Penulis Kolom

Lahir 15 Agustus 1996. Pendidikan: alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Lirboyo, Kediri. Sedang menempuh S1 Jurusan Ushuluddin Univ. Al Azhar al Syarif, Kairo, Mesir. Asal Pesantren An Nur I, Bululawang, Malang, Jawa Timur.

Qiraah Sab’ah 8: Kisah Imam Ashim dan Kedua Muridnya

5a26d075 16bf 44e0 9b2e 06fc691f5066

Imam Ashim, salah satu dari tujuh pendiri qiroah sab’ah memiliki pengaruh yang sangat besar. Konon, Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi mengaji kepadanya di kota Kuffah. Qiroah imam Ashim adalah qiroah paling masyhur saat ini. mayoritas negara-negara di dunia memakai bacaan qiroah imam Ashim yang diriwayatkan oleh Hafsh, muridnya.

Memang sejarah tak mencatat secara tepat tahun kelahiran imam Ashim. Akan tetapi, imam Ashim wafat pada akhir tahun 129 H., dan dimakamkan di kota Kuffah. “Di detik-detik menjelang ajalnya,” kenang Syu’bah, muridnya “‘Ashim sempat pingsan dan  siuman berulangkali. Sesaat sebelum wafat, ia sempat membaca ayat

ثم ردوا إلى الله مولهم الحقّ ألا له الحكم وهو أسرع الحسبين (الأنعام : 62)

‘Ashim membacanya dengan jelas dan bagus seakan-akan ia membaca dalam keadaan shalat. Tajwid bacaannya telah mendarah daging dalam dirinya.”

Hafsh belajar kepada ‘Ashim bersama dengan banyak kawan yang lain, tak terkecuali Syu’bah. Namun, ia heran karena beberapa bacaan yang ia terima tidak sama dengan yang dipelajari oleh Syu’bah. “Wahai guruku, mengapa bacaan yang kudapatkan darimu berbeda dengan yang didapatkan Syu’bah?” Sang ayah sekaligus gurunya itu menjawab, “Aku membacakan kepadamu dengan bacaan yang kuperoleh dari imam Abu Abdurrohman as Sulami dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Sedangnkan kepada Syu’bah, aku memberikan bacaan yang kuperoleh dari imam Zer bin Hubaisy dari sahabat Abdullah bin Mas’ud.”

Baca juga:  Merajut Mata Rantai Al-Fadani

Hal inilah sebuah alasan mengapa qiroah imam Ashim yang diriwayatkan Hafsh dan Syu’bah memiliki perbedaan. Begitu juga yang dengan banyak murid pendiri qiroah sab’ah lainnya. Hal ini tentu dimaklumi karena banyaknya guru-guru para pendiri qiroah sab’ah. Walhasil, setiap pendiri qiroah sab’ah meriwayatkan dua carabaca ataupun lebih dari bacaan yang paling masyhur diajarkan guru-gurunya.

Nantinya, Syu’bah dan Hafsh adalah dua sumber pengajaran qiroah imam Ashim.

Dua nama ini memang menjadi murid ‘Ashim yang paling masyhur, yang masing-masing mewarisi qiraah dari guru ‘Ashim yang berbeda: Abu Bakar Syu’bah bin ‘Iyash mewarisi qiraah Zer bin Hubaisy al Asadi; Hafsh bin Sulaiman al Bazzaz mewarisi qiraah Abu ‘Abdur Rahman ‘Abdullah bin Hubaib As Sulami.

Di kemudian hari, qiraah riwayat Hafsh lebih masyhur dari pada bacaan riwayat Syu’bah. Ini disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, Syu’bah lebih menguasai ilmu hadis daripada ilmu qiraah. Berbanding terbalik dengan Hafsh yang meskipun penguasaan ilmu hadisnya lemah, ia dinilai lebih mampu dalam penguasaan ilmu qiraah.

Kedua, Hafsh adalah rabibah (anak tiri) dari ‘Ashim. Hafsh ditinggal wafat ayahnya dalam usia belia. Lalu ibunya dinikah oleh ‘Ashim. Sehingga kemungkinan Hafsh lebih banyak berinteraksi dengan ‘Ashim lebih banyak dari pada Syu’bah.

Baca juga:  Tentang Saktah dalam Al-Qur'an

Ketiga, Hafsh mempunyai murid yang lebih banyak dalam ilmu qiraah dibandingkan imam Syu’bah. Dengan banyaknya murid Hafsh dari berbagai belahan dunia semakin mudahlah qiraah Hafsh mendominasi berbagai daerah.

Keempat, sejarah mencatatbahwa di masa tua, Hafsh menghabiskan seluruh usia senjanya dengan mengajarkan Alquran. Sementara Syu’bah telah menutup pengajian Alquran di majlisnya sekitar tujuh tahun sebelum wafat. Kemudian Syu’bah menghabiskan seluruh usia senjanya dengan mengajarkan hadis.

Fakta-fakta ini masih didukung dengan beberapa fakta politik lainnya

Pertama, sejak masa dinasti Turki Ottoman Alquran riwayat Hafsh telah menjadi qiroah resmi negara. Dimana dikemudian hari, para ulama yang dikirim dinasti Turki Ottoman ke berbagai belahan dunia dibekali pengajaran Alquran riwayat Hafsh dengan baik. Dengan masa kekuasan yang mencapai berabad-abad tentu menjadi sebuah kelaziman dimana seluruh wilayah timur tengah dibawah kekuasaan dinasti Turki Ottoman memakai riwayat Hafsh sebagai patokan. Khususnya, Mekkah dan Madinah dua kota penting umat Islam yang juga memberikan sumbangsih tersebarnya qiroah Ashim yang diriwayatkan Hafsh kepada para jamaah hajj dari berbagai negara.

Alasan inilah yang paling unggul mengapa Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara memakai qiroah Hafsh. Karena kita telah mengetahui bahwa syekh Subakir, ulama pertama yang berdakwah di negara tercinta kita ini adalah utusan dinasti Turki Ottoman yang tentunya juga dibekali dengan pengajaran qiroah imam Ashim yang riwayatkan Hafsh.

Baca juga:  Tulisan Tangan Al-Qur'an, Perempuan, dan Umar Bin Khattab

Kedua, percetakan Alquran di era modern khususnya percetakan pertama yang dilakukan di Berlin, Jerman pada tahun 1106 H juga dicetak dengan qiroah imam Ashim yang diriwayatkan oleh Hafsh.

Tentunya, dengan adanya fakta ini semua kita akan memaklumi mengapa qiroah Ashim yang diriwayatkan Hafsh menjadi sangat terkenal. Akan tetapi, harum semerbaknya riwayat Hafsh tidak menjadikan kita melihat sebelah mata kepada beberapa qiroah tujuh lainnya. Karena kita tentu meyakini seluruhnya bersumber dari bacaan Rasulullah Saw.

Refrensi :

Kitab Ghoyatun Nihayah juz satu karya Muhammad Ibnu Jazari

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top