Sedang Membaca
Ketika Ibnu Mubarak Mencari Sosok Wali

Mahasantri Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo dan Pengajar di PP. Salafiyah Dawuhan.

Ketika Ibnu Mubarak Mencari Sosok Wali

E7hwvhtuyamecfl

Ibnu Mubarak salah seorang ulama dari Khurasan, beliau termasuk tabi’ tabi’in, aktivitasnya setiap tahun melaksanakan haji dan berjihad. Suatu ketika, Baghdad dilanda kekeringan dan Ibnu Mubarak ikut hadir untuk melaksanakan sholat istisqa’ bersama masyarakat sekitar sebagaimana anjuran syari’at islam. Di tempat diselenggarakannya sholat istisqa’, ada seorang budak yang dekil lagi kurus berdekatakan dengan Ibnu Mubarak.

Kemudian budak tersebut bermunjat kepada Tuhan, kelembutan suaranya mau tidak mau didengar oleh Ibnu Mubarak. Sebagaimana diceritakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Umar Al-Syathiri dalam kitab Syarah Yaqutu Al-Nafis [187].

Artinya, “Ya Allah, sungguh hamba-hamba mu keluar rumah untuk menemuimu dalam keadaan sholat meminta hujan yang lebat dari-Mu. Ya Allah, demi citamu pada-ku berilah mereka hujan sekarang sekarang sekarang!”

Tatkala do’a tersebut sudah disenandungkan maka tiba-tiba awan tebal-pun berdatangan membawa hujan lalu menumpahkan ke bumi, tetes demi tetes membuat masyarakat bahagia. Sementara itu, Ibnu Mubarak tertegun dan terus memperhatikan orang yang berdoa tadi. Akhirnya, ia berkesimpulan bahwa orang yang berdo’a itu merupakan hamba Allah yang bertakwa dan lagi saleh. Rasa penasaran terus mengintai Ibnu Mubarak, membuat dirinya bertanya-tanya.

Oleh karena itu, disaat orang yang berdo’a pulang, Ibnu Mubarak mengintainya, mengikuti dari belakang secara diam-diam agar tidak ketahuan. Setelah sampai di rumah salah satu juragan, orang tersebut masuk kedalamnya. Ibnu Mubarak-pun tahu bahwa orang itu adalah budak maka ada keinginan untuk membelinya lalu akan dibebaskan. Namun, hari itu ia tidak membawa uang sehingga berkometmen akan kembali besok dan menemui juragan yang memiliki budak tersebut.

Baca juga:  Bisyr dan Kisah Mistik di Balik Kaki Telanjangnya

Keesokan harinya, sebagaimana komitmen kemaren, Ibnu Mubarak menemui sang juragan dan menayakan seorang budak untuk dibeli. Kebetulan sang juragan memiliki empat puluh budak, maka satu persatu budak tersebut ditawarkan kepada Ibnu Mubarak. Tapi sayangnya, budak-budak yang ditawarkan oleh sang juragan bukanlah budak yang diinginkan Ibnu Mubarak. Karena Ibnu Mubarak hanya mencari sosok yang kemarin diikuti selepas sholat istisqa’. Sementara sang juragan sudah merasa putus asa sebab Ibnu Mubarak belum juga memilih salah satu budak-budak  yang ditawarkan, padahal budak-budak tersebut budak terbaik nan bagus, ototnya kuat-kuat dan layak untuk dibuat buruh dll.

Ibnu Mubarak akhirnya bertanya kepada si juragan, apakah masih ada sisa budak yang belum ditawarkan kepadanya. Sang juragan-pun menjawabnya dan mengatakan bahwa tinggal satu budak lagi namun ia sudah tua lagi kurus tidak layak untuk diperjual balikan. Tidak ada yang dapat diambil manfaat darinya kecuali akan menambah beban hidup saja. Oleh sebab itu, ia tidak ditawarkan dan diperlihatkan kepada-Mu.

Namun Ibnu Mubarak justru tertarik untuk melihat budak yang sudah tua sesuai dengan kriteria pria kemaren yang bermunajat kepada Tuhan. setela itu, Ibnu Mubarak membeli budak yang sudah tua tersebut dengan harga yang murah. Setelah terjadi transaksi lalu dibawa pulang, di tengah perjalanan Ibnu Mubarak mengatakan kepada budak tersebut, “sekarang aku adalah budak dan engkau adalah tuan”. Budak itupun kaget, dan bertanya-tanya, “gerangan apa yang telah mendorongmu untuk mengatakan demikian, wahai tuan-ku (ibnu Mubarak)?” pungkas sang budak kepada Ibnu Mubarak.

Baca juga:  Kisah Sufi Unik (40): Khair An-Nassaj, Budak si Penenun yang Memiliki Derajat Tinggi

Kemudian Ibnu Mubarak mengaku, dengan apa yang telah ia dengar darinya kemaren waktu sholat istisqa’. Mendengar penjelasan Ibnu Mubarak sang budak terdiam, ia hanya meminta kepada Ibnu Mubarak agar memperkenankan dirinya melaksanakan sholat dua raka’at yang direspon baik oleh Ibnu Mubarak. Keduanya, Ibnu Mubarak dan Budak bersama-sama masuk masjid, budak tersebut lalu mendirikan sholat. Sementara Ibnu Mubarak menjaganya dari belakang.

Setelah selesai melaksanakan sholat, budak itu mengadahkan tangannya sembari berdo’a kepada Tuhan yang Maha menghidukan dan mematikan.

يا رب ان السرالذى  بيني و بينك قد انكشفو فاقبضني اليك

“Wahai Tuhan-Ku, sesungguhnya rahasia (kewalian) diantara kita telah terbongkar maka cabutlah nyawaku menujumu”

Tatkala do’a sudah dipanjatkan oleh sang budak, lalu ia mengucapkan dua syahadat dan berbaring menghadap kiblat. Ketika itulah sang budak kembali menghadap Tuhan, tuan yang sejati. [Muhammad bin Umar Al-Syathiri, Syarah Yaqutu Al-Nafis:187]

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top