangsa Arab.

Sungguh pun Islam menjadi kekuatan mayoritas, Antun lebih memilih bentuk negara sekuler sebagai sistem paling sesuai untuk dijadikan landasarn politik dan sistem sosial bangsa Arab. Menurut Antun, kemandegan dunia Timur tidak lepas dari dominasi agama yang mencengkeram kehidupan rakyat.

Kukira, disini Antum tidak sedang membicarakan dominasi Islam saja yang menguasai dunia Timur sejak kekuasaaan Turki Ottonam, namun di kalangan komunitas Kristen pun agama sangat memegang peranan sangat penting. Namun demikian,  Antum tak begitu tolol melihat kejumudan agama dengan cara yang dangkal dan ekstrim.

Oleh karena itu, Antun tak melihat agama  dengan cara pesimistis. Baginya, agama tetaplah  juru penerang di masa depan. Agama dan peradaban adalah dua sisi dari koin yang sama. Beginilah Antun menggambarkannya yang bertolak belakang dengan dunia Barat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Antun, Barat tak peduli agama, kalaupun dibutuhkan, ia  cuma alat saja. Agama digunakan untuk menyuarakan kepentingan politik, bukan sebaliknya. Kaum misionaris Barat pergi ke Timur melintasi laut Mediterania membawa kitab-kitab Bibel di tangan kanan, sembari tangan kirinya membawa pedang dan mesiu, sementara dipunggungnya bertumpuk kepentingan politik Prancis, Inggris dan seterusnya.

Baca juga:  Gus Dur dalam Mata Pembelajar Filsafat di Kampus Katolik
Farah Antun
Foto: marefa.org

Namun demikian, para misionaris ini menurut Antun bukan sosok penjahat yang berkedok orang alim yang sengaja hendak menguasai negara-negara Timur. Mereka pergi ke Timur dengan perasaan dan semangat keimanan.

Sungguh pun kekuatan misionaris ini berada di balik kaum imperialis, bangsa Arab harus berterima kasih, karena misi kaum misionaris inilah peradaban Arab kembali bergolak aktif menatap ke depan. Kita tak bisa membalik keadaan seperti sebelum kedatangan mereka, kata Antun. “Syria telah membuktikan kebenaran itu”, katanya. “Karena kedatangan Kaum Jesuit, misionaris Amerika di Syria, kita belajar peradaban”.

Dualisme Barat yang berdiri diantara kaum misionaris keagamaan dan imperialisme inilah yang menurut Antun perlu dicermati. Ketika mereka bergerak ke Timur,  kaum imperialis Barat merusak politik untuk dijadikan sumbu pemecah belah. Namun sebaliknya, lantaran berkah orang-orang misionaris dalam mengenalkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan ini telah membuka mata orang-orang Timur untuk mempertanyakan kembali diri mereka.

Di Indonesia,  perdebatan antara negara Islam atau bukan sudah dimulai sejak para founding fathers kita memperdebatkan dasar negara. Perdebatan yang berlarut-larut ini sempat memecah golongan Islam yang mempertahankan Piagam Jakarta dengan golongan nasionalis yang mempertahankan Pancasila.

Bedanya adalah, Farah Antun berpolemik dengan Muhammad Abduh jauh sebelum mereka sempat menikmati kemerdekaan negaranya. Mereka berdebat di Al Jami’ah, majalah yang didirikan oleh Antun sendiri, dan di Al Manar, sebuah majalah yang dibentuk oleh kelompok pergerakan dari kalangan pembaru Islam yang dipimpin Rashid Ridha (1865-1935), murid kesayangan Muhammad Abduh.

Perdebatan diantara kedua tokoh ini adalah perdebatan autentik yang lahir dari kaum pergerakan, yang di dorong oleh hasrat untuk membayangkan apa yang digambarkan oleh Ben Anderson sebagai imagined communities.  Dan bedanya dengan kaum pergerakan di Indonesia, Antun yang berlatar belakang Kristen Ortodoks, berani menyatakan pikirannya secara terbuka menolak gagasan-gagasan negara Islam.

Antun adalah  jurnalis francophone yang berpindah dari Tripoli ke Mesir. Ia mendapat pendidikan dari sekolah swasta terbaik (bilad al sham) di Syiria. Sebuah sekolah yang dibentuk oleh kaum misionaris Protestan dan Katolik dan banyak mengenalkan pemikiran-pemikiran liberal.

Baca juga:  Mengintip Baju Sakti dari Kerajaan Persia

Tahun 1888 dia meneruskan ke Kiftin, Tripoli, sekolah khusus lelaki, dibawah naungan gereja Ortodoks. Dari sini ia belajar bahasa Prancis, Inggris, Arab, dan belajar nilai-nilai toleransi. Setelah lulus dan bekerja sebentar membantu ayahnya berdagang, ia kembali ke Tripoli,  menjadi guru  di madrasah Al-Ahliyah hingga akhirnya menemukan passionnya di jurnalistik.

