Sedang Membaca
Siapa Berani Jadi Petani?
Mohammad Rifki
Penulis Kolom

Mohammad Rifki, lahir di Sumenep 23 November 1991. Sempat nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kini tinggal di Sumenep Madura.

Siapa Berani Jadi Petani?

Di desa saya, sebagian besar generasi yang usianya sepantaran sudah tidak ada lagi yang  berkecimpung dalam urusan pertanian. Mereka lebih memilih pekerjaan sebagai karyawan kantoran, tenaga hononer, dan pekerjaan ‘aman’ lainnya.

Aman di sini maksudnya dunia kerja yang dapat menjauhkan diri mereka dari kotornya kubangan lumpur, terik matahari, dan dinginnya musim penghujan. Tidak sedikit pula yang mengadu nasib di kota-kota besar bahkan sampai luar negeri. Karena mereka tak melihat masa depan yang cerah pada sawah atau ladang yang terhampar luas nan subur.

“Lebih baik punya penghasilan tetap, walau sedikit. Daripada bertani, biaya mahal, tenaga terkuras, dan belum tentu hasil panen yang didapat untung. Sepertinya bertani masa sekarang banyak buntungnya,” kata seorang teman saya.

Kondisi demikian tampaknya juga didorong oleh orientasi para orangtua dalam menyekolahkan putra-putrinya. Bukan untuk menambah wawasan pengetahuan dan menghilangkan kebodohan melainkan untuk kehidupan masa depan putra-putri, supaya hidup ‘layak’. Anggapan sebagian besar mereka; untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hidupnya sama dengan kita, menjadi petani. Karena itu, pemuda desa saya yang “sukses” (dalam artian tidak jadi petani) ada rasa kebanggaan tersendiri bagi orangtua.

Sepinya minat kaum muda terhadap dunia pertanian tampaknya juga terjadi di pelbagai daerah. Dalam kasus di desa saya, absennya pemuda dalam sektor pertanian memiliki dampak sosiologis yang berujung pada renggangnya interaksi antarwarga. Sikap individualistik yang tak memiliki empati akan nasib orang lain semakin mengemuka. Kini, denyut kehidupan masyarakat amat kering karena telah terjebak dalam virus kalenderisme; bekerja harus seefisien mungkin dan terarah. Tak heran bila di desa sudah tidak ada yang namanya pertolongan gratis.

Baca juga:  Ragu Badan (Body Doubt): Bagaimana Akidah Islam Menghadapi Virus Korona?

Merujuk pada kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), pada kisaran 2016, sebanyak 63 persen anak petani padi dan 54 persen anak petani holtikultura bertekad tak ingin menjadi petani. Selain itu, bagaimana pandangan orangtua terhadap peran pemuda dalam konteks regenerasi pada sektor pertanian? Jawaban pun tak menggembirakan. Karena, dari 50 persen petani padi dan 73 persen petani holtikultura tak menginginkan anak-anaknya menjadi petani (tempo.co).

Menurunya, generasi muda yang terlibat pada sektor pertanian tentu tidak lahir dari ruang kosong, ada sekian sabab-musabab yang melatar belakanginya. Pertama, sempurnanya sistem pendidikan yang telah memisahkan  para peserta diddik dari lingkungan kehidupan mereka. Hampir tidak ada sekolah yang mendorong peserta didiknya untuk merasakan denyut kehidupan  kaum tani, apalagi berpikir untuk kesejahteraan mereka. Citra negatif selalu ditanamkan di lingkungan “angka-angka” ini terhadap petani. Terbukti, apa yang dikeluhkan Presiden Joko Widodo terhadap mahasiswa pertanian yang alergi untuk terlibat di sektor pertanian adalah bukti nyata.

Kedua, hal ini sudah jamak diketahui tapi tak pernah disadari oleh penguasah, adalah massifnya alih fungsi lahan pertanian. Baik untuk jalan tol, perkantoran, tempat rekreasi dan lain semacamnya. Celakanya, proses pembangunan yang massif ini tak memiliki dampak yang signifikan bagi petani. Tentu masih banyak lagi latar yang menjadi sebab tak terpesonanya kaum muda pada dunia pertanian.

Baca juga:  Keluarga, Benteng Utama Menolak Radikalisme

Namun yang pasti, bila minimnya kaum muda yang terlibat dalam sektor pertanian ini dibiarkan juga akan berdampak pada kedaulatan pangan. Di sini terlebih dahulu harus diurai dan dipisahkan antara kedaulatan pangan dan ketahanan pangan, karena dua konsepsi ini, memiliki tujuan dan struktur dasar berbeda. Dalam konsepsi ketahanan pangan yang perlu dipikirkan ialah ketersediaan pangan.

Dari mana ketersediaan pangan itu berasal, bagaimana mikanismenya, siapa yang memproduksinya, sama sekali tidak menjadi persoalan. Yang terpenting ialah ketersediaan dan cukupnya pangan bagi konsumsi masyarakat yang membutuhkan. Tak pedulih ketersediaan pangan itu harus impor, yang berdampak pada melemahnya daya tawar hasil produksi petani dalam negeri.

Sedangkan kedaulatan pangan merupakan konsepsi sebaliknya. Dalam hal ini yang menjadi titik tekan bukan hanya ketersediaan pangan melainkan kemandirian suatu wilayah, untuk melakukan langkah-langkah kreatif, inovatif, dan visioner dalam memenuhi kebutuhan warga negaranya terhadap pangan. Konsepsi demikian sudah barang tentu akan berpihak kepada petani dan memiliki dampak terciptanya suatu regulasi yang komprehensif pada sektor pertanian.

Di samping itu, untuk menggerek kaum muda ke sektor pertanian perlu kirananya meletakkan profesi tani di atas pijakan teologis. Mengingat, apa pun di negeri kita ini bila suatu hal dibungkus dengan yang berbau keyakinan efeknya luar biasa. Seperti kata WS Rendra bahwa keyakinan keagamaan masyarakat kita seperti daun kering; begitu mudahnya disulut api.

Baca juga:  Ketika Ulil Abshar Abdalla Kopdar Ngaji Ihya

Mencari penghasilan untuk anak-istri atau bekal ibadah, termasuk dalam hal ini bertani, merupakan pekerjaan mulian. Ada banyak teks-teks keagamaan yang mengisyaratkan akan hal ini. Tidak heran bila ulama sekelas Hadratus Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari menaruh perhatian pada dunia tani.

Dalam majalah Soeara Moeslim No 2 tahun ke 2 19 Muharram 1363 atau 14 Jauari 1944, menguraikan bagaimana pentingnya kedudukan petani dalam suatu negara. Dalam tulis itu dengan mengutip tulisan Muntaha dalaam kitab Amalil Khutaba, Kiai Hasyim menulis;

Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean menghendakinja dan di waktoe orang pentjaci-tjaci pertolongan. Pa’ tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktoeja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada Negeri; dan Pa’ tani itoe djoega mendjadi sendi tempat Negeri didasarkan.

Kiai Hasyim juga mengutip hadis riwayat Al-Bukhari, “Tidak ada seorang Muslim menanam tanaman atau mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang lainnya, melainkan dihitung sedekah (bagi yang menanamnya)”.

Ala kulli hal, betapa mulianya menjadi petani. Namun sayang, penguasa negeri ini tak menyadarinya dan kaum mudanya tak sudi bergelut di dalamnya. Adakah yang berani berjihad bersama Pak Tani? Wallahu ‘alam

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top