Sedang Membaca
Tradisi Penyusunan Nazam Alfiyah dan Persaingan Literasi antar Ulama

Tradisi Penyusunan Nazam Alfiyah dan Persaingan Literasi antar Ulama

Mohammad-Nasif

Sejarah literasi Islam pernah mencatat tentang tradisi penulisan “arba’in” di antara ulama hadis. Arba’in merupakan kitab yang memuat hanya 40 hadis. Tradisi yang dipengaruhi hadis yang belakangan dinyatakan dhaif ini berkembang dan menelorkan ratusan karya dengan metode pemilihan hadis yang bermacam macam-macam.

Salah satunya yang cukup terkemuka dan dipakai banyak kalangan adalah Arba’in an-Nawawiyah karya Imam Nawawi. Tradisi hampir serupa terjadi pada nazam Alfiyah.

Mendengar nazam Alfiyah, mungkin ingatan kita, santri mapun pengkaji dunia pesantren tertuju pada nazam Alfiyah karya Ibnu Malik. Nazam dalam bidang gramatikal Arab ini sangat populer sebab menjadi kurikulum dan hafalan wajib di banyak pesantren. Tapi, apakah Anda tahu bahwa nazam Alfiyah tidak hanya satu? Tidak hanya satu dalam bidang gramatikal Arab, bahkan tidak hanya satu dalam berbagai bidang keilmuan Islam? Dan di antara para penyusun Alfiyah tersebut terjadi persaingan dalam bidang Ilmu Arudh sampai tercatat adanya peristiwa teguran dalam mimpi sebab pengarang Alfiyah yang tersaingi sudah meninggal.

Mungkin kisah teguran dalam mimpi tersebut sudah banyak yang tahu. Nazam Alfiyah karya Ibnu Malik tidaklah disusun pertama kali dalam bidangnya. Sebelumnya ada sosok Imam Ibn Mu’thi yang juga menyusun nazam Alfiyah dalam gramatikal Arab. Fakta ini bisa disimak dalam muadimah nazam Alfiyah ibnu Malik. Bagaimana ibnu Malik sesumbar bila karyanya itu lebih unggul dibanding karya Ibn Mu’thi. Hal itulah yang konon melatarbelakangi Ibnu Mu’thi yang saat itu sudah meninggal menegur Ibn Malik dalam mimpi. Dan kemudian membuat Ibnu Malik memuji-muji Ibnu Mu’thi usai menyatakan karyanya lebih unggul dari Ibnu Mu’thi. Ibnu Malik menyatakan:

وتقتضي رضا بغير سخطِ  *** فائقة ألفيّة ابن معطي

وهو بسبقٍ حائز تفضيلا ***  مستوجب ثنائي الجميلا

Semoga nazam ini memperoleh rida tanpa kemarahan *** sembari mengungguli Alfiyah ibnu Mu’thi

Beliau mendahului memperoleh keutamaan *** serta berhak memperoleh pujian indah

Namun, ternyata redaksi فائقة ألفيّة ابن معطي (mengungguli Alfiyah ibnu Mu’thi) ini masih berlanjut dan seakan menjadi pernyataan yang sahut menyahut diantara para ulama’. Hal itu disebabkan setelah Ibnu Malik, Imam as-Suyuthi mengarang nazam Alfiyah dalam Ilmu Nahwu dan menyatakan فائقة ألفية ابن مالك (mengungguli Alfiyah ibnu Malik). Imam Suyuthi menyatakan:

فائقة ألفية ابن مالك *** لكونها واضحة المسالك

Mengungguli Alfiyah Ibn Malik *** sebab ia memiliki cara penyampaian yang jelas

Imam al-Ajhuriy kemudian mengarang Alfiyah dalam bidang Nahwu dan menyatakan فائقة ألفية السيوطي (mengungguli Alfiyah as-Suyuthi). Imam al-Ajhuri menyatakan:

