Sedang Membaca
Mualaf, Airmata, dan Batistuta
Penulis Kolom

Penggiat isu-isu kedamaian dan sosial di Kindai Institute Banjarmasin

Mualaf, Airmata, dan Batistuta

C72e93a3 8042 4b47 Bff5 1d1ddc6a02da

Menuliskan kisah-kisah pertukaran pemain bola memang tidak akan pernah surut dari berbagai cerita menarik. Di liga-liga negara Eropa, transfer pemain dilakukan sebanyak dua kali sepanjang musim. Dikenal dengan transfer musim panas, dimulai dari bulan Juni hingga akhir Agustus, dan musim dingin, dilakukan sepanjang bulan Januari.

Bagi seluruh tim sepakbola, transfer pemain adalah salah satu dari usaha memperkuat skuad dari hasil evaluasi perjalanan sepanjang musim. Begitu pentingnya, kemarin saja kita dikejutkan dengan kabar dari Manchester City yang telah dihukum oleh otoritas sepakbola Eropa. Mereka dilarang melakukan transfer pemain hingga dua tahun ke depan. Berita ini langsung memancing isu eksodus beberapa pemain inti, seperti Leroy Sane, Kevin de Bruyne hingga Sergio Aguero.

Dari saga-transfer pemain yang terus mewarnai dunia sepakbola hingga sekarang, ada satu cerita hijrah bintang lapangan dari klub yang pernah membesarkan namanya. Kisah Gabriel Omar Batistuta adalah satu dari sekian banyak drama kepindahan pemain yang perlu kita ambil ibrah di dalamnya.

Gabriel Batistuta adalah pemain asal Argentina diagungkan bak dewa kala bermain di klub Fiorentina. Karirnya di klub berjersey warna ungu tersebut dimulai sejak musim 1991. Ditransfer dari klub Argentina, Boca Junior, ia bermain di Fiorentina hingga tahun 2000. Karir Batigol, begitu sapaan akrab Batistuta, di klub asal Firenze tersebut tidak selalu indah.

Fiorentina pernah harus terdegradasi ke Serie B setelah diperkuat Batistuta. Batigol membuat keputusan untuk bertahan dan bertekad membawa Fiorentina kembali ke Serie A. Pasca semusim di Serie B, Fiorentina berhasil kembali ke divisi elit di Italia. Oleh loyalitas dan dedikasinya, Batistuta dipuja bak dewa dan sangat diagungkan di Firenze. Para fans La Viola, julukan Fiorentina, membuat patung Batistuta di depan stadion Artemio Franchi, markas mereka.

Baca juga:  Menyoal Logika Rilis Kementarian Agama Terkait Mubalig

Lapar akan gelar, Batistuta akhirnya menerima godaan dari klub Serie A lain, AS Roma, yang saat itu sedang membangun mimpi merengkuh gelar juara liga. Batigol percaya dengan pindah ke klub yang lebih besar akan mewujudkan mimpinya yang juga sama dengan impian klub tersebut.

Arkian, mimpi Batistuta akhirnya terwujud setelah berjuang di musim 2000/2001 dengan raihan gelar juara. Bersama Francesco Totti dan Vicenzo Montella, Batistuta menjadi trisula paling ditakuti oleh klub Italia kala itu. Sepanjang karir hebat Batistuta di AS Roma, ada satu kejadian yang bisa kita tarik pelajaran daripadanya.

Tanggal 26 September 2000, mungkin adalah masa yang paling diingat oleh seorang bomber paling ditakuti kala itu. Tepat di hari tersebut, Fiorentina bertemu dengan AS Roma di pekan ke-8 Serie A Liga Italia musim 2000/01. Batistuta yang baru saja pindah dari La Viola secara otomatis bertemu dengan bekas klubnya yang telah dibelanya sejak lama.

Tentu hal ini sangat berat bagi seorang pemain yang dipuja bak dewa dan memiliki loyalitas tinggi terhadap klub berkandang di Artemio Franchi. Lebih berat lagi adalah dalam pertandingan yang dihelat di Olimpico, kandang AS Roma, Batistuta mencetak gol bagi klubnya. Pasca mencetak gol ke gawang yang dijaga Francesco Toldo, Batistuta yang kala itu dikerumuni oleh teman-temannya malah tidak mampu menahan rasa haru dan meneteskan airmata.

Baca juga:  Hidup Menjalani Takdir

Kejadian tersebut tentu menyentakkan bagi kita yang selama ini dengan sangat mudah melupakan kenangan, baik indah atau buruk. Padahal mungkin kenangan tersebut pernah mewarnai kehidupan kita di dunia ini. Jika kita hubungkan fenomena pendakwah yang sebelumnya muallaf, yang memutuskan meninggalkan agama sebelumnya dan memeluk Islam.

Beberapa dari muallaf malah memiliki kesempatan untuk mendedahkan beberapa pengalaman, kenangan hingga pengetahuannya pada publik, tentang agama mereka sebelumnya. Kondisi ini terasa menjadi sangat lazim di masyarakat muslim, bahkan beberapa menjadi ustad/ah yang memiliki otoritas atau kuasa, berupa pengetahuan tentang agama yang mereka peluk sebelumnya.

Kisah-kisah tentang kejelekan atau kebobrokan dari ajaran agama lain dari para ustad mualaf tersebut, seakan menjadi pemuas dahaga atau pelampiasan dendam dari kita yang selama ini terasa memiliki kebencian pada mereka yang berbeda agama dengan kita. Ajaran Islam sebagai satu-satunya agama yang menjamin keselamatan di akhirat kelak, sekarang ditambahkan bumbu kebencian yang tumbuh dari kisah akan “kebobrokkan” ajaran agama orang lain.

Kasus terbaru, Bangun Samudra, yang diklaim memiliki kualifikasi pendidikan yang tinggi hingga strata 3. Terlepas kontroversi akan keaslian gelar tersebut, klaim pendidikan memang sering dipakai oleh beberapa mualaf yang mengambil posisi sebagai pendakwah. Legitimasi dan keabsahan dari ceramah yang sering diisi dengan cerita dan imaji soal ajaran agama yang mereka sebelumnya, adalah alasan klaim pendidikan dianggap perlu dicantumkan.

Baca juga:  Perkembangan Literasi Arab di Barat: Berubahnya Sebuah Paradigma

Tidak seluruh mualaf pendakwah yang mengambil model dakwah yang sama, memakai klaim pendidikan. Mayoritas mereka memang memiliki kesamaan, yaitu selalu mengklaim mengetahui bahwa ada kejahatan atau kebobrokan dalam ajaran agama yang mereka peluk sebelumnya.

Klub sepakbola memang tidak sama dengan agama, yang jauh memiliki kompleksitas tinggi. Namun kisah Batistuta dalam menghadapi kepindahannya yang memiliki cerita lebih baik bersama AS Roma, tidak malah membuatnya gelap mata atas apa yang pernah dia jalani bersama Fiorentina. Dia tetap saja menyimpan perasaan yang dalam terhadap klub tersebut, dan meneteskan airmata saat mencetak gol di gawang Fiorentina adalah bukti sahih rasa hormatnya pada klub tersebut.

Para mualaf pendakwah harus belajar lebih dalam lagi bahwa perbedaan ajaran, termasuk dalam konsepsi paling esensi dalam agama seperti konsep Ketuhanan, bukan menjadi stempel mereka untuk menghina apalagi mengolok-olok agama terdahulu. Belajarlah wahai para mualaf pendakwah pada Batistuta, yang tetap menyimpan semua kenangan dalam hatinya tanpa mengutuknya sebagai pengalaman buruk, walau dia tetap tersenyum lebar dan bergembira saat merengkuh gelar bersama AS Roma.

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin. (RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top