Saat ia mengajar, kiprahnya mulai menarik perhatian kaum intelektual muslim,  terutama usai merampungkan biografi dan pemikiran salah satu pemikir muslim terkemuka abad pertengahan, Ibn Rushd (1126-1198). Di dalam tulisannya,  Antum mengekspos pandangan Ernest Renan yang dikemukakan melalui Averroes et Averroism, yang menyatakan bahwa ortodoksi Islam menghalangi semangat kebebasan dalam penjelajahan.

Melalui Ibn Rushd, sebenarnya Antun hendak memperlihatkan betapa Islam sudah mengembangkan kosmopolitanisme. Islam telah berjasa membangun pemikiran cemerlang yang melampaui zamannya. Oleh karena itu, penolakan Antun atas gagasan negara Islam sama sekali tidak didasarkan atas sikap islamophobia, tetapi justru tengah menghidupkan khazanah-khazanah Islam masa lalu yang sesungguhnya sudah bersentuhan dengan Hellenisme.

Meski demikian, keteguhan Antun membela negara sekuler tak lepas dari latar belakangnya, diasuh dalam tradisi Kristen dan mencicipi pendidikan ala Barat. Saat ia menemukan Ibn Rushd, sepertinya ia sedang mengalami eureka, yang membuatnya kian bersemangat mengobarkan gagasan-gagasan liberalisme.

Antun meyakini negara modern sekuler akan lebih menjaga hak konstitusional individu warganya. Di saat rezim Ottoman masih berkuasa, Antun melontarkan pandangan yang kontroversial pada zamannya: Ia mengemukakan pandangan bahwa toleransi sejati hanya dapat dikembangkan ketika agama dibatasi di ruang privat.

Antun berpendapat, tugas negara bukan menegakkan semangat keagamaan yang bersifat primordial, namun menjaga hak-hak warga negara yang didasarkan dari hak-hak kodrati (natural rights), yang belakangan dikenal sebagai hak asasi manusia. Salah-satu hak kodrat itu,  adalah hak setiap orang untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing.

Hak-hak kodrat ini mesti dikeluarkan dari sandaran agama-agama, karena watak sektarian agama lebih bergiat memicu konflik daripada toleransi. Oleh karena itu, pembangunan komunitas baru yang didasarkan oleh semangat individualisme dan sekularisme dapat mengurangi ketegangan antar agama dan menebalkan semangat toleransi.

Baca juga:  Asal-usul Pekikan atau Salam "Merdeka!"

Prinsip-prinsip ini harus membentuk ikatan politik dalam semangat kewargaan (civilitas) yang mengganti loyalitas warga terhadap agamanya. Oleh karena itu, hubungan antar warga yang dikelola dalam kehidupan publik, moral-moral agama harus diganti dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan berkeyakinan.

Di titik inilah gagasan Antun mendapat serangan balik dari Muhammad Abduh. Menurut Abduh, prinsip-prinsip negara sekuler tidak sesuai dengan tradisi bangsa Arab. Sekulerisme adalah bagian dari penetrasi Barat yang hendak mencerabut praktik-praktik agama yang sudah lama menjadi bagian dari tradisi bangsa Arab.

Daripada memutus mata rantai peradaban masa lalu Arab dengan menggaungkan sekularisme, Abduh mengajukan doktrin-doktrin Islam yang dapat diperbarui, dipikirkan kembali sesuai dengan semangat zaman sebagai sumber membangun tatanan sosial dan politik baru. Bagi Abduh, Islam juga berwatak universal, doktrin-doktrin Islam juga dapat digunakan untuk membangun peradaban toleransi.

Usai kepergian mereka, klaim universalitas yang menjadi topik perdebatan kedua tokoh ini terus menggema. Klaim Antun adalah reafirmasi dari universalitas Barat, sementara kutub Abduh, dkk adalah tawaran universalitas lain yang bertolak dari sumber-sumber Islam.

Komitmen Antun dalam menemukan prinsip-prinsip universal di dalam hak-hak kodrat diteruskan oleh keponakannya, Charles Malik (1906-1897). Ia adalah menteri luar negeri Libanon yang berada di balik rumusan draf Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB 1948.

Sementara Abduh, jejaknya dapat dilihat dari gerakan Pan Islamisme yang sempat menjadi gerakan global dan diterima di Indonesia oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan dari kaum Islam modernis: M.Natsir (1908-1993), dkk. Sayangnya, kedua pemikir ini tak sempat menikmati masa-masa kemerdekaan negaranya.

Usai kemerdekaan negara-negara Timur Tengah, peperangan-peperangan baru seperti tak pernah mengalami jeda. Timur Tengah malah menjadi ladang perebutan minyak yang menciptakan polarisasi diantara mereka dan menjadi rebutan negara-negara Barat.

Karena itu, orang-orang seperti Farah Antun dan Muhammad Abduh tak pernah lagi mendapat ruang debat yang semestinya. Sebaliknya, negara-negara Timur Tengah dan Indonesia saat ini justru diramaikan oleh gelombang pemikiran baru yang tak butuh debat dan diskusi. Yakni kaum islamisme yang meniru cara-cara otoritarian dalam memperjuangkan negara Islam. Wallahu’alam.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top