Sedang Membaca
Para Singa Pangung, dari Mulai Kiai Zainuddin MZ, Aa Gym hingga Gus Mus

Lahir di Subang, 22 Juli 1981. Lulusan pesantren Lirboyo dan ma'had aly Sukorejo, Situbondo. Ayah dua orang anak ini sekarang sedang menempuh pendidikan s3 di SPS UIN Jakarta.

Para Singa Pangung, dari Mulai Kiai Zainuddin MZ, Aa Gym hingga Gus Mus

Gus Mus akan Terima Yap Thiam Hien Award

“Apakah penumpang akan tertarik naik bis bila supir dan kondekturnya suka marah-marah?” Gus Mus.

Pada tahun 10 H, pasca perang Tabuk, Rasulullah saw mengutus seorang sahabatnya untuk berdakwah di Yaman. Adalah Muadz bin Jabal ditemani Abu Musa al-Asyari yang menerima tugas tersebut. Nama lengkapnya ialah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus bin ‘Aidz bin ‘Adi bin Ka’b bin Amr al Anshari, al Khazraji, biasa dipanggil Abu Abdur Rahman, salah satu sahabat besar. Ia lahir di Madinah, sehingga masuk kategori sahabat Anshar.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ia masuk Islam dalam usia muda, yakni 18 tahun dan  ikut dalam  Baiat Aqabah  II bersama-sama kaum Anshar. Rasulullah SAW memujinya sebagai orang yang paling mengerti tentang hukum, dan bahkan hafal Alquran. Dalam sebuah hadits, bahkan Rasulullah pernah menunjukkan kecintaan beliau secara langsung kepada Muadz:

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ

Artinya: “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304).

Alasan lain mengapa Muadz bin Jabal yang dipilih ialah karena selain berpenampilan menarik, Muadz bin Jabal juga merupakan seseorang yang pandai bertutur kata dan mengedepankan kesopanan dalam berbicara. Sebuah model ideal bagi pendakwah. Keputusan Rasulullah memilih Muadz tentu saja tidak salah. Dakwah Islam di Yaman berhasil dengan sangat baik.

Baca juga:  Bagaimana Respon Masyarakat Madinah Terhadap Dakwah Rasulullah Saw?

Demikian pula dengan masuknya Islam di Indonesia. Mengikuti teori yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dan sufi, kita harus mengakui kepiawaian para pendakwah awal Islam di Indonesia yang menyebarkan Islam dengan menjadikan budaya sebagai media berdakwah beliau. Dakwah yang dilakukan oleh wali songo menggunakan media kesenian, baik itu gamelan, wayang kulit, dan lain sebagainya terbukti ampuh sebagai media dakwah hingga membuahkan hasil berupa kesuksesan Islamisasi di Nusantara.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kepiawaian dakwah yang mengedepankan kesantunan bisa kita lihat juga dalam diri seorang pendakwah sukses di masa silam, yakni Kiai Zainuddin MZ. Pendakwah yang lahir di Jakarta, 2 Maret 1952 ini mengedepankan metode berdakwah dengan menyajikan kata-kata yang indah, santun dan berima yang enak didengar.

Pada masa keemasannya, beliau bahkan dijuluki sebagai “Dai Sejuta Umat” karena hamper tidak ada seorang pun muslim di Indonesia pada saat itu yang tidak pernah mendengar ceramah beliau, entah melalui media televisi, radio, atau mendengarkan kaset yang diperdengarkan di masjid-masjid.

Pasca zaman keemasan Zainuddin MZ, seiring dengan keputusan beliau yang mulai merambah ke dunia politik, muncullah pendakwah baru yakni Abdullah Gymnastiar. Gaya ceramahnya yang cenderung ke dalam perlahan mulai menarik perhatian umat. Dalam setiap kesempatan ceramahnya, pendakwah yang akrab disapa Aa Gym ini selalu mengingatkan umat agar mengintrospeksi diri, menjaga hati, memeriksa keburukan diri sendiri dan berhenti meneliti orang lain. Metode ini ternyata berhasil menyita perhatian banyak umat. Namun tiba-tiba redup. Entah kenapa..

Baca juga:  Tidak Ikut Muhammadiyah? Tidak Nahdlatul Ulama?

Pendakwah lain yang tidak kalah menyejukkannya ialah Kiai Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa sebagai Gus Mus. Sebagian besar kalangan akademisi menyebut gawa dakwah beliau sebagai gaya dakwah multikultural.

Bagi Gus Mus, semua manusia itu sama belaka, tidak ada yang berbeda-beda. Pandangan dakwah Gus Mus tentang multikulturalisme sangat mengakui serta menghormati eksistensi berbagai budaya dan agama yang berbeda. Dakwah ini merupakan dakwah untuk menciptakan kedamaian, kenyamanan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang berbeda latar belakang baik etnis, budaya,agama dan suku.

Setidaknya dakwah multikultural yang dilakukan oleh Gus Mus memiliki dua model. Pertama, pendekatan budaya sebagai solusi bagi masyarakat untuk hidup rukun dan berdampingan antar umat beragama. Kedua, pendekatan sosial sebagai upaya untuk mengatasi problem-problem kemanusian secara bersama.

Di tengah kepungan beragam pendakwah yang mengedepankan kekerasan, berkata-kata kotor di mimbar keislaman, dan beragam keburukan lainnya yang merusakkan citra Islam, tentunya kehadiran pendakwah-pendakwah muda yang mampu menghadirkan wajah Islam yang menyejukkan sangat dibutuhkan sekali.

Mengutip penjelasan Gus Mus dalam sebuah ceramahnya. Profesi pendakwah itu seumpama profesi calo bis. Seorang calo bis akan menggunakan berbagai cara untuk membuat calon penumpang tertarik pada bis yang direkomendasikan. Mereka akan bersikap sopan, mengeluarkan kata-kata rayuan, mengatakan bahwa bis rekomendasi mereka adalah bis terbaik, dan lain sebagainya. Tujuannya semata adalah agar calon penumpang tertarik dengan mereka. Dalam hal ini, tugas pendakwah ialah mengajak umat untuk masuk ke dalam ajaran agama Islam. Maka bagaimana mungkin umat akan tertarik jika cara mengajaknya saja dengan kasar, apalagi disertai dengan makian dan cacian?

Baca juga:  Buku Menjerat Gus Dur: Oligarki yang Tak Pernah Usai
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top