فائقة ألفية السيوطي *** لكونها محكمة الربوط

Mengungguli Alfiyah as-Suyuthi *** sebab ia jelas kaitan-kaitannya

Imam al-Jammusi menyahuti sesumbar Imam Suyuthi dengan menyatakan فائقة ألفية السيوطي (mengungguli Alfiyah as-Suyuthi). Imam al-Jammusi menyatakan:

فائقة الفية السيوطي *** لكونها وافرة الشروط

Mengungguli Alfiyah as-Suyuthi *** sebab ia telah terpenuhi syarat-syaratnya

Dalam bidang ilmu hadis, Imam as-Suyuthi sesumbar bahwa Alfiyah beliau lebih unggul dari Alfiyah Imam Iraqi dan menyatakan:

Baca Juga

فائِقةٌ أَلْفيَّةَ العِرَاقِي *** فِي الجَمْعِ والإِيجازِ وَاْتِّسَاقِ

Mengungguli Alfiyah al-Iraqi *** dalam Jam’ Ijaz serta Ittisaq

Dalam bidang ilmu balaghah, Alfiyah karya Imam Suyuthi yang lebih akrab disebut-sebut dengan judul Uqudul Juman, ditanggapi oleh Imam Ibnu Bunah yang menyatakan:

أرجوزة محكمة الربوط *** فائقة ألفية السيوطي

Nazam rojaz yang jelas kaitan-kaitannya *** mengungguli Alfiyah as-Suyuthi

Di lain sisi, nazam Alfiyah sendiri ternyata disusun oleh banyak ulama dalam banyak bidang. Berikut ini yang dapat penulis dokumentasikan: 

  1. Ilmu Qiraat: Alfiyah as-Syathibi berjudul Hirzul Amani, Alfiyah Ibn Jazari berjudul Tahibatun Nasyr. 
  2. Ilmu nahwu: Alfiyah Ibn Malik, Alfiyah Ibn Mu’thi. 
  3. Mustholah Hadis: Alfiyah al-Iraqi. Alfiyah as-Suyuthi. 
  4. Ilmu Aqidah: Nuniyah Ibn Qayyim. 
  5. Ilmu Sirah: Alfiyah Iraqi. 
  6. Ilmu Ushul: Alfiyah as-Suyuthi berjudul al-Kaukab As-Sathi’, Alfiyah al-Muraqi, Alfiyah asy-Syinqithi, Alfiyah Muhammad Ali Adam. 
  7. Ilmu Gharib al-Qur’an: Alfiyah al-Iraqi. 
  8. Ilmu Balaghah: Alfiyah as-Suyuthi berjudul Uqudul Juman. 
  9. Ilmu Arud: Alfiyah al-Atsari, Alfiyah Hasan ibn Isma’il. 
  10. Ilmu Shorof: Alfiyah an-Naisaburi. 
  11. Ilmu Bahasa: Alfiyah Ibn Marhal, Alfiyah Ibn Jadid. 
  12. Ilmu Fiqih: Alfiyah Ibn al-Waradi, Alfiyah al-Imrithi, Alfiyah al-Hukmi, Alfiyah Ibn Adud. 
  13. Ilmu tafsir: Alfiyah as-Syinqithi. 
  14. Ilmu Tarikh: Alfiyah as-Sakhawi. 
  15. Ilmu mimpi: Alfiyah Ibn Waradi.

Pelajaran yang dapat digali dari tradisi penyusunan nazam Alfiyah adalah:

Pertama, sebuah capaian suatu karya, seperti dalam penyusunan nazam pada bilangan 1000, tidaklah lantas tak pantas untuk disaingi dengan bentuk serta bilangan yang sama. Sah-sah saja menyaingi sesuatu dengan karakter yang sama. Asal milik kita memiliki nilai lebih dari yang lain.

Kedua, “menyombongkan” karya antar ulama bukanlah sesuatu yang negatif. Tentu ini tidak dimaksudkan sebagai “kesombongan” negatif, yang merendahkan karya orang lain serta meremehkan anugrah tuhan. Menyombongkan karya bisa menjadi suatu cara memupuk semangat untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top