Sedang Membaca
Awas, Banyak yang Egois di Era New Normal!
Penulis Kolom

Dosen di Unusia, Jakarta. Menyelesaikan Alquran di Pesantren Krapyak Jogjakarta dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Awas, Banyak yang Egois di Era New Normal!

Dua bulan “dikerang dan disekap” dalam PSBB menyebabkan sikap egoisme orang bermunculan di mana-mana. New Normal atau kenormalan baru telah dijadikan momentum memuaskan hasrat sekaligus melepas ketegangan pihak-pihak yang tak mampu menyimbangkan watak kepribadiannya. Seperti sikap masa bodoh, sikap terserah, sikap perlawanan, dan lain sebagainya: yang penting kebutuhan pribadi terpenuhi.

Egoisme sendiri lahir dari ketidakseimbangan antara 3 (tiga) unsur yang diteorikan Sigmun Freud sebagai “Id, ego dan superego”. Menurut Freud, id merupakan sumber segala energi psikis kepribadian seseorang. Id adalah satu-satunya komponen kepribadian seseorang semenjak ia lahir di dunia yang mempengaruhi perilaku naluriah dan primitive manusia.

Ingin hidup senang dan berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan, atau sebaliknya timbul rasa cemas dan tegang pada saat mengahdapi masalah; semua itu merupakan pengaruh kerja Id dalam diri seseorang.

Sementara ego, menurut Freud merupakan dorongan dari Id agar dapat dinyatakan dan diterima di dunia nyata. Ego adakalanya dalam bentuk pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego sebetulnya beroperasi pada wilayah sekunder atau lapisan kulit semata.

Dalam diri manusia ego berputar untuk mencegah terjadinya ketegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan seseorang. Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan.

Baca juga:  Benarkah Kita Sudah Memohon Maaf?

Adapun superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan. Superego hadir dalam alam sadar, prasadar, dan tidak sadar dalam diri manusia. Pada dasarnya Superego adalah hati nurani. Keberadaan Superego dapat memberikan pedoman untuk membuat penilaian, baik yang benar atau yang salah.

Id, Ego dan Superego saling mempengaruhi satu sama lain, ego bersama dengan superego mengatur dan mengarahkan pemenuhan id dengan berdasarkan aturan-aturan yang benar dalam masyarakat, agama dan perilaku yang baik atau buruk.

Menurut Sigmun Freud pribadi yang sehat adalah yang mampu menyeimbangkan antara Id, Ego, dan Superego. Namun Jika ketiga unsure itu tidak seimbang maka yang lahir adalah sikap individual yang negatif, yakni pribadi yang egois.

Pribadi yang egois adalah individu yang mengalami perkembangan Id-nya sebatas dapat menemukan cara memuaskan kebutuhan ego-nya. Tak sampai menggunakan supeegonya. Dikatakan demikian sebab secara sederhana, ego merupakan bagian dari identitas yang dibangun sendiri oleh seseorang tanpa memperdulikan aturan-aturan yang benar dalam masyarakat, agama dan perilaku yang baik atau buruk.

Semua keyakinan yang dipegang teguh dalam diri seseorang, seperti kebisaan dan kemampuan, kepercayaan diri dan kekuatan, turut membangun ego. Itu sebabnya ego seringkali diidentikkan dengan rasa percaya diri dan harga diri yang ingin ditunjukkan kepada orang lain supaya mendapatkan pengakuan.

Baca juga:  SALAM, Pesantren Tradisional, dan Kehadiran Negara

Ego dapat dikatakan sebagai kulit lapisan terluar yang selama ini dibangun oleh seseorang tentang citra dirinya. Ego selalu focus pada kepentingan mengutamakan diri sendiri dan tidak peduli pada realita yang ada di sekelilingnya. Ego juga yang bermain dalam pikiran seseorang bahwa apa yang berlawanan dengan kepentingannya harus dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Egonya seseorang akan menganggap dirinya dan perbuatannya adalah yang paling benar. Ego juga yang mendorong orang untuk mendapatkan pembelaan atas sesuatu yang diinginkannya secara subyektif. Itulah sebabnya ego sering menjadi pertanda karakter yang kurang terpuji dalam diri seseorang.

Makanya jangan heran kalau di masa new normal akan terjadi dan banyak timbul sikap dan prilaku tak terpuji. Bersabarlah! sebab hanya orang yang waras saja yang akan mampu memetik hikmah di balik peristiwa ini.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top