Sedang Membaca
Kota Islam yang terlupakan (3): Harar-Ethiopia, Tempat Bersatunya Kopi, Sufi, dan Perdamaian
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mukim di Yogyakarta.

Kota Islam yang terlupakan (3): Harar-Ethiopia, Tempat Bersatunya Kopi, Sufi, dan Perdamaian

1 A Doa Dan Kopi

Pada Desember 1880, penyair Prancis Arthur Rimbaud tiba di gerbang kota kuno Harar.  Ia telah menempuh perjalanan yang begitu panjang, melintasi teluk Aden dengan sebuah perahu layar dan menunggang kuda di tengah gurun Somalia selama 20 hari.

Rimbaud berdiri menghadap tembok tinggi yang menutupi kota kecil itu. Umurnya masih sangat muda, 26 tahun. Namun ia telah berhenti menulis puisi sejak umur 21 dan memulai pengembaraan yang akan membawanya ke Eropa, Asia, Timur Tengah, dan akhirnya Afrika.

Rimbaud menetap selama sepuluh tahun, bekerja sebagai pedagang kopi. Perjalanannya dimulai setelah kekasihnya, penyair Prancis Paul Verlaine, menembak pergelangan tangannya dengan revolver di sebuah kamar hotel. Kehidupan yang sulit bersama ibunya di rumah pertanian Charleville, Ardennes.

Apa yang dicari Rimbaud di kota ini? Gang-gang sempit serupa labirin yang kapan saja bisa menyesatkan para pengelana, perempuan yang berjejalan di pasar, bergosip, membeli teff untuk membuat roti tipis injera yang menyerupai spons, memakai baju dengan warna yang menyilaukan dan aroma rempah yang menyengat. Perempuan-perempuan Oromo, Argobba, Somali, atau Adares.

Kebanyakan lelaki bekerja sebagai supir angkot dan bajaj. Bertahun-tahun sebelumnya mereka beternak unta. Beberapa lelaki akan duduk di atas kursi, mengayuh pedal mesin jahit di jalan Makina Girgir. Selainnya, kota ini terasa ditinggalkan lelaki terutama ketika matahari sore semakin menyengat. Sekali kita memasuki kota itu, akan paham betapa para lelaki mengurung diri di dalam rumah sembari menyesap teh arab (khat) yang serupa ganja.

Baca juga:  Sejarah Singkat Ulama dalam Merespon Wabah Virus

Berjarak sekitar 3000 mil dari Adis Ababa, kota ini tidak kalah tandus dan miskin dengan kota-kota lain di Ethiopia. Namun Harar telah ada jauh sebelum Ethiopia merdeka, bahkan lahir sekitar satu milenial sebelum Adis Ababa, ibukota negara. Setelah terusan Zues dibuka oleh Napoleon Bonaparte sekira pertengahan abad ke-18, kota ini mulai dikunjungi para peziarah.

30 tahun sebelum Arthur Rimbaud tiba, Sir Richard Burton, orientalis awal, mata-mata, penerjemah pertama Seribu Satu Malam, sekligus diplomat Inggris telah sampai ke kota kecil di Afrika Timur itu dengan menyamar sebagai ilmuwan muslim. “Kopi Harar telah begitu dikenal di pasar Eropa,” tulis Burton dalam catatannya.

Tidak mengherankan jika Burton harus berkelana begitu jauh untuk merasakan kopi Harar. Dalam kepalanya, saya membayangkan, dia memiliki segudang pertanyaan: bagaimana sarjana-sarjana Muslim bisa sangat kuat begadang untuk menulis kitab? Kopi adalah teka-teki yang susah dipisahkan dari peradaban luhur Islam. Dan asalnya, tentu saja, dari Ethiopia. Dari cerita heroik abad ketujuh kuda Kaldi yang bisa berlari kencang setelah memakan biji kopi, hingga kisah-kisah para sufi, semuanya berasal dari satu kopi yang sama: Arabika yang ditanam di dataran tinggi Ethiopia.

Harar memiliki pertautan yang panjang antara Islam. Meski agama mayoritas Ethiopia adalah ortodoks, Harar menjadi pengecualian. Hingga hari ini berdiri tidak kurang dari 110 masjid berdampingan dengan 102 kuil, Harar seringkali disebut sebagai kota suci Islam keempat dan kota para wali (Madinah al-Auliya).

Baca juga:  Gerakan Umat Beriman

Dalam rekaman kitab Fath Madinat Harar, kota ini pertama kali didatangi oleh seorang sufi dari Semenanjung Arab, Abadir Umar al-Rida dan menetap di sana sekitar 1216 M. Abadir mendapat sambutan hangat dari suku Harla, Gaturi dan Argobba. Kakak Abadir, Fakhruddin, kemudian mendirikan kesultanan Mogadishu dan salah satu keturunannya mendirikan kesultanan Hadiya.

Pada Abad Pertengahan, harar menjadi bagian dari kesultanan Adal, dan menjadi ibukota pada 1520 di bawah sultan Abu Bakar bin Muhammad. Abad ke-16 merupakan zaman keemasan kota itu. Budaya berkembang, banyak penyair tinggal dan menulis di sana. Selain kopi, kota itu mulai dikenal sebagai pengrajin tenun, keranjang, dan penjilidan kitab.

Perdagangan perlahan merosot ketika Prancis membangun rel kereta Adis Ababa-Djibouti yang mengalihkan jalur dagang lebih ke utara di pegunungan Harar dan sungai Awash. Kota ini kian terpuruk setelah menjadi wilayah pertikaian dagang antara Inggris dan Prancis.

Peperangan dan kemiskinan tidak menghabiskan keseluruhan Harar. Ia tidak menjadi lagi kota tersibuk yang menghubungkan seluruh daratan Ethiopia, Afrika, Semenanjung Arab, dan Eropa. Di antara perempuan yang sibuk bergosip di pasar dan para lelaki yang mabuk teh Arab, Harar tetap menjadi rumah yang damai bagi penganut agama ortodoks dan Islam; masjid dan kuil berdampingan tanpa pernah bertikai. Manusia dan hyena hidup berdampingan. Bahkan penganut sufi dan wahabi bisa hidup akur.

Hyena telah hidup selama berabad-abad di luat tembok kota. Setiap hari dan perayaan besar Islam, para sufi akan memberi mereka daging sisa. Bahkan ketika praktik tersebut kini menjadi daya wisata, para sufi justru menjadikan hyena sebagai symbol penting dalam pengajaran mereka. Hyena kini menjadi semacam hewan peliharaan yang mempertahankan Harar dari hewan buas lainnya.

Baca juga:  Kontroversi Pemulangan Keris Pusaka Pangeran Diponegoro dari Belanda: Keris Naga Siluman atau Nagasasra?

Pada salah satu rumah yang pernah ditinggali Rimbaud, kini dijadikan sebagai museum untuk penyair yang mati muda pada umur 37 tahun tersebut. Di rumah itu terpajang lukisan wajahnya yang kasar dan foto-foto perjalanannya. Sebuah jalan di kota dinamai Charville Streen sebagai penghormatan kepada Rimbaud yang berasal dari desa pertanian Charville.

Tak jauh dari sana, sebuah rumah besar bergaya India yang penuh hiasan didirikan sebagai museum pribadi oleh Abdela Sherif. Sekeliling dindingnya bertuliskan ayat Al-Qur’an, koin-koin kuno, perhiasan, dan pakaian yang mengindikasikan kota tersebut sebagai persimpangan perdagangan orang-orang Armenia, Portugis, Arab, dan India yang membawa kopi, kapas, gading, tembakau, dan budak.

Kota ini, pada 2006 lalu, dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Tiga tahun sebelumnya, pada 2003, juga mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai kota terdamai di dunia.

Di penghujung hidupnya, ketika terbaring di rumah sakit Marseille pada November 1891, Rimbaud masih terus mengenang Harar. “Aku berharap bisa kembali dan hidup selamanya di sana.” Bahkan di masa sekaratnya, Rimbaud masih mendiktekan kepada penulisnya, “Beritahukan padaku, kapan aku bisa menaiki perahu untuk berlayar ke sana.” Hingga menghembuskan napas terakhir, dia tak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah yang memberikannya kedamaian.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top