Sedang Membaca
Wahai Papua, Kami Mencintaimu dengan Cara Istimewa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Wahai Papua, Kami Mencintaimu dengan Cara Istimewa

Mohammad Fathi Royyani

Ketika menyebut kata Papua, mungkin ada sebagian orang yang terlintas di benaknya sebagai tempat yang sangat jauh dan tidak atau belum berinteraksi dengan orang lain dalam rentang waktu yang lama. Memang secara geografis Pulau Papua sangat jauh dari kepulauan lain yang ada di Nusantara. Tetapi belum berinteraksi dengan etnis yang lain adalah salah besar.  

Erick Wolf dalam salah satu artikel yang Europe and People Without History mengingatkan kita bahwa masyarakat terpencil di hutan Amazon sudah berinteraksi dengan masyarakat lain dalam rentang waktu yang lama, ratusan tahun. Tidak hanya itu, mereka merawat jejak interaksi dalam berbagai bentuknya, ada peninggalan sejarah, nyanyian, ritual, dan lain sebagainya. Semuanya menunjukkan ikatan sejarah yang kuat dan runut. Justru yang tidak memiliki sejarah adalah masyarakat Eropa, dan mungkin Amerika sekarang ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jejak interaksi antara orang-orang Papua dengan suku bangsa lain banyak tercecer. Cerita Mbah Maimun Zubeir (Allahummarham) yang mengatakan bahwa kata Irian (sebelum nama Papua sekarang ini) berasal dari kata bahasa Arab. Cerita Mbah Maimun serupa dengan kisah Gus Dur ketika mengubah nama nama Irian menjadi Papua.

Cerita tersebut oleh sebagian orang dianggap sebagai karangan yang mengada-ada tanpa ada kebenaran di dalamnya. Padahal, jika kita merujuk pada Erick Wolf, kuat dugaan orang Papua sudah berinteraksi dengan suku bangsa lain sudah sangat lama, sama seperti orang Amzon yang diceritakan Erick dan juga suku-suku lainnya yang ada di Indonesia.

Dan memang bila kita menelisik sejarah teka-teki berupa jejak sejarah akan berceceran. Saya ambil contoh kota Sorong misalnya, sebagian orang atau salah satu versi beranggapan bahwa kata Sorong berasal dari salah satu perusahaan minyak Belanda.

Seismic Ondersub Oil Niew Guinea, yang disingkat menjadi Sorong. Demikian nama perusahaan yang mengekspoitasi minyak di Sorong dan dianggap sebagai cikal bakal lahirnya kota Sorong. Pendapat tersebut tidak disepakati oleh yang lain, menurut versi lain, kata Sorong berasal dari bahasa Biak yang berarti laut dalam. Sejarahnya pun menunjukkan bahwa ketika Belanda hendak eksplorasi minyak, di wilayah ini sudah ada orang Biak dan daerah lainnya yang telah menetap. 

Bahkan, jauh sebelum itu, menurut Koentjaraningrat Kota Sorong pernah dihuni oleh manusia sejak zaman neolithikum. Artinya, jauh sebelum Belanda di Sorong sudah ada manusia yang menetap dan membangun pemukiman. Pada masa Majapahit pun, disebutkan bahwa Papua adalah bagian dari teritorinya. Ketika kerajaan Maluku masih berjaya, Sorong dan Papua merupakan bagian dari daerah kekuasaannya. Kerajaan Ternate dan Tidore mengirimkan utusan untuk mengatur dan menggali sumberdaya yang ada di Papua. Penamaan Raja Ampat, salah satu tempat terindah di dunia yang ada di Sorong merujuk konsep empat raja yang ada di Maluku.

Orang-orang Papua jelas memiliki sejarah interaksi dan masa lalu yang panjang. Kemungkinan karena alamnya yang indah dan menawarkan hasil bumi yang mentereng, sudah banyak orang datang ke Papua untuk tujuan ekonomi, jauh sebelum era kolonial.

Hasil bumi seperti ikan, rempah-rempah, dan lain sebagainya yang menjadi andalan kerajaan Maluku sebagian diperoleh dari bumi Papua. Seiring dengan perkembangan zaman, makin banyak orang yang datang dan menetap di Papua. Sebagian kota-kota pesisir Papua dihuni oleh ‘peranakan’ antara orang Papua dengan orang di luarnya.

Namun, sejarah Papua belum banyak dikaji, terutama dari aspek kesejarahan yang berdasarkan catatan-catatan literature klasik, terutama sebelum kolonial. Dengan berbagai fakta di atas, maka pertanyaan yang muncul apakah satu tindakan kebetulan jika seorang geolog muda kebangsaan Belanda, Jean Jacques Dozy, pada 1936 bersama rombongan kecil mengembara Papua?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Walaupun alasan yang mengemuka adalah untuk mendaki gletser Cartensz yang ditemukan Jan Cartenszoon pada 1623 saat menjelajah Papua. Sebagaimana penjelajah lainnya, seperti Columbus yang mencari sumberdaya alam berdasarkan peta yang dibuat oleh Al-Idrisi, seorang pelaut muslim. Maka kuat dugaan, baik Cartenszoon maupun Dozy sudah membaca laporan-laporan para pelaut sebelumnya yang menceritakan kondisi alam Papua, yang sangat menawan.

Di antara kemenawanannya Papua bisa dilihat dari keanekaragaman hayati yang ada di bumi Papua. Dari perspektif keanekaragaman hayati, bumi Papua adalah bagian besar dari misteri alam yang memiliki daya tarik tersendiri bagi ilmuwan, untuk menjelajah dan mengungkap jenis-jenis yang ada di dalamnya. Selain jenis baru, baik flora dan fauna, keanekaragaman hayati yang ada di papua juga sangat menawan. Tidak itu saja, ekosistem yang mendukung kehidupan flora-fauna bervariasi. Pulau Gondwana ini dihuni oleh ragam species endemik yang menarik secara ilmu pengetahuan dan eksotik dalam penampilan. 

Baca juga:  Belajar Toleransi dari Gusdurian
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top