Sedang Membaca
Mencari Keabadian: Kisah-Kisah Purba dari Banyak Peradaban
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mencari Keabadian: Kisah-Kisah Purba dari Banyak Peradaban

Mohammad Fathi Royyani

Salah satu hasrat manusia adalah ingin hidup abadi. Manusia ingin hidup selamanya dengan segala kenikmatannya, tentu ini bagi orang-orang yang hidupnya dipenuhi oleh kenikmatan. Cerita pencarian keabadian ditemui pada kawasan-kawasan yang memiliki peradaban tinggi.

Dari negeri Babilonia, ada cerita Gilgamesh, seorang raja yang semula zalim tetapi kemudian berubah menjadi bijaksana. Kisah Gilgames tertuang dalam naskah klasik yang sampai kini diyakini sebagai naskah tertua di dunia, Epic of Gilgamesh.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Naskah yang ditulis layaknya puisi ini menurut ahli ditulis dalam rentang waktu lama, 1000 tahun, oleh banyak penulis. Menurut cerita, Gilgamesh adalah salah seorang raja Bailonia yang memerintah 2.700 SM. Letak kerajaan di sepanjang Sungai Eufrat, Irak sekarang ini.

Epik of Gilgamesh itu sendiri berisi banyak kisah-kisah di dalamnya, tetapi yang paling terkenal adalah perjalanannya mencari obat untuk hidup abadi. Untuk mendapatkan obat tersebut, Gilgamesh harus menghadapi berbagai rintangan yang berat. Ia masuk dalam salah satu tempat yang paling berbahaya, biasanya diinterpretasikan sebagai neraka, bertemu dengan berbagai binatang buas, dan berbagai macam rintangan lainnya. 

Pencarian tersebut gagal, Gilgamesh tidak mendapatkan obat untuk keabadian, tetapi perjalanan memberikan pelajaran yang sangat berarti sehingga mengubah hidupnya. Dari raja yang kejam menjadi raja yang bijak.

Pencarian obat untuk hidup abadi juga ditemui pada sejarah China. Disebutkan bahwa salah satu kaisar yang paling legendaris dari China, Qin Shi. Kaisar ini dikenal sebagai kaisar yang menyatukan China yang makamnya dijaga oleh pasukan terakota. Ketika hidupnya, ia memprediksi kekaisarnnya akan bertahan 10.000 generasi dan ia berambisi untuk menyaksikannya. Untuk itu, ia ingin hidup abadi. 

Kisah kaisar Qin Shi ini dikethui berdasarkan naskah kuno berusia 2.000 tahun. Naskah kuno ini ditemukan pada sebuah sumur tua di Provinsi Hunan pada tahun 2012. Dalam naskah, terdapat perintah dari Kaisar Qin Shi untuk mencari ramuan keabadian ke seluruh pelosok negeri dengan berbagai cara. Pencarian ini tidak berhasil. Kaisar meninggal pada usia 49 tahun. 

Orang-orang Islam pun memiliki kisah yang serupa. Di kitab suci Alquran diisyaratkan adanya kisah yang kurang lebih sama. Kisah dalam Alquran kemudian ditegaskan melalui hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ali.

Dalam kisah tersebut dituturkan mengenai perjalanan seorang raja yang bernama Zulkarnain dan ditemani oleh panglimanya. Raja Zulkarnain melakukan perjalanan untuk mencari air keabadian (yang dikenal dengan Ainul Hayat). Dalam mitosnya, siapa orang yang bisa meminum air keabadian walaupun satu tegukan maka hidupnya akan abadi.

Kisah perjalanan Zulkarnain dalam mencari Ainul Hayat ini dilakukan selama 12 tahun, dengan berbagai kejadian-kejadian yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia. Dalam kisah disebutkan bahwa Zulkarnain melewati sungai yang penuh dengan batu mulia berharga. Tidak semua orang mendapatkannya.

Yang paling terkenal dari kisah Zulkarnain ini adalah mengenai Nabi Khidir, seorang Nabi yang hidup ‘abadi’ karena berhasil meminum air keabadian. Dalam kisah dituturkan bahwa setelah sekian tahun berjalan melintasi berbagai medan yang berat, Zulkarnain dan pasukan akhirnya tiba pada satu gua yang sangat gelap dan diyakini sebagai letak dari air kehidupan. Zulkarnain pun masuk ke gua tersebut dengan ditemani panglimanya, Nabi Khidir. Di gua, Nabi Khidir menerima bisikan bahwa letak dari air keabadian ada di sebelah kanan gua. Mendengar hal tersebut, Nabi Khidir berjalan ke arah yang dimaksud. Ia pun berhasil menemui air keabadian, mandi dan meminumnya. Sedangkan Zulkarnain tidak menemui sumber air, ia pun balik arah ke luar gua.

Nabi Khidir ini adalah salah satu Nabi yang terkenal dalam dunia sufi. Beliau menjumpai para sufi dan wali. Dapat dikatakan bahwa Nabi Khidir adalah guru spiritual bagi para sufi. Hampir semua ulama, sufi, dan wali memiliki cerita bertemu dengan Nabi Khidir, dengan berbagai macam rupa dan situasi.

Masyarakat Nusantara pun memiliki kisah yang serupa. Banyak yang mengasumsikan kisah ini adalah adaptasi dari kisah Mahabarata yang diselipkan ajaran-ajaran Islam. Tetapi ada juga yang percaya bahwa sejatinya kisah ini jauh lebih tua dari versi India. Terlepas dari pendapat tersebut, di dalam salah satu cerita wayang terdapat lakon Dewaruci, yakni kisah mengenai Bima mencari Tirta Pawitra.

Dikisahkan pada suatu hari, Bima mendapatkan perintah dari gurunya untuk mencari Tirta Pawitra. Air tersebut terletak di dasar Samudera. Bima pun menuruti dengan taat. Tanpa protes. Selama perjalanan, Bima menjumpai banyak kejadian-kejadian yang aneh. Adakalanya Bima harus melawan seekor naga yang sangat besar. Bima berhasil mengalahkannya. Setelah sekian lama dan berbagai hal dijumpai, Bima bertemu dengan Dewaruci yang tak lain adalah sosoknya sendiri, tetapi lebih kecil. Banyak kalangan menafsirkan hal tersebut sebagai gambaran hakekat diri.

Cerita Bima Mencari Pawitra, dianggap sebagai gambaran lelaku para salik atau jalan menuju Tuhan. Orang tersebut harus bisa mengendalikan nafsunya, hidup dalam kesengsaraan sebagai bagian dari penempaan batin, hati harus suci dari berbagai prasangka, dan lain sebagainya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama akhir abad 17 yang berasal dari dusun Cebolek, Pati memasukkan serat Dewaruci atau kisah Bima Mencari Tirta Pawitra sebagai bagian dari ajaran-ajaran spiritualitas atau batiniah bagi para murid-muridnya. Tentunya, kejadian-kejadian yang dialami oleh Bima selama dalam perjalanan ditafsirkan dengan laku sufistik.

Empat kisah yang memiliki plor cerita serupa ini dapat dikatakan mewakili watak peradabannya. Peradaban yang dhohir dan peradaban batin. Dua kisah pertama (Gilgamesh dan Qin Shi) adalah watak yang lebih dhohir/material siafatnya. Generasi setelah mereka “tidak” mengambil perjalanan dapat mencari air keabadian untuk memperbaiki kualitas diri, tetapi masih terinspirasi dan terobsesi untuk terus mencari obat penawar kegalauan paling akut pada manusia, mati.

Gilgamesh mewakili watak Barat (tentu setelah proses transformasi yang lama) yang sampai sekarang masih terus mencari obat-obatan untuk menyembuhkan manusia. Dengan kesembuhan maka ras manusia akan terus ada di bumi. Tak kalah dengan watak barat adalah watak China. Masyarakat China pun terinspirasi oleh kaisarnya untuk terus mencari dan meningkatkan cara dalam menemukan obat keabadian bagi manusia. China selain terkenal dengan pengobatan tradisionalnya juga berhasil mengembangkan teknologi maju, baik untuk kesehatan maupun tujuan lainnya.

Berbeda dengan dua watak pertama adalah watak yang diwakili oleh dua kisah setelahnya (kisah Zulkarnain dan kisah Bima). Dua kisah ini diinterpretasi oleh pembacanya sebagai laku spiritual yang sifatnya batiniah. Dari pembacaan yang demikian maka tak heran jika yang muncul bukanlah perkembangan teknologi yang dikembangkan sesuai zamannya, tetapi kedalaman olah batin. 

Orang-orang Islam menggunakan kisah Zulkarnain sebagai inspirasi menempa batin dan gambaran-gambaran yang akan dijumpai ketika batin makin ditempa. Demikian juga dengan orang Nusantara, mereka menggunakan kisah Bima mencari Tirta Pawitra sebagai olah batin dalam menemukan hakekat dirinya.

Maka tak usah heran jika peradaban Barat dan China demikian maju secara dhohiriah melalui temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju dan tak ternalar oleh kita, sedangkankan peradaban Islam dan Nusantara perdebatannya masih berkisar hukum mengejar layangan, bid’ah, dan lain sebagainya. Walaupun demikian, baik penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh Barat dan China, serta perdebatan diantara kita keduanya tidak ada yang abadi.

Baca juga:  Alquran dan Keanekaragaman Hayati
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top