Sedang Membaca
Menyudahi Dendam Kesumat: Kisah Muawiyah dengan Az-Zurqa binti Uday
M. Ishom el-Saha
Penulis Kolom

Dosen di Unusia, Jakarta. Menyelesaikan Alquran di Pesantren Krapyak Jogjakarta dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Menyudahi Dendam Kesumat: Kisah Muawiyah dengan Az-Zurqa binti Uday

Disebut dalam kitab Qashashul Arab juz satu karya Ibrahim Syamsuddin, bahwa ada perempuan berkebangsaan Kuffah, Iraq, dan pengikut setia Ali bin Abu Thalib yang bernama Az-Zurqa binti Uday . Dia sangat kecewa atas kekalahan Ali bin Abu Thalib dan sangat membenci Muawiyah karena dianggapnya melakukan kecurangan pasca perang Shiffin.

Setiap Az-Zurqa bertemu dengan pelaku sejarah Perang Shiffin, dia selalu mengungkit-ungkit masalah pergantian kepemimpinan dari Ali bin Abu Thalib kepada Muawiyah. Tak segan-segan perempuan asal Kuffah ini bersuara lantang untuk menyulut emosi orang-orang di sekitarnya.

Suara provokasi Az-Zurqa binti Uday digambarkan: “Jika yang mendengarkannya adalah seorang yang butek pikirannya maka dia akan langsung menghujamkan senjatanya ke lawan. Jika orang itu sebagai pengambil keputusan maka ia akan menindak lanjuti ya pangsung. Jika orang itu seorang muslim maka memilih berjihad. Jika orang itu hendak bepergian maka akan mengurungkan niatnya dan ikut ajakan Az-Zurqa.” Pada intinya perempuan ini punya pengaruh besar di kalangan pelaku sejarah Perang Shiffin.

Suatu saat, Muawiyah yang telah berhasil menduduki tampuk kepemimpinan Islam menggantikan Ali b. Abu Thalib, ia mengumpulkan tokoh-tokoh berpengaruh. Ia ingin mendapatkan masukan informasi, siapa saja yang perlu “ditangani” untuk menyudahi konflik berkepanjangan di antara ummat Islam? Seketika itu ada yang melaporkan ke Khalifah, bahwa di Kuffah ada perempuan berpengaruh bernama Az-Zurqa yang dianggap mengancam kekuasaan Muawiyah.

Baca juga:  Kisah Semar dan Syaikh Subakir di Belukar Tidar

Mendengar laporan itu, Muawiyah bertanya: “Bagaimana caranya supaya perempuan pengikut Ali itu tak bersuara dan memprovokasi orang-orang di sekitarnya?” Loyalis Muawiyah menjawab: “Sekiranya Tuan mengijinkan maka kami akan membungkam mulutnya dengan cara menghabisi nyawanya.” Mendengar masukan pengawalnya itu Muawiyah berkomentar: “Apa tidak ada cara yang lebih elegan? Apa kalian ingin namaku dicatata dalam sejarah telah membantai seorang perempuan gara-gara yang bersangkutan tak sepaham denganku? Demi Allah, saya tak akan melakukan itu!

Hingga kemudian, Muawiyah memerintahkan satu regu pasukan untuk menemui Az-Zurqa dengan maksud mengundang perempuan itu menghadap Khalifah. Utusan Muawiyah itupun berangkat ke Kuffah untuk menemui Az-Zurqa. Sesampainya di kediaman Az-Zurqa, utusan khalifah itu berkata: “Saya mendapat mandat untuk mengundang-mu, keluarga-mu dan pengikut-mu menghadap Khalifah.”

Az-Zurqa menjawab: “Kami adalah musuh Muawiyah. Apa jaminan yang kalian berikan bahwa kami akan diperlakukan dengan baik dan aman-aman saja?” Utusan Muawiyah itupun menunjukkan surat undangan resmi dari Khalifah. Setelah berunding dengan keluarga, Az-Zurqa menyanggupi dan menuruti undangan Muawiyah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sesampainya di istana Muawiyah di kota Syam, Az-Zurqa betul disambut dengan penuh kemuliaan oleh Khalifah. Muawiyah berkata: “Selamat datang bibiku! Bukankah engkau yang menaiki onta berwarna kemerah-merahan dan bersuara lantang menggelorakan orang-orang di sekitarmu sewaktu peran Shiffin?” Az-Zurqa menjawab: “Betul, dan tidak salah! Saya melakukan itu karena kehormatan sebagai anak manusia yang dilalimi.”

Baca juga:  Mungkinkah Memikirkan Peradaban Islam di Era Post Truth?

Muawiyah bertanya kembali: “Bukankah, kamu yang berkata bahwa cahaya lentera kalah pamornya dengan sinar matahari. Kemerlip bintang tak seberapa dibandingkan cahaya bulan. Keledai tak bisa mengalahkan kecepatan kuda. Pedang tak akan bisa melukai kecuali dengan menghunusnya. Bukankah kamu juga berteriak: agar orang-orang di sekitarmu waktu itu sabar dan bertahan dalam barisan mereka, karena orang berilmu berbeda dengan orang yang tak berilmu, dan demikian pula orang beriman tak sama dengan orang munafiq?” Az-Zurqa menjawab: “Benar! Karena kami cinta terhadap pimpinan kami, Ali b. Abu Thalib”

Muawiyah lalu berkata: “Ketahuilah bibiku! Aku pun bersahabat dengan Ali, dalam denyut nadi dan aliran darahnya. Karena alasan itu juga kami menyudahi peperangan, agar tidak jatuh banyak korban. Hasrat kami untuk melukai disadarkan oleh akal budi kami untuk memilih berunding dengan kemampuan akal pikiran kami. Kebetulan logika memenangkan pihak kami. Wahai bibiku! Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang apa mau-mu?”

Az-Zurqa menjawab: Aku tak berhajat kepadamu. Sebagai Khalifah, Muawiyah tak tersinggung dengan apa yang diucapkan perempuan baya di depannya itu. Dia justru berkata: “Wahai bibiku! Ketahuilah, semula para pembantuku mengusulkan kepadaku agar mengabisi nyawamu. Tapi bagiku, buat apa menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru. Aku ingin kita semua berdamai untuk menyongsong masa depan yang lebih baik lagi. Jika engkau masih belum terima, setidaknya redakan emosimu dan lembutkan suaramu!”

Baca juga:  Kota Islam yang Terlupakan (14): Merv-Turkmenistan, Kota yang Tak Pernah Bangkit Lagi

Pernyataan terakhir Muawiyah itu rupanya berhasil mengetuk hati Az-Zurqa. Logika dan hatinya tersentuh oleh pernyataan Muawiyah. Mereka pun akhirnya saling memaafkan. Sebagai bentuk penghormatan Muawiyah kepada Az-Zurqa dan pengikut Ali b. Abi Thalib di Kuffah, sang khalifah setiap tahunnya menghadiahkan 10 ribu dirham dan mengunjungi selama masa kekhalifahan Muawiyah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top