Sedang Membaca
Alquran: Lalaban dan Bumbu Dapur

Alquran: Lalaban dan Bumbu Dapur

Mohammad Fathi Royyani

Masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Sunda sangat menggemari lalapan sebagai lauk makanan. Lalapan adalah sayuran yang dimakan mentah maupun matang dan dicocol sambal. Bagi orang sunda, makan terasa kurang lengkap tanpa ada lalapan. Ada banyak macam tumbuhan yang bisa dimakan sebagai lalapan, diantaranya adalah mentimun.

Lalu, apa kaitan antara lapapan dengan Alquran? Ternyata, salah satu bahan untuk lalapan disebut dalam Alquran. Dalam surah al-Baqaroh ayat 61 yang terjemahannya adalah:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya’. Musa berkata: ‘Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta’. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”

Ayat ini menyebut sayur mayur baql, qitha, basal. Farooqi mengartikal baql dengan sayuran yang umum ditanam di Arab. Qitha atau mentimun (Cucurbitaceae) dan basal (bawang) pun saat itu umum ditanam sebagai salah satu hasil pertanian. Tumbuhan-tumbuhan yang disebut di ayat tersebut tidak hanya umum ditanam di Arab, melainkan juga di Indonesia. Masyarakat Asia dan Afrika umum memakan bawang dan mentimun.

Baca Juga

Baca juga:  Mengorupsi Agama

Baca juga:

Bahkan untuk masyarakat Indonesia, ketimun atau mentimun yang biasa dimakan sebagai lalapan adalah jenis-jenis introdusir. Walaupun di alam Indonesia pun ada berbagai macam jenis mentimun.

Lihat Komentar (1)
  • Mengapa setelah Bani Israil meminta macam-macam lalapan itu malah dibalas Nabi Musa dengan jawaban ‘Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?’? Terbacanya seakan salah Bani Israil meminta itu semua? Apakah maksid ayat ini kok sampai itu jawabnya, ya?

Komentari

Scroll To Top