Sedang Membaca
Harapan pada Petir 
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Harapan pada Petir 

Muhamad Nur Mustakim

Mumpung sedang ramai Gundala si manusia petir, saya ingin menulis tentang petir yang bersumber dari literatur keislaman. Ya, tentang petir, gejala alam itu, yang biasanya hadir saat hujan. Jadi paham ya, tulisan ini bukan tentang Gundala dari Pondok Petir. Saya mulai dengan ayat Alquran: 

Allah Swt berfirman dalam surat ar-Ra’d ayat 12 :

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

هو الّذي يريكم البرق خوفاً وطمعاً وينشئ السحاب الثقال 

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia yang mengadakan awan tebal.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dijelaskan sebagai pemberitahuan bahwa Allahlah yang mengeluarkan kilat yang memiliki cahaya mengkilat dengan suara kuat yang keluar dari celah-celah awan mendung. 

Dari sumber yang sama, Qatadah menyatakan bahwa yang dimaksud ketakutan pada ayat ini adalah ketakutan untuk orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Ketakutan ini mengandung makna bahwa orang yang sedang berpergian akan diliputi rasa takut terkena bahaya yang dihasilkan oleh kilat tersebut. 

Sedangkan untuk harapan, Qatadah menyatakan bahwa harapan diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang tinggal di dalam rumah. Orang-orang ini mengharapkan berkah, manfaat, dan rizki dari Allah Swt melalui efek-efek yang akan muncul setelah kilatan itu hadir. 

Pada surat ar-Rum ayat 24, Allah menjelaskan lebih detail tentang al-barq

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari lanngit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.

Al-barq–yang menimbulkan ketakutan dan harapan–pada ayat ini dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir berupa suara setelah kilat yang menggelegar—ketakutan, dan hujan yang dibutuhkan setelah kilat tersebut—harapan. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dr. Muhammad Luqman as-Salafi dalam Rasy al-Barad Syarh al-Adab al-Mufrad, memaparkan bahwa ar-ra’d mengandung makna mendekati suara petir, sedangakn al-barq dan ash-showa’iq mendekati kilatan petir yang muncul sebelum suara menggelegar. 

Ketakutan yang menyelimuti manusia tatkala melihat kilatan-kilatan cahaya yang begitu cepat dan terang tentu disetujui oleh banyak pihak. Siapa yang tidak ketakutan jika melihat kilatan cahaya putih yang memiliki kecepatan 150 ribu km/detik? Tentu tak ada.

Kilatan petir beeserta suaranya yang menggelegar memang ditakuti oleh hampir semua manusia yang menyaksikannya. Bahkan Ibnu Abbas menyatakan dalam Kitab Adab al-Mufrod yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa petir adalah malaikat yang sedang membentak hujan seperti penggembala yang membentak hewan. 

Lalu apa harapan yang ditimbulkan oleh petir? 

Turunnya air hujan tentu sangat dinantikan oleh banyak orang, meskipun ada juga manusia yang menjadi kesal akibat turunnya hujan. Di daerah yang dilanda kekeringan yang panjang, hujan bisa dianggap air yang turun dari surga. 

Lalu, apakah hanya hujan, harapan yang dimaksudkan oleh Allah?

Lilik Rahmat, Peneliti (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) LAPAN di Bidang Komposisi Atmosfer menyatakan bahwa setiap sambaran petir mengandung gas nitrogen (N2) yang kemudian dihantarkan ke permukaan tanah. Gas nitrogen akan terkandung dalam tanah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial yang harus ada dan diserap oleh tanaman dalam jumlah yang besar. Tanaman menyerap gas nitrogen–yang telah terkandung di tanah–dalam bentuk ion NH4+ (ammonium) atau NO3- (nitrat). Sehingga, jika suatu daerah memiliki frekuensi petir yang tinggi, maka kandungan nitrat yang terbentuk pada tanah daerah tersebut akan semakin tinggi. Tingginya nitrat akan menyebabkan tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. 

Harapan yang dimaksud oleh Allah ternyata adalah sebuah anugerah bagi kita semua. Wallahu A’lam

Baca juga:  Panglima Santri dalam Tinjauan KBBI
